News
25 Orang Ibu dari Wuring Geruduk Kantor Dinas Sosial Sikka Bawa Kartu Keluarga, Mereka Protes Ini
Sebanyak 25 ibu-ibu dari Nangahure Bukit, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, menggeruduk Kantor Dinas Sosial Sikka, Senin (11/5).
Penulis: Aris Ninu | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Aris Ninu
POS KUPANG, COM, MAUMERE - Di Kabupaten Sikka, sekitar 25 ibu-ibu dari Nangahure Bukit, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, menggeruduk Kantor Dinas Sosial setempat, Senin (11/5).
Sambil memegang kartu keluarga, mereka protes karena tidak mendapat BST.
Protes tersebut langsung disampaikan kepada Bupati Sikka, Fransiskus Robertus Diogo yang saat itu sidak di Kantor Dinas Sosial.
Para ibu menyatakan, ada oknum ASN dan warga mampu lainnya menerima BST.
Yuliana, Valentina, Florensia Kasan Goit, Maria Yunelfi dan Maria Rosalina Raja mengaku datang ke Dinas Sosial karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah.
"Kami ini terkena dampak Corona, kenapa tidak dapat bantuan? Kami datang minta perhatian," kata Yuliana.
Menanggapi protes warga, pria yang akrab disapa Robby Idong menegaskan, akan turun langsung ke Nangahure. Ia memperhatikan warga yang belum mendapat bantuan.
"Mama-mama tenang sudah nanti saya urus biar semua dapat bantuan. Saya akan ke Nangahure dan staf Dinas Sosial akan cek ke Nangahure soal bantuan yang tidak tepat sasaran," kata Bupati Robby.
Sebelum pulang, ibu-ibu yang protes mengumpulkan KK dan menyerahkan kepada staf Dinas Sosial Sikka agar didata.
Kejahatan Besar
Bupati Robby kecewa dengan kerja para petugas pendataan sehingga data penerima bantuan amburadul dan tidak jelas. "Saya akan minta bantuan TNI/Polri sisir semua desa. Para pendamping dusun mulai hari ini turun ke dusun masing-masing," tegas Bupati Robby, Senin pagi.
Ia memimpin rapat koordinasi bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan para camat, di kantor Dinas PMD Sikka.
Ia mengungkapkan, data penerima BST masih muncul nama kepala desa dan perangkat desa, pensiunan, ASN dan sejumlah pekerja formal lainnnya.
"Ada kepala desa dan perangkat desa bahkan ASN juga didata sebagai penerima BST. Ini sangat memalukan," sesal Bupati Robby.
Ia mengungkapkan, ada dalam satu rumah, istri, anak dan ponakan juga dapat bantuan.
Sementara ada janda miskin, ada rakyat miskin yang harus diurus tapi malah diabaikan. "Ini adalah kejahatan besar. Ini lebih jahat dari korupsi," tandasnya.
Bupati Robby meminta para camat agar segera cek kembali data-data di lapangan. "Para camat tolong bantu saya untuk cek kembali data-data," imbuhnya. *