P. Philipus Tule, SVD : Lebaran Tahun Ini Lebih Pribadi

Saya menghargai kebijakan perayaan Idul Fitri dengan salat di rumah saja. Hal itu sesuai dengan Protokol Kesehatan Nasional

POS-KUPANG.COM/ELLA UZU RASI
Rektor Unwira Kupang, Rohaniwan Katolik, Pater Philipus Tule, SVD 

P. Philipus Tule, SVD : Lebaran Tahun Ini Lebih Pribadi

POS-KUPANG.COM | KUPANGIdul Fitri tahun ini yang jatuh pada tanggal 24 Mei dirayakan di rumah saja karena wabah pandemi. Pater Philipus Tulle, SVD, seorang rohaniwan Katolik menilai Lebaran kali ini lebih pribadi.

”Saya menghargai kebijakan perayaan Idul Fitri dengan salat di rumah saja. Hal itu sesuai dengan Protokol Kesehatan Nasional dan Fatwa Majelis Ulama, baik MUI di Indonesia (13 Mei 2020) maupun Fatwa Majelis Ulama di manca negara, termasuk Arab dan Mesir” katanya.

Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin, menyarankan umat Islam melaksanakan Salat Idul Fitri di rumah masing-masing, baik secara mandiri maupun berjemaah ketika penyebaran Covid-19 belum terkendali. Tapi bila pada 1 Syawal 1441 H sudah normal, maka boleh dilaksanakan Salat Idul Fitri berjemaah di lapangan, masjid, musala atau tempat lain.

Jika Salat berjemaah di rumah, dengan jumlah minimal empat orang, maka seorang bertindak sebagai imam dan tiga yang lain sebagai makmum dengan khotbah.

Meski fatwanya jelas, masih banyak orang yang mempertanyakan legalitas syariatnya dari shalat Idul Fitri di rumah itu.

Ketua Dewan Ulama Senior dan Mufti Saudi Arabia : Abdul Aziz bin Abdullah, pun memaklumkan pada tgl 18/5/2020 bahwa jika situasi pada Hari Raya Idul Fitri tak membaik, maka shalat Idul Fitri dilakukan di rumah saja tanpa khotbah.

Dewan Ulama Senior al-Azhar di Cairo (Mesir) lewat ketuanya Grand Syekh Ahmad at-Thyyib pun  mengumumkan bahwa umat Islam seluruh dunia boleh melakukan shalat Idul Fitri di rumah secara berjemaah atau sendiri dengan tata cara yang sama.

Menurut Pater Philipus, hal sedemikian itu pun telah dialami oleh umat Katolik sejagat, ketika Paus di Roma dan para Uskup sedunia memaklumkan larangan merayakan Misa harian dan mingguan untuk umat di Gereja.

Bahkan liturgi Pekan Suci dan Hari Raya Paskah 2020 tak dirayakan di Gereja. Semua itu dipatuhi umat dan pimpinan Gereja, sambil dengan setia mengikuti perayaan misa secara online/daring dari rumah saja.

“Menurut pendapat saya, justru dengan larangan atau pembatasan umat Muslim melakukan ibadat berjemaat di Mesjid, Mushola untuk salat, ibadat, taraweh dan jikir, maka dimensi penghayatan keagamaan yang personal, individual lebih berkembang intensif,” kata Rektor Unwira Kupang ini.

Dibandingkan dengan kebiasaan bulan Ramadhan pada tahun yang silam dimana  kita sering berziarah untuk menjenguk sanak kerabat muslim dan berbuka puasa bersama atau bersalaman di hari rayanya, Ramadhan dan Idul Fitri di saat pandemi

COVID-19 ini nampaknya lebih hening mereka menunaikan sawm (puasa) dan merayakannya secara lebih pribadi, batiniah dan sufistik (tasawuf) seakan mereka lebih memaknai prinsip keagamaan para sufi sekaliber Al-Hallaj (wafat thn 922 M) yang sungguh memaknai diri dan hati/batin manusia sebagai bait Allah, rumah
keluarga sungguh jadi masajid (tempat bersujud) atau bait Allah untuk menunaikan amal, sadaqah, tarawih, dhikir dan puasa yang sungguh membuahkan fadilah (keutamaan) sebagai pelebur kesalahan-kesalahan (takfir al-khatayaat) diantara kedua ramadhan.

“Oleh karena itu, layaklah bila saya menyampaikan proficiat dan salam kemenangan bagi semua kerabat muslim dan muslimat yang telah menyelesaikan sawm Ramadhan sebagai fath al-bar wal-ihtisab (kewajiban dan pahala) serta merayakan Idul Fitri al-Mubarak dalam keheningan” ujarnya.

Sebagai seorang tokoh agama, Pater Philipus mengimbau segenap umat beragama untuk lebih sabar dan tawakal menghadapi pandemi COVID-19 ini. Karena sesungguhnya Alllah senantiasa ada bersama orang (beriman) yang sabar (Inna Allah ma’a as-Sabirin).

Pemkab Kupang Cepat Bantu Korban Angin Puting Beliung di Amabi Oefeto Timur

Edukasi Masyarakat, Alumni FKM Undana 2010 Kelas B Bagi Masker ke Pemulung

“Kita semua hendaknya lebih tabah dan setia mematuhi imbauan dan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh para pemimpin negara (pemerintah) dan pemimpin agama kita : menjaga kebersihan fisik dan batin kita, membina imunitas/kekebalan tubuh terhadap aneka wabah, menjaga jarak fisik yang seimbang dengan sesama,
memupuk kepedulian sosial yang intensif lintas iman dengan sesama. Dalam kebersamaan pandemi COVID-19 akan sukses kita atasi” pungkasnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ella Uzu Rasi)

Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved