Opini Pos Kupang

Membangun Kohesi Sosial dalam Mengatasi Pandemi Covid-19

Otoritas kesehatan dunia telah menetapkan virus corona Covid-19 sebagai pandemi global karena penyebaran virus ini sudah terjadi di semua benua

Membangun Kohesi Sosial dalam Mengatasi Pandemi Covid-19
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Frans Geroda Mado, SKM, Mkes, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Hasanuddin

POS-KUPANG.COM - Otoritas kesehatan dunia telah menetapkan virus corona Covid-19 sebagai pandemi global karena penyebaran virus ini sudah terjadi di semua benua dan tingkat keparahan sangat mengkhawirkan dan mengancam kehidupan penduduk dunia. Pada sisi lain virus corona juga telah memberikan dampak yang sangat serius pada semua aspek kehidupan. Status pandemi global memberi pesan kepada semua bangsa di dunia agar berupaya mencegah dan menanggulangi virus corona secara bersama.

Konsep pandemi sebagaimana terdapat dalam Kamus Epidemiologi, Oxford University Press, New York, 2001, Pandemi didefinisikan sebagai "epidemi yang terjadi di seluruh dunia, atau di wilayah yang luas, melintasi batas internasional dan biasanya memengaruhi sejumlah besar orang." Berdasarkan konsep ini maka virus corona sudah termasuk kategori pandemi paling tidak memenuhi ciri-ciri antara lain; merupakan jenis virus baru, dapat menginfeksi orang dengan mudah serta dapat menyebar antar manusia dengan mudah.

Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

Dalam perspektif kesehatan, penetapan virus corona sebagai pandemi oleh WHO paling tidak memberikan beberapa pesan serius bagi semua bangsa di dunia antara lain; pertama, melakuan kewaspadaan dini dan meningkatkan mekanisme tanggap darurat, kedua, melakukan edukasi dan literasi kesehatan kepada seluruh masyarakat tentang risiko virus corona dan pendidikan kesehatan agar masyarakat dapat melindungi diri dari virus corona, ketiga, melakukan skrining untuk menemukan pasien, mengisolasi masyarakat, merawat pasien covid-19, dan melacak semua orang yang pernah kontak dengan pasien Covid-19.

Secara nasional, Indonesia kini merespon pandemi Covid-19 dengan menetapkan status sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat. Kebijakan ini diambil mengingat eskalasi kasus corona virus menunjukan peningkatan yang sangat signifikan.

Ansy Lema Desak KLHK Rincikan Anggaran untuk Kegiatan Penanganan Covid-19

Sejak ditemukan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang diumumkan langsung oleh Presiden Joko Wododo pada tanggal 2 Maret 2020 terjadi peningkatan kasus yang luar biasa. Data per 7 April 2020 sebagaimana dilaporkan Satgas Gugus Pengendalian Covid-19 menunjukan bahwa sudah ada 2491 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan jumlah pasien yang meninggal menjadi 209 orang (case fatality rate/CFR; 8,39 persen), tersebar di 32 provinsi.

Dampak luar biasa juga terjadi pada sektor yang lain seperti sektor pendidikan, ekonomi, kehidupan agama, dunia usaha dan kalangan birokrasi. Menghadapi ancaman Covid-19, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tetapi memerlukan partisipasi dari semua stakeholders. Virus corona harus dilihat dalam perspektif komprehensif bahwa virus corona tdak hanya masalah kesehatan tetapi masalah bagi semua bidang kehidupan. Corona virus menjadi musuh bersama anak bangsa. Salah satu elemen kunci dalam menghadapi Covid-19 adalah membangun kohesi sosial untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran virus corona.

Secara sederhana, kohesi sosial merupakan perekat sosial dalam sebuah kelompok atau komunitas masyarakat dalam menghadapi sebuah fenomena. Kohesi sosial adalah seperangkat karakteristik yang membuat suatu kelompok dapat berfungsi sebagai satu kesatuan. Secara etimologi kohesi merupakan kemampuan suatu kelompok untuk menyatu, dan kohesi sosial merupakan hasil dari hubungan individu dan lembaga. Lebih jauh Rolfe (2006) menjelaskan kohesi sosial merupakan salah satu aspek ciri keberadaan suatu resiliensi komunitas dalam menghadapi bencana, juga dibuktikan dapat menjadi suatu pengaruh protektif dalam mencegah gejala gangguan psikis bagi korban atau komunitas yang terkena bencana dan berkaitan erat dengan jaringan dukungan, modal sosial, tingkat kesatuan, dan pelayanan sosial.

Ada tiga komponen kohesi sosial yaitu; pertama, psychological sense of community, yaitu perasaan memiliki antar anggota, merasa penting satu sama lain dan keseluruhan kelompok, kepercayaan bersama para anggota akan terpenuhi seiring dengan komitmen untuk bersama. Kedua, neighboring merupakan perilaku masyarakat (satu dengan lainnya) yang berdekatan secara geografis dan psikologis dan ketiga attraction merupakan salah satu daya tarik; saling tarik-menarik; saling membutuhkan.

Hasil dari adanya komunitas yang kohesif akan melahirkan aksi kolektif yang kemudian dapat mendorong komunitas dalam menghadapi bencana. Secara hirarki terdapat tiga level dalam kohesi sosial, yakni pertama, tingkat komunitas; nilai-nilai resiprokal, kesetiaan, dan solidaritas yang dibagikan, dan kualitas hubungan sosial yang mencakup nilai kepercayaan, modal social, ikatan sosial dan solidaritas. Kedua, tingkat individu; peran individu dalam kohesi dan keinginannya untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dan tetap di dalamnya atau dengan kata lain motivasi individu menjadi tetap bagian dalam kelompok. Ketiga, tingkat lembaga; peran dari institusi sangat mempengaruhi kohesi sosial dalam masyarakat. Masyarakat yang seimbang dengan peluang dan hak yang setara untuk semua warga negara akan cenderung kuat secara kohesi sosial.

Kohesi sosial terjadi di semua level ini, oleh karena itu untuk memahami kohesi sosial perlu mempertimbangkan semua tingkatan ini. Seseorang mungkin memiliki motivasi untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dan dorongan untuk berpartisipasi dan tampil di dalamnya, tetapi jika struktur formal negara itu tidak memungkinkan warga negara untuk bertindak, maka kohesi sosial terhambat. Ini berarti bahwa lingkungan individu menentukan agensi mereka, yaitu kebebasan individu untuk bertindak. Bagi individu untuk bertindak, membutuhkan komunitas yang menguntungkan (iklim dengan serangkaian norma dan nilai yang kompatibel) dan institusi (struktur formal, norma, dan nilai) yang tidak melarang atau membatasi tindakan dan pilihan individu.
Dalam konteks mencegah dan menanggulangi Covid-19 yang sedang mengancam kehidupan masyarakat Indonesia, kohesi sosial masyarakat menjadi sebuah tantangan tersendiri. Secara teoritik kohesi sosial menjadi modal dasar atau fondasi bagi masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran Covid-19.

Disisi lain rakyat Indonesia juga memiliki modal dasar yang lain yang sangat kuat yaitu kultur masyarakat yang gemar bergotong royong untuk menyelesaikan masalah. Ancaman atau tantangan virus corona ini, mestinya menjadi momentum untuk mempertebal kohesi sosial masyarakat untuk bangkit melawan penyebaran Covid-19 sesuai tugas, tanggungjawab dan peran masing-masing komponen masyarakat. Aksi kolektif mesti dilakukan dalam membendung penyebaran Covid-19.

Jaringan sosial yang mengakar harus dimanfaatkan untuk berbagai upaya yang maksimal mengadapi kasus yang terus meningkat ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kohesi sosial adalah aset, karena telah menumbuhkan rasa saling percaya dalam bekerjasama. Kerja sama berperan penting mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Selama ini dalam kehidupan masyarakat berlangsung beragam aktivitas yang didasari atas kohesi sosial.

Pemerintah telah memperpanjang masa tanggap darurat Covid-19 di Indonesia hingga tanggal 29 Mei 2020 dalam rangka memutus mata rantai penularan virus corona. Fase ini menjadi sangat krusial yang akan menentukan nasib bangsa ini terhadap peristiwa Covid-19. Peristiwa Covid-19 yang kini sedang dirasakan oleh segenap bangsa Indonesia dapat menyatukan bangsa ini bahu membahu, saling berempati, solidaritas sosial terbangun menghadapi situasi ini.

Partisipasi masyarakat pada level individu, secara komunitas dan didukung oleh pemerintah akan sangat efektif mencegah dan menanggulangi virus corona. Kedisiplinan masyarakat mematuhi protokol pencegahan Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah menjadi modal penting memutus mata rantai penularan Covid-19. Kohesi sosial menjadi modal untuk mematuhi protokol kesehatan, melakukan social dan phisycal distancing untuk memerangi Covid-19. Kohesi sosial merupakan awal dan konsekuensi penting dari aksi kolektif. Dengan demikian, maka penyebaran virus corona dapat dicegah dan ditanggulangi sehingga masyarakat pun terbebas dari infeksi virus yang mematikan ini. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved