Budidaya Buah Naga Dapat Mendongkrak Pendapatan Petani di Desa Kolobolon
Budidaya Buah Naga Dapat Mendongkrak Pendapatan Petani di Desa Kolobolon
Penulis: Edy Hayong | Editor: Rosalina Woso
Budidaya Buah Naga Dapat Mendongkrak Pendapatan Petani di Desa Kolobolon
POS-KUPANG.COM I OELAMASI--Tidak pernah terlintas dalam pikiran, lahan kritis berbatu dan tidak produktif seluas 1,8 hektar selama bertahun-tahun sebelumnya tidak pernah diolah oleh masyarakat Desa Kolobolon, kecamatan Lobalain - Kabupaten Rote Ndao kini dapat memberi warna baru bagi 29 kepala keluarga di sekitar lokasi kebun.
Bagaimana tidak? Lahan tersebut kini berubah menjadi rumah kedua bagi para petani anggota kebun produktif “Modo Pedak” Kolobolon, dipenuhi dengan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis juga memilki tanaman buah naga sebagai tanaman unggulan.
Hal ini disampaikan oleh fasilitator Yayasan TLM wilayah Rote Ndao, Watson Sodi Mbuik ketika ditemui di kebun produktif bersama anggota kebun lainnya saat melakukan perawatan dan panen buah naga (Kamis, 19/03/2020) belum lama ini.
Sodi mengisahkan, pendampingan Yayasan TLM dengan masyarakat Desa Kolobolon terjadi sejak tahun 2013 lalu dengan membentuk kelompok tani, mengolah lahan kritis tersebut, membersihkan belukar yang syarat dengan batu karang.
Namun, tekad dan kerja keras para anggota yang dengan giat memilah bebatuan bahkan membawa tanah gembur dari luar lahan untuk bisa menimbun batu-batuan agar dapat dibuat bedengan sehingga dapat ditanami.
“Sekarang kita lihat sudah seperti taman eden, tapi orang tidak tahu awalnya bagaimana. Kita harus bawa tanah dari luar untuk timbun batu karang supaya bisa tanam," kenang Sodi.
Lebih lanjut Ia menjelaskan, masyarakat desa Kolobolon pada umumnya memanfaatkan curah hujan pada musim penghujan untuk menanam padi sehingga cenderung perputaran uang pada musim hujan sangat terbatas sedangkan pada musim panas masyarakat sering mendapat uang dari menjual hasil panen, produksi gula air dan gula batu.
Salah satu anggota penerima manfaat kebun produktif Kolobolon, Martha Kueain membenarkan hal tersebut. Ia mengaku dirinya kini tidak perlu menjadi buruh di sawah orang karena sudah memiliki penghasilan tambahan dari bercocok tanam buah naga dan tanaman hortikultura lainnya di kebun tersebut.
“sekarang saya sudah bisa menghasilkan Rp. 400.000,- hingga Rp. 500.000,- dalam seminggu pada musim panen, jadi saya tidak ikut orang lagi ke sawah untuk kerja supaya dibayar," kata Martha.
Iapun menyebutkan, dari hasil penjualan buah naga ia sudah dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya juga mengisihkan sebagian uang untuk membeli bahan dan peralatan membuat kue untuk dijual pada waktu luang.
“Puji Tuhan dari hasil jual buah naga, saya bisa membeli mixer, kompor dan bahan untuk usaha jualan kue yang saya lakukan agar bisa menambah penghasilan keluarga” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Ephania Meno-Mbuik salah satu anggota kebun produktif yang dari sejak awal pendampingan Yayasan TLM untuk budidaya tanaman buah naga memberikan komentar senada bahwa dalam lima tahun terakhit ini, dari hasil budidaya tanaman buah naga ia dapat mengirim dua orang anaknya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kota Kupang.
“Kalau saya pada periode panen dua minggu lalu saja sudah dapat menghasilkan lebih dari Rp. 7.500.000,- itu baru satu periode panen dan minggu depan sudah panen raya yang kedua. Puji Tuhan dari buah naga tidak hanya memnuhi kebutuhan keluarga tapi saya bisa menyekolahkan anak. Sekarang 2 orang kuliah di Kupang," jelas Ephania bangga.
Ephania-pun menjelaskan, pada awal musim panen, kelompok dapat memanen 10 sampai 50 kilogram dan pada saat panen raya mereka dapat memanen hingga 300 kilogram buah naga yang dijual seharga Rp.30.000,- per kilogram sehingga dalam satu kali periode panen mereka dapat menghasilkan lebih dari 30juta rupiah dari 1.400 pohon buah naga produktif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tanaman-holtikultura-yang-dikembangkan-petani-dampingan.jpg)