Sabtu, 9 Mei 2026

Hikmah RAMADHAN: Hari Kemenangan Sejati

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil'alamiin, para pembaca Pos Kupang umat Islam yang dirahmati Allah SWT

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA
Chariul Pua Tingga 

POS-KUPANG.COM - Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil'alamiin, para pembaca Pos Kupang umat Islam yang dirahmati Allah SWT. Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat iman sehingga kita dapat merasakan kebahagiaan di hari yang fitri ini.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Rasulullah SAW yang telah memberikan kita teladan dalam beribadah kepada Allah SWT, serta yang kita harapkan syafa'atnya di yaumul hisab kelak.

Para pembaca Pos Kupang yang di Rahmati Allah SWT...Lebaran adalah hari yang paling ditunggu oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia.

Sempat Putus Akibat Longsor Jalan Trans Selatan TTS-Malaka Kini Sudah Bisa Dilewati

Hari merayakan sukacita dan kemenangan sejati, setelah berjibaku melawan hawa nafsu, bahkan para ulama memandang sebagai jihad paling akbar. Betapa tidak, selama satu bulan penuh, kita menjalankan ritual ibadah puasa dengan menahan diri dari makan dan minum di siang hari.

Selain itu, sebagaimana janji Allah bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa akan senantiasa mendapat maghfirah-Nya (ampunan) sebagai hadiah teristimewa dari Sang Maha Mengkabulkan. Allah SWT pun pernah berjanji, barang siapa yang berdo'a dan bermunajat kepada-Nya di hari Idul Fitri, tanpa terkecuali akan dikabulkan.

Menjelang Idul Fitri Aktivitas Pasar Penfui Kupang Sepi

Pertanyaannya, apakah puasa kita akan diterima? Ataukah hanya merayakan hari kemenangan sebagai ritual simbolik belaka? Betapa meruginya orang-orang yang hanya menahan lapar dan haus, bila mereka mendapatkan ganjaran puasa hanya dengan kehampaan tanpa ada balasan dari Allah SWT. Inilah refleksi yang patut kita renungkan bersama.

Para pembaca Pos Kupang yang di Rahmati Allah SWT...Mari kita tengok istilah Idul Fitri sebagai makna kemengangan hakiki. Arti Fitri adalah kembali ke semula, sebagaimana manusia lahir di muka bumi dalam keadaan bersih dan suci, makna lebaran Idul Fitri. Dari makna ini, sedikitnya para ulama menetapkan beberapa indikator keberhasilan yang menjadi ukuran bagi yang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Setidaknya mengerucut menjadi dua hal, yaitu kesalehan secara individu maupun sosialnya semakin meningkat.

Kesalehan secara individu dapat kita lihat pada aspek ritual ibadah yang dijalankan. Kualitas ibadah yang dilaksanakan terus meningkat, sebagai makna hubungan Allah dengan manusia (hablum minallah). Sementara itu, kesalehan sosial dapat kita lihat pada aspek kepekaan atas musibah yang diderita sesama manusia. Hatinya senantiasa terketuk untuk berempati dan peka pada penderitaan serta musibah saudara seiman, maupun saudara sebangsa, sebagai makna hubungan manusia dengan sesamanya (habul minannas).

Dua kesalehan di atas, menegaskan kepada kita, bahwa bila refleksi diri sesuai dengan tuntunan tersebut, maka beruntunglah orang jenis seperti ini. Tak dapat dihindarkan, niscaya Allah SWT memberikan lautan ampunan bagi hamba-Nya.

Untuk itu, guna menyambut hari yang Fitri, setidaknya ada beberapa anjuran yang patut kiranya dijalankan secara seksama oleh kita semua. Anjuran ini sebagaimana firman Allah SWT, seperti dalam Al-Qur'an Surat al-Baqarah ayat 185 yang artinya:

"...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (hari terakhir Ramadhan 30 hari) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Dari ayat di atas, jelas bahwa kita harus menghitung hari sesuai dengan kaidah penghitungan kalender Islam dalam menatap Idul Fitri sebagai hari kemenangan sejati.

Bila kita mampu menjalankan titah Al-Qur'an ini, hendaklah dengan segera mengamalkan beberapa tuntunan selama menyambut hari Fitri yang akan dilaksanakan, yaitu ikhlas sesuai tuntutan Allah dan Nabi Muhammad SAW. Dari pada itu, demi kesempurnaan ibadah puasa, sambutlah tuntunan tatkala melaksanakan solat Idul Fitri, antara lain:

Pertama, mandilah sebelum Ied. Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah.

Seperti dalam hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Malik: "Dari Nafi', bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat Idul Fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat." Berkata pula Imam Sa'id bin Al Musayyib, "Hal-hal yang disunnahkan saat Idul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat Ied, dan mandi."

Kedua, makan di Hari Raya. Disunnahkan makan saat Idul Fitri sebelum melaksanakan sholat hingga kembali dari sholat. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: "Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Idul Fitri sampai beliau makan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa: "Hikmah makan sebelum sholat saat Idul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat Idul Fitri. Seakan-akan Rasulullah mencegah persangkaan ini." (AhkamulIdain, Syaikh Ali bin Hasan).

Ketiga, memperindah (berhias) diri pada Hari Raya. Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan (HR. Bukhori dan Muslim). Rasulullah tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik.

Hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allah, diantaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.

Keempat, berbeda jalan antara pergi ke tanah lapang dan se-pulang darinya. Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, "Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat Idul Fitri." (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan,dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat.

Para pembaca Pos Kupang yang di Rahmati Allah SWT...Itulah beberapa anjuran pada saat Idul Fitri, demikian juga diperbolehkan untuk saling mengucapkan selamat dengan menyeru "taqobbalalloohu minnaa wa minkum" (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian) atau "a'aadahulloohu `alainaa wa `alaika bil khoiroot war rohmah"(Semoga Allah membalasnya bagi kita dan kalian dengankebaikan dan rahmat). Ucapan dan ekspresi ini dilakukan tatkala kita bersilaturahmi dengan sesama manusia, karena lautan kesalahan yang tak dapat terduga bahkan terkadang lupa yang sudah dilakukan kerabat, sahabat, teman pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya.

Karena itu, untuk meraih kemenangan sejati, patut kiranya kita saling bermaafan dengan sanak famili dan lainnya agar meraih ampunan Ilahi. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved