Selasa, 5 Mei 2026

Bernadus Nuel Sebut AMDAL Pabrik Semen di Luwuk Belum Jelas

WAKIL Ketua 1 DPRD Manggarai Timur, Bernadus Nuel, SH enggan menanggapi rencana pembangunan di Luwuk Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Wakil Ketua 1 DPRD Matim, Bernadus Nuel, SH 

POS-KUPANG.COM - WAKIL Ketua 1 DPRD Manggarai Timur, Bernadus Nuel, SH enggan menanggapi rencana pembangunan  di Luwuk Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda. Ia beralasan AMDAL pabrik semen belum jelas.

"Secara pribadi saya belum bisa tanggapin kalau AMDALnya belum jelas izinnya. Kalau AMDALnya manakala merugikan masyarakat, kami masuk, kami melindungi, menjaga masyarakat jangan sampai dibohong atau ditipu oleh perusahaan," kata Bernadus di Borong, Senin (29/6/2020).

Sebaliknya, apabila AMDALnya bagus dan tidak merugikan masyarakat serta lingkungan maka Bernadus setuju dengan kehadiran pabrik semen.

Mahasiswa Tolak Pabrik Semen Luwuk, Pemprov Kaji Dampak Investasi

"Kalau AMDALnya bagus, secara pribadi saya ikut pernyataan masyarakat itu ya...Saya setuju-setuju saja, ikutin pernyataan masyarakat, apalagi masyarakat setuju untuk tanah mereka dijual. Saya tidak punya hak juga untuk melarang mereka," ucapnya.

Menurut Bernadus, jika AMDALnya bagus tentu hadirnya perusahan itu sangat menguntungkan masyarakat. Dimana sesuai penyampaian Gubernur NTT bisa memperoleh PAD Rp 80 miliar.

Angka Stunting 20 Desa di TTU Masih Berada Diatas 50 Persen

"PADnya cukup besar, luar biasa, bisa Manggarai Timur dalam tempo 5 tahun, infrastruktur jalan, jembatan itu pasti beres. Dengan demikian ekonomi masyarakat juga pasti maju," ujarnya.

"Itu baru PAD, belum lagi dengan hadirnya pabrik semen itu tentu akan hadir rumah makan, restoran, kios, penginapan dan lain sebagainya tentu akan bisa mencapai PAD ratusan miliar rupiah pertahun," tambahnya.

Bernadus mengatakan ia bersama anggota DPRD lainnya sudah turun ke lokasi dan bertemu langsung dengan masyarakat pemilik tanah. Jawaban masyarakat adalah tanah itu milik mereka dan mau jual.

"Kemarin juga dengan Pak Gubernur turun langsung ke lokasi untuk bertemu masyarakat dan pernyataan masyarakat di bawah yang sama. Mereka mengatakan bahwa ini tanah, tanah kami (masyarakat pemilik), bukan tanahnya siapa-siapa. Ini tanah pribadi kami yang kami mau jual," kata Bernadus.

Menurut Bernadus, masyarakat juga menyampaikan bahwa sejak dulu mereka hidup menderita. Tidak ada pihak siapapun yang memperhatikan penderitaan mereka.

"Kami selama ini sejak jaman Nabi Adam, tidak ada yang urusin kami. Tidak ada yang repot dengan kami. Giliran kami mau jual tanah pribadi, kok pada repotin, pada ribut," ujar Bernadus mengulangi pernyataan warga. (rob)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved