News
Miris, Orangtua Merantau Hidup Sebatang Kara, Mersi Kase Makan dari Pemberian Tetangga, Duh!
Untuk menopang ekonomi keluarga, Mersi jualan kue buatan ibunya di sekolah. Seusai sekolah, Mersi jualan sayur.
Penulis: Edy Hayong | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Edy Hayong
POS KUPANG, COM, BETUN - Mersi Kase, siswi kelas 6 SDN Oevetnai, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku-Malaka berjibaku hidup sebatang kara setelah tiga tahun ditinggal pergi kedua orangtuanya ke Kalimantan. Untuk makan dia berharap dari pemberian tetangga.
Mersi merupakan anak pertama, lahir di Weulun, 2 Mei 2006. Mersi sudah selesai menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan sebentar lagi memasuki jenjang pendidikan SLTP.
Mersi memiliki seorang adik, Olviana Gracia Kase, namun ikut bersama orangtuanya.
Kepada wartawan di kediamannya, Minggu (3/5), Mersi menunjukkan rasa percaya diri, tetap tegar, menebar senyum ketulusan. Mersi hidup di rumah tergolong layak huni. Berlantai keramik, beratapkan seng, berdinding batang enau.
Mersi menceritakan ayahnya berangkat ke Kalimantan saat dirinya masih duduk di kelas 3 SD. Mersi tinggal bersama ibu dan adiknya.
Untuk menopang ekonomi keluarga, Mersi jualan kue buatan ibunya di sekolah. Seusai sekolah, Mersi jualan sayur.
Dua tahun ditinggal sang ayah, diakui Mersi, pada akhir 2019, ibunya pergi menyusul ayah ke Kalimantan, bekerja di perusahaan kelapa sawit.
Sejak saat itu, Mersi hidup sebatang kara, dari masak hingga mengurus rumah. "Biasanya setiap bulan, saya dapat kiriman uang Rp 100.000-Rp 200.000. Uang itu saya pakai beli keperluan sekolah dan makan," jelasnya.
Sejak merebaknya pandemi corona, kedua orangtuanya tidak lagi mengirimkan uang. Untuk menyambung hidup, Mersi berharap dari pemberian tetangga.
Makan apa adanya seperti jagung dan sayur. Kedua orangtuanya dirumahkan perusahaan. Kedua orangtuanya berencana pulang, tapi akses pelayaran dan penerbangan ke NTT masih ditutup.
"Kalau beras habis, biasa diberi keluarga atau tetangga. Kadang jagung saja," ungkapnya.
Walau hidup menderita dalam kesendirian, tapi Mersi dikenal sebagai siswi berprestasi di sekolahnya. Juara kelas dari kelas 1-6 menjadi langganannya. Walau termasuk anak cerdas, dirinya tidak pernah menyombongkan diri.
"Saya selama sekolah libur karena corona, saya lebih banyak di rumah. Saya urus belajar dan menulis puisi. Puisi saya terbaru saya persembahkan untuk guru dengan judul Pahlawan Pendidikan. Saya rencana mau buat puisi kedua orangtua saya di rantau," ujar Mersi.
Untuk diketahui, Desa Weulun masih tergolong terisolir. Akses jalan menuju wilayah ini pun masih rusak. Di Dusun Wetalas, sebanyak 44 rumah warga belum menikmati listrik. Mereka menggunakan lampu pelita sebagai penerangan, termasuk di rumah Mersi. *