Breaking News:

Salam Pos Kupang

Urgensi Perilaku Normal Baru

NEW normal atau normal baru telah dimulai Senin 15 Juni 2020. Jauh sebelum new normal diterapkan, pemerintah sudah mewanti-wanti

Urgensi Perilaku Normal Baru
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - NEW normal atau normal baru telah dimulai Senin 15 Juni 2020. Jauh sebelum new normal diterapkan, pemerintah sudah mewanti-wanti agar tidak hilang kewaspadaan terhadap Pandemi Covid-19.

Karena itulah, sosialisasi massif dilakukan agar seluruh masyarakat tidak abai pada protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini urgen mengingat grafik akumulasi jumlah pasien positif virus corona di Indonesia terus naik.

Hingga Selasa 16 Juni 2020 pukul 12.00 WIB, misalnya jumlah positif Corona mencapai 40.400 orang. Angka ini bertambah 1.106 orang dibanding sehari sebelumnya. Sementara terjadi 33 kasus kematian lagi sehingga total Pandemi Corona telah merenggut 2.231 jiwa.

Warga Desa Poto Rindukan Listrik

Dalam konteks NTT, kita patut bersyukur karena tidak ada penambahan kasus dalam beberapa hari terakhir ini. Hasil pemeriksaan 94 sampel swab di Laboratorium Biomolekuler RSUD Prof W Z Johannes Kupang Selasa, mislanya semuanya negatif.

Sampel berasal dari Manggarai Barat, Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Manggarai.

Adaptasi Kebiasaan Baru Bercermin Sejarah Pandemi Dunia

Meski demikian, sekali lagi protokol kesehatan sejatinya tetap menjadi atensi bersama. Masyarakat harus disiplin. Imbauan pemerintah jangan sekedar angin lalu. Potret perilaku calon penumpang di loket pembelian tiket di Pelabuhan Bolok, yang abai physical distancing, jangan lagi terulang.

Abai, ingatkan. Jika perlu ambil tindakan, kawal agar new normal menjadi kebiasaan. Sebab mengutip Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita prinsip utama dari new normal adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup.

Dalam hal ini, perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Memang tidak mudah untuk mengubah perilaku.

Tapi hal itu bukan tidak mungkin. Apalagi ini menyangkut hidup mati dan keselamatan orang lain. Menjaga diri sendiri, berarti menjaga keluarga, menjaga orang lain. Maka perubahan perilaku saat New Normal harus dianggap sebagai sebuah kebutuhan.

Lihatlah bagaimana kita sebelumnya tidak pernah menggunakan masker dalam keseharian, tidak pernah sesering ini mencuci tangan, menggunakan handsanitizer, termo gun, hingga disemprot disinfektan.
Tapi hari ini, karena kesehatan dan keselamatan menjadi kebutuhan, semua jadi gaya hidup. Semua menjema habbit. Tanpa kita sadari, kita didorong untuk berperilaku hidup jauh lebih sehat dari sebelum Pandemi Covid-19 menerjang.

Merujuk pada terori perilaku individu, Ini bukan lagi perubahan alamiah atau natural change, tapi sudah di tahap perubahan terencana atau planned change. Protokol kesehatan itulah rule-nya.
Dia akan menjadi koridor ke-sosial-an kita. Di kantor, di sekolah, di pusat perbelanjaan, di ruang-ruang publik yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial dan kontak fisik. Lebih dari itu, new normal ini kendati di satu sisi membidani lahirnya kekhawatiran second wave Covid-19, namun memberi asa di sisi lain berupa pulihnya aktivitas ekonomi, yang dalam empat bulan terakhir mati suri. Semoga ini adalah jalan ninja untuk kebaikan bersama sebagai sebuah bangsa. Wallahualam bishawab. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved