Larangan Mudik Lebaran Tahun 2020, Karyawan Rumah Makan Asal Jawa Bilang Tidak Ada Persoalan

telah 13 tahun merantau di Kupang itu, larangan tersebut juga telah dipertegas oleh pimpinan mereka di rumah makan tersebut.

POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Salah satu karyawan sedang melakukan aktifitas membungkus nasi untuk pelanggan di Warung Makan Persada di Jalan Herewila Kelurahan Naikoten pada Selasa (21/4/2020) petang. Para karyawan yang berasal dari Jawa Tengah itu mengaku tidak melaksanakan mudik tahun ini sesuai dengan himbauan Presiden RI Joko Widodo. 

Larangan Mudik Lebaran Tahun 2020, Karyawan Rumah Makan Asal Jawa Bilang Tidak Ada Persoalan

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan larangan untuk melakukan mudik pada Lebaran tahun ini. Larangan tersebut dikeluarkan presiden dalam rangka mencegah dan menanggulagi penyebaran Virus Corona di Indonesia. 

Terhadap hal itu, para migran asal pulau Jawa yang kini berdomisili di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT memberkan pandangan setuju. Mereka bahkan mengaku hal tersebut (larangan mudik) tidak menjadi persoalan buat mereka. 

Lukman (34), salah satu karyawan di RM Persada yang berada di wilayah Kelurahan Naikoten Kota Kupang kepada POS-KUPANG.COM mengaku telah mendengar perihal larangan tersebut. 

Bahkan kata pria yang telah 13 tahun merantau di Kupang itu, larangan tersebut juga telah dipertegas oleh pimpinan mereka di rumah makan tersebut. 

"Tahun ini ini kita tidak mudik. Bos sudah instruksikan untuk jangan pulang dulu. Tapi kalau ngeyel, kata Bos ya urusan kamu sendiri," ujar Lukman ketika berbincang dengan POS-KUPANG.COM pada Selasa (21/4/2020) petang. 

Ia mengatakan, sebanyak 17 orang karyawan rumah makan tersebut berasal dari Jawa. Ada yang berasal dari Jawa Timur dan yang lainnya dari Jawa Tengah. Masa kerja mereka berkisar dari dua hingga 13 tahun. 

Setiap lebaran, lanjutnya, mereka selalu mendapat jatah liburan dan melakukan mudik ke kampung halamannya masing masing. Mudik biasanya dilakukan pada H-2 atau H-1 sebelum Idul Fitri. 

Terkait keputusan untuk tidak mudik, kata Lukman, itu dilakukan demi kebaikan dan kemaslahatan bersama. 

"Kita tidak masalah (tidak mudik). Itu kan juga untuk menjaga kesehatan. Itu untuk kebaikan bersama masyarakat jadi tidak ada persoalan," katanya. 

Senada, hal yang sama disampaikan Ariatin (36), salah satu pedagang makanan di Taman Nostalgia (Tamnos) Kupang. 

Kepada POS-KUPANG.COM, ia mengaku belum mendengar tentang larangan mudik. Namun demikian, seandainya larangan itu diterapkan, ia dan keluarga pasti mematuhi larangan tersebut. 

"Belum tau ini mudik atau tidak, tapi kalau dilarang ya kita nurut, ini juga demi kita sendiri," ujarnya saat ditemui Senin (21/4/2029). 

Ia mengatakan, meski terkesan tidak mengenakan karena tidak dapat berkumpul dan merayakan Idul Fitri berasama keluarga besar di kampung halaman, namun hal itu harus dilakukan untuk kepentingan yang jauh lebih besar; kesehatan dan kebaikan bersama. 

Bakti Sosial Peduli Kemanusiaan, Polwan Ditlantas Polda NTT Kenakan Kebaya Saat Bagi Nasi Bungkus

Peduli Virus Corona, Polres SBD & Warga Tionghoa SBD Bagikan 1000 Paket Sembako Kepada Warga Miskin

Update Corona TTU, Tetap Waspada ! Jumlah PPDP di TTU Tembus 1.086 Orang

Pospera TTS Prihatin Wakil Rakyat Dari Fraksi Nasdem Pukuli Rakyat Kecil

Perempuan asal Jawa Barat itu berharap agar situasi waspada pandemi Virus Corona (Covid-19) segera berakhir agar kehidupan kembali berjalan normal. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong )

Penulis: Ryan Nong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved