Ahok BTP jadi CEO Ibukota baru

Ahok Kandidat CEO Ibukota Baru, Begini Prediksi Pengamat Politik, Benarkah Akan Dikorbankan Jokowi?

Ahok Kandidat CEO Ibukota Baru, Begini Prediksi Pengamat Politik, Benarkah Akan Dikorbankan Jokowi?

Instagram/basukibtp
Momen 'reuni' kembali Presiden Jokowi dan Ahok saat kunjungan kerja di Tuban, Jawa Timur, (21/12/2019). 
Ahok Kandidat CEO Ibukota Baru, Begini Prediksi Pengamat Politik, Benarkah Akan Dikorbankan Jokowi?
POS-KUPANG.COM - Nama Ahok BTP masuk dalam jajaran calon kandidat CEO ibukota baru negara.
Hal tersebut langsung menuai kritik dari Pengamat Politik, Syahganda Nainggolan.
Syahganda mengatakan, Ahok ingin dijadikan korban oleh Jokowi dalam hal ini.

Sebelumnya, pengumuman terkait nama calon pemimpin tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Senin (2/3/2020).

Adapun empat nama yang disebut yakni Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Masuknya nama Ahok ini ternyata menimbulkan banyak spekulasi.

Profil 4 Calon Pemimpin Ibu Kota Baru Ada Ahok hingga Tumiyana, Ali Ngabalin Sebut Tak Ada Anak Emas

Syahganda Nainggolan berspekulasi bahwa Ahok ingin dijadikan korban oleh Jokowi dalam hal ini.

Spekulasi ini didasarkan dari kejadian yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
Syahganda Nainggolan dan Jokowi
Syahganda Nainggolan dan Jokowi (youtube)

Ahok Tak Minta Restu Jadi Kepala Otoritas Ibu Kota Baru,Ali Ngabalin Sebut BTP PunyaKriteria Penting


Syahganda Nainggolan Prediksi Pemerintahan Jokowi Lengser Enam Bulan Mendatang, Singgung Soal Corona (Kolase YouTube/realita TV/BBC News)

"Kalau saya melihat dari masa lalu Ahok dan Jokowi, itu kan Ahok dikorbankan oleh Jokowi ketika Ahok dihadapakan dengan umat Islam di Jakarta dan memanas, menurut saya Jokowi masih bisa memproteksi Ahok untuk tidak dipenjara, tapi akhirnya dia masuk penjara."

"Kalau menurut saya Ahok ini untuk dijadikan korban kembali, jadi bukan untuk promosi seperti gembar-gembor dari berbagai pihak dari lembaga survei juga dan yang lainnya," papar Syahganda Nainggolan.

Tak hanya itu, Syahganda Nainggolan bahkan menuturkan bahwa apa yang direncanakan Jokowi terkait ibu kota baru ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

"Karena apa? karena situasinya sekarang, bicara pembangunan ibu kota ini bicara fallacy artinya bicara sesuatu yang nggak masuk akal," sambungnya.

"Kenapa anda membaca dijadikan calon ibu kota yang baru badan otorita ibu kota ini justru dikorbankan kembali, apa dasarnya?" tanya presenter.

Menurutnya pemindahan ibu kota ini dijadikan Jokowi sebagai alat untuk menaikkan kembali popularitasnya.

Yosafat Putra Ahok dan Puput Nastiti Devi Kini Berusia 2 Bulan, Wajahnya Makin Jelas Mirip Siapa?

"Karena kan ini semua rezim yang mulai tidak populer itu mulai mencari drama turgi artinya membuat kisah yang berbau mimpi untuk membuat rakyat masih bisa mempunyai harapan," papar Syahganda Nainggolan.

Tak hanya Jokowi, rupanya sejumlah presiden Indonesia sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama.

"Di jaman SBY misalnya ketika dia tidak populer, dia mulai berbicara mengenai Gunung Padang, bahwa kita mempunyai harta karun di Gunung Padang."

"Dikorbankanlah di situ Andi Arief, Andi Arief ributlah disitu membuat mimpi-mimpi bahwa yang namanya Gunung Padang ada harta karun."

"Di jaman Megawati itu dikorbankan menteri agama, ada harta karun di batu tulis, sampai orang mau menggali di batu tulis Bogor itu harta karun," ungkapnya.

Alasan kenapa Ahok yang dipilih untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menurut Syahganda Nainggolan dari sejumlah nama yang jadi kandidat hanya Ahok lah yang mau mengambil resiko.

"Jadi ini semua permainan ketika tidak populer, ini harus tetap dibuat mimpinya."

"Dan harus dicari orang yang tepat dan mau mengambil resiko, karena orang-orang nama lain seperti Brodjonegoro, dia ini nggak main-main, dia mulai dari kakeknya itu orang penting di Indonesia, yang lain juga orang-orang yang punya nama, artinya nggak mau mengambil resiko politik seperti Ahok, jadi Ahok ini kelihatan mau dikorbankan oleh Jokowi," pungkasnya.

Simak video selengkapnya:



Said Didu Ungkap Alasan Jokowi Pilih Ahok Jadi Kandidat CEO Ibu Kota Baru

Sosok Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok kini menjadi pusat perhatian publik setelah namanya disebut Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam calon pengisi jabatan Kepala Badan Otorita ibu kota negara.

Ahok menjadi sorotan lantaran rekam jejaknya sebagai Gubernur DKI Jakarta di masa lalu, dan saat ini masih menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengatakan ada sejumlah alasan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memilih Ahok yang menurutnya sarat kontroversi.

Dikutip dari YouTube MSD, Rabu (11/3/2020), Said Didu mengakui ia tidak tahu seberapa dekat hubungan antara Ahok dengan Jokowi, namun ia menduga apabila keduanya memang dekat, maka ada rahasia yang dimiliki oleh Ahok dan Jokowi.

Mantan Sekretaris Menteri BUMN
Mantan Sekretaris Menteri BUMN (youtube)


Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, YouTube MSD, Rabu (11/3/2020). (Youtube MSD)

Rahasia atau kunci tersebut membuat Jokowi dan Ahok harus selalu bekerja sama dan membantu satu sama lain.

"Saya tidak tahu hubungan dekatnya Ahok dengan Jokowi ini seperti apa," kata Said Didu.

"Siapa tahu sudah saling memegang 'kunci', sehingga harus saling berpegangan tangan untuk menghadapi apapun, karena sudah saling tahu."

Said Didu tidak melihat prestasi Ahok sebagai perhitungan Jokowi memilih mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

"Sebenarnya tidak ada sejarah Ahok sama sekali sukses melakukan pembangunan, bahkan Jakarta yang sudah jadi pun saat dibangun tidak sesukses yang dibayangkan," paparnya.

Alasan selanjutnya, Said Didu melihat Jokowi ingin sosok pejabat yang berani menerobos aturan, dan hukum yang ada.

"Atau memang presiden butuh penerobos-penerobos yang bisa melawan aturan, kita tahu kasus Ahok selama beberapa tahun memegang Jakarta, itu terobosannya yang melanggar hukum masih banyak yang menggantung sekarang," ujar Said Didu.

Said Didu lanjut memberikan contoh dari menerobos aturan yang ia maksud.

"Sumber Waras, kemudian Trans Jakarta yang mangkrak, itu masih banyak, tapi masih tertutupi sekarang," tambahnya.

Tetapi Said Didu masih belum bisa memberikan kepastian apakah Ahok memang diperlukan atau tidak.

"Apakah memang, pembangunan ibu kota baru butuh orang seperti Ahok, untuk menerobos hukum, itu kita tidak tahu," pungkasnya.

(TribunPalu.com)


 

// //

Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved