Bank NTT Cabang Mbay Gandeng UD Alansamat Bantu Modal untuk Petani Sawah di Aeramo
Demi ketahanan pangan, Bank NTT Cabang Mbay, menggandeng UD Alansamat memberikan modal usaha untuk petani sawah di Aeramo
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
Bank NTT Cabang Mbay Gandeng UD Alansamat Bantu Modal untuk Petani Sawah di Aeramo
POS-KUPANG.COM | MBAY --Demi ketahanan pangan, Bank NTT Cabang Mbay, menggandeng UD Alansamat memberikan modal usaha untuk petani sawah di Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Masalah modal usaha bagi para petani kecil selama ini selalu menjadi kendala bagi para petani dalam menjalankan usaha tani mereka.
Apalagi ditengah wabah Covid-19, terkadang mereka harus terjerat hutang dari rentenir atau dari pedagang pengumpul.
Akibatnya para petani sering terbebani dengan bunga yang relatif tinggi dan lemahnya bargaining position dalam penentuan harga jual produk pertanian mereka.
Berangkat dari permasalahan tersebut PT Bank NTT cabang Mbay, di bawah pimpinan kepala Bank NTT Cabang Mbay, Lukas Uma, bekerjasama dengan UD Alansamat binaan Bank NTT Cabang Mbay, sebagai avalist mencoba memberikan solusi untuk membantu modal usaha bagi para petani kecil agar uang yang dipinjamkan oleh petani benar-benar di peruntungkan digunakan sebaik mungkin oleh patani sawah di wilayah Aeramo, guna mendukung pemda Nagekeo benar-benar stok pangan tetap stabil di Kabupaten Nagekeo.
Direktur UD Alansamat, Siprianus Go'o, menjelaskan luas Lahan sawah petani di wilayah Desa Aeramo kurang lebih 500 Ha.
Dari luas lahan tersebut sekitar 75 % lahannya subur untuk kegiatan pertanian khusus padi dengan hasil panennya rata-rata di atas 4 ton.
Sedangkan lahan yang masuk kategori tidak subur, hasil panennya rata-rata di bawah 4 ton. Meskipun demikian, petani Aeramo tetap hidup di bawah standar kemisikinan.
"UD Alansamat dan Bank NTT Cabang Mbay, siap mendukung program pemerintah dalam hal pemberdayaan petani Irigasi mbay demi meningkatkan produktivitas panen Padi. Dengan slogan petani sejahtera, kami bahagia," ungkap Siprianus, Senin (13/4/2020).
Siprianus mengatakan melihat situasi sulit susah yang terus mengintai hidup para petani dan didukung lagi oleh suara keluhan mereka yang seakan memohon pertolongan untuk keluar dari kubangan utang bercampur rentenir cetusan para tengkulak, maka sebagai anak desa yang punya banyak keterbatasan berusaha untuk menanggapi sekaligus mencari solusi demi mengatasi persoalan yang sedang dihadapi oleh para petani.
"Melalui UD. Alansamat, lahirlah ide-ide yang menurut kami sangat gemilang untuk mereparasi etos kerja, cara serta startegi produksi dan marketing yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan hidup para petani itu sendiri," papar Siprianus.
Siprianus menjelaskan rujukan dasar berawal dari pertanyaan mengapa petani Mbay khususnya petani yang berada di wilayah Desa Aeramo, sejak irigasi Mbay dibuka sampai hari ini, hidup para petani terkesan statis dan bahkan masih ada sebagian petani yang memilih untuk mencari pekerjaan di luar daerah demi menafkai keluarganya?
"Dari pertanyaan ini, kami terus berdiskusi dan berdialog dengan para konsultan pertanian, baik pemerintah maupun swasta, pihak pemodal (Lembaga Keuangan) dan tokoh masyarakat sehingga kami menemukan solusi yang tepat untuk dieksekusi," jelas Siprianus.
Siprianus mengatakan ternyata permasalahannya adalah Petani kesulitan modal kerja, biaya produksi sangat tinggi dan harga jual hasil panen tidak tentu (ditentukan oleh para tengkulak).