Renungan Harian Katolik
Credete! : Percayalah!
Credete! : Percayalah!, simak dan renungkan dengan baik saudara-saudariku Semoga Tuhan Selalu Beserta Kita
Renungan Harian Katolik
Credete! : Percayalah!
Diakon Guido Naikefi, Pr
Sabtu, 9 Mei 2020
“Percaya” bukanlah perkara yang mudah. Kata “percaya” menjadi mahal sepanjang zaman. Dari zaman dulu sampai kini, kata “percaya” menjadi sesuatu yang dipersoalkan dalam hidup.
Mengapa? Karena kata “percaya” ada hubungannya dengan hati. Kita tahu dalam ajaran Kristiani bahwa hati menjadi inti terdalam manusia. Hati menjadi sanggar suci Allah dan bahkan bait Roh Kudus.
Dengan demikian kata percaya dan hati bagaikan dua sisi mata uang, berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan.
Hati yang tenang selalu percaya. Hati yang tidak tenang selalu bimbang dan ragu. Hati yang tenang akan terejahwantah melalui tutur kata dan tindakan demikian pun sebaliknya hati yang tidak tenang akan terkuak melalui tutur kata dan tindakan.
Tutur kata boleh tidak sesuai dengan hati tetapi hati pada esensinya selalu berkata jujur dan tulus. Kadang-kadang logika manusia mengaburkan apa yang hati kehendaki. Karena hati tak akan menipu. Jika kita mendengarkan suara hati kita maka segalanya akan berjalan sesuai dengan kehendak sanubari yang menjadi Bait Roh kudus.
Jika menjadi Bait Roh Kudus, maka percaya adalah sesuatu yang mutlak tetapi pada kenyataanya sulit dipraktekkan dalam hati. Manusia selalu mengalami dua situasi dalam kaitan dengan hati, kadang percaya dan kadang ragu. Hati manusia sangat situasional.
Tetapi ada pribadi tertentu yang memang betul percaya akan apa yang diyakininya karena ia pandai dan cerdas mendengarkan suara hatinya yang adalah sanggar suci Allah. Berhadapan dengan dunia modern saat ini, banyak orang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.
Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara apa yang nyata dengan apa yang berbau provokasi. Karena soal ini maka manusia zaman kini sulit membuat pembedaan di antara keduanya. Antara yang benar dan keliru beda tipis. Jika manusia tidak pandai mendengarkan suara hati dan bahkan larut dalam hiruk pikuk dan kebisingan dunia maka sulit baginya untuk membedakannnya. Ini yang menjerumuskan manusia dalam lubang kehampaan dan jurang keberdosaan.
Dalam kaitan dengan kata percaya, Rasul Filipus pun ternyata jauh lebih dulu mengalami bagaimana ia gamang akan kehadiran Yesus. Sampai-sampai Yesus bertanya balik kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?”(Yoh. 14:9). Hal ini menunjukkan kepada kita dua hal: Pertama, fondasi kepercayaan adalah pengenalan pribadi yang mendalam.
Filipus memang bersama-sama dengan Yesus dan ia adalah murid Yesus. Tetapi dalam kenyataannya ia tidak sungguh mengenal Yesus secara mendalam. Pengenalan akan Yesus hanya sampai di titik permukaan dan tidak duc in altum.
Pengenalan seperti ini sangat dangkal dan yang tidak diharapkan oleh Yesus. Kita di zaman kini pun berlaku seperti Filipus. Kita mengakui mengikuti Yesus tetapi justru hati kita jauh dari Yesus. Kita menyebut nama Yesus tetapi kita tidak mengimani dan percaya sungguh kepada-Nya. Nabi Yesaya berkata: ”Bangsa ini memuliakan Allah dengan bibirnya tetapi hatinya justru jauh dari Allah.” (Yes. 29:13). Yang dibutuhkan dari kita adalah hati yang percaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/diakon-guido-naikefi-pr.jpg)