News
Surati Dirjen Perhubungan Laut, Udara dan Darat, Gidion Rencanakan Lockdown Total di Sumba Timur
Bupati Gidion juga mengakui pemberlakukan social distancing untuk mencegah Covid-19 di Sumba Timur belum efektif
Penulis: Robert Ropo | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo/Petrus Piter
POS KUPANG, COM, WAINGAPU - Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora mengakui wabah virus corona saat ini terus meningkat, meskipun di daerah itu belum ada yang positif, hanya berstatus orang dalam pemantauan (ODP), belum ada kasus pasien dalam pengawasan (PDP).
Meski demikian sebagai upaya pencegahan, Bupati Gidion berencana melakukan lockdown total.
"Saya sudah surati Dirjen Perhubungan Laut, Udara dan Darat di Kementerian Perhubungan RI," ujar Bupati Gidion ketika dihubungi Pos Kupang melalui telepon, Senin (30/3).
Bupati Gidion juga mengakui pemberlakukan social distancing untuk mencegah Covid-19 di Sumba Timur belum efektif selama dua pekan terakhir. Masyarakat masih terlihat berkumpul pada siang maupun malam hari.
Menyikapi persoalan ini, Bupati Gidion mengaku akan mengambil tindakan tegas bagi masyarakat yang melanggar social distancing.

Namun, kata Gidion, terkait sanksi/tindakan yang diambil itu tidak bisa diputuskannya sendiri, tetapi harus menggelar rapat bersama untuk menentukan langkah-langkah, termasuk memberlakukan jam malam.
"Social distancing belum efektif. Masih banyak warga yang kumpul-kumpul padahal kita sudah imbau berulang kali untuk hindari kerumunan dan jaga jarak demi memutuskan penularan virus corona. Nanti kita akan ambil tindakan tegas lagi setelah dilakukan rapat bersama juga termasuk aturan jam malam," ungkap Bupati Gidion.
Terkait kebijakan pemerintah pusat akan memberlakukan lockdown parsial atau karantina terbatas di Indonesia dalam bentuk peraturan pemerintah (PP), menurut Bupati Gidion, pemerintah pusat pasti memahami situasi yang ada, pemerintah daerah hanya menyesuaikannya.
Kata dia, pemda juga melakukan lockdown dengan peraturan yakni menolak kapal penumpang seperti milik PT ASDP dan Pelni karena penumpang sulit diatasi, sedangkan kapal barang tetap dibuka karena untuk memenuhi kebutuhan sembako, sebab semuanya berasal dari Surabaya.
Selain itu, diakui Bupati Gidion, penumpang pesawat juga akan dikarantina. Namun karena saat ini lokasi yang pas untuk dikarantina belum ada, sehingga saat ini masih dilakukan karantina mandiri di rumah. Saat ini semua penumpang semua diperiksa kesehatan dan diawasi ketat oleh petugas, khususnya berstatus ODP.
Sumba Barat Nihil ODP
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat, yang juga juru bicara tim gugus tugas percepatan penanganan virus corona daerah setempat, drg. Bonar B Sinaga, menegaskan, hingga saat ini belum ada pasien berstatus orang dalam pemantauan (ODP) di Sumba Barat.
"Untuk alat pengamanan diri (ADP) dokter dan perawat yang menangani pasien corona tersedia 22 unit pakaian model astronot. Sedangkan prasarana lain terus diusahakan mengingat dana penanganan virus corona sudah dicairkan," ujar Bonar Sinaga di Waikabubak, Sabtu (28/3) pagi.
Bonar mengakui ada satu orang ODP, warga negara asing (WNA) asal Malaysia yang beberapa hari lalu datang ke Sumba Barat dan menginap di sebuah home stay di Desa Kabukarudi, Kecamatan Lamboya.