Sakit Tenggorokan Dua Hari, Kylian Mbappe Jalani Tes Virus Corona, Hasilnya Mengejutkan!

Kabar mengejutkan datang dari bintang muda Paris Saint-Germain, Kylian Mbappe yang baru saja menjalani tes virus corona di Paris.

Editor: Agustinus Sape
Instagram/mbappe_side
Sakit Tenggorokan Dua Hari, Kylian Mbappe Jalani Tes Virus Corona, Hasilnya Mengejutkan! 

Pasien ini adalah WNA laki-laki 29 tahun.

Nampak dalam kondisi sakit ringan-sedang. Pasien ini adalah bagian dari tracing kita atas kasus 1.

Kasus 11

Pasien adalah WNA perempuan berusia 54 tahun.

Dilaporkan kondisi sakit ringan sedang dan bagian dari tracing kontak kasus 1.

Kasus 12

Masih bagian dari kasus 1, pasien ini adalah laki-laki 31 tahun dengan keluhan sakit ringan sedang.

Kasus 13

Perempuan 16 tahun ini hasil tracing dari sub klaster pasien 03. subklaster 03.

Kasus 14

Pasien ini laki-laki 50 tahun dengan gambaran sakit ringan-sedang, dan imported kasus.

Kasus 15

Kasus 15 adalah perempuan 43 tahun ini juga imported kasus.

Kasus 16

Pasien perempuan berusia 17 tahun ini terkait dengan pasien kasus 15.

Kasus 17

Adalah laki-laki 56 tahun dan termasuk dalam imported case.

Kasus 18

Adalah pasien laki-laki berusia 50 tahun ini juga imported case.

Kasus 19

Pasien laki-laki 40 tahun ini juga imported case.

(Sumber: Kompas.com/Dani Prabowo/Ihsanuddin/Rakhmat Nur Hakim | Editor: Kristian Erdianto/Bayu Galih/Fabian Januarius Kuwado/Irfan Maullana)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Daftar 19 Pasien Positif Virus Corona di Indonesia", https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/09/195342965/daftar-19-pasien-positif-virus-corona-di-indonesia?page=all#page4.

* Kenali Ciri Ciri Awal Corona

Wabah virus corona berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Oleh karena itu, kita perlu waspada dan tetap menjaga daya tahan tubuh agar tak mudah tertular.

Orang yang terpapar virus corona atau Covid-19 memiliki ciri-ciri awal tertentu yang perlu Anda ketahui.

Biasanya, gejala tersebut muncul dalam waktu dua hari sampai dua pekan setelah terpapar virus corona.

Hal ini dijelaskan dalam artikel di laman Alodoker yang ditinjau Dokter Merry Dame Cristy Pane.

Disebutkan, ada gejala umum yang biasanya muncul yaitu demam, batuk, dan sesak napas.

Gejala lain yang lebih detail terkait ciri-ciri awal yaitu, munculnya gejala flu.

Mulai dari sakit kepala, batuk, hidung berair, demam, dan nyeri tenggorokan.

Kemudian, bisa muncul juga gejala penyakit infeksi pernapasan berat. Mulai dari demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, hingga batuk berdahak bahkan berdarah.

Perlu diketahui, virus corona ini memang menyerang sistem pernapasan.

Efeknya sangat berbahaya bagi tubuh. Dari kasus yang parah, virus corona ini bisa menyebabkan komplikasi pada penderitanya.

Mulai dari pneumonia, gagal ginjal, infeksi sekunder pada organ lain, hingga kematian.

Hingga kini, di negara-negara lain sudah banyak korban yang meninggal akibat terinfeksi kasus corona.

Penularan virus corona atau Covid-19 ini melalui beberapa hal.

Misalnya, dari bersin, batuk, atau menghirup percikan ludah penderita Covid-19.

Kemudian, memegang mulut atau hidung tanpa cuci tangan setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita yang terinfeksi virus corona.

Selain itu, virus corona juga bisa menular karena kontak fisik dengan penderitanya, seperti sentuhan saat berjabat tangan.

Dalam artikel itu, disebutkan virus corona bisa menginfeksi siapa pun.

Namun, risikonya akan sangat berbahaya jika menginfeksi orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Selain itu, berbahaya juga bagi orang yang sedang sakit dan orang yang lanjut usia.

Oleh karena itu, jika mengalami gejala infeksi virus corona, apalagi gejala tersebut muncul selama dua pekan setelah kembali dari negara-negara yang terpapar corona, maka segera periksa ke dokter.

Jika dicurigai, maka harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.

Biasanya, untuk mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi virus corona atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan.

Khususnya, menanyakan apakah pasien sempat bepergian ke negara yang terpapar virus corona atau tidak.

Kemudian, akan ada pemeriksaan lanjutan. Mulai dari uji sampel darah, tes usap tenggorokan, hingga rontgen dada.

* Data Infeksi Virus Corona

Dari data yang dibagikan laman Worldometers dan John Hopkins CSSE yang dimuat Kompas.com. Berikut ini daftar lengkap infeksi virus corona per Rabu (4/3/3030).

China: 80.270 terinfeksi (119 kasus baru) dan 2.981 meninggal (38 kematian baru)

Korea Selatan: 5.328 terinfeksi (516 kasus baru) dan 33 meninggal (5 kematian baru)

Italia: 2.502 terinfeksi (466 kasus baru) dan 79 meninggal (27 kasus baru)

Iran: 2.336 terinfeksi (835 kasus baru) dan 77 meninggal (11 kasus baru)

Diamond Princess: 706 terinfeksi (1 kasus baru) dan 7 meninggal

Jepang: 293 terinfeksi (19 kasus baru) dan 6 meninggal

Perancis: 212 terinfeksi (19 kasus baru) dan 4 meninggal (1 kematian baru)

Jerman: 203 terinfeksi (38 kasus baru)

Spanyol: 165 terinfeksi (45 kasus baru) dan 1 meninggal (kematian baru)

Amerika Serikat: 124 terinfeksi (21 kasus baru) dan 9 meninggal (3 kematian baru)

Singapura: 110 terinfeksi (2 kasus baru)

Hong Kong: 101 terinfeksi (1 kasus baru) dan 2 meninggal

Swiss: 58 terinfeksi (16 kasus baru)

Kuwait: 56 terinfeksi

Inggris: 51 terinfeksi (11 kasus baru)

Bahrain: 49 terinfeksi

Thailand: 43 terinfeksi dan 1 meninggal

Taiwan: 42 terinfeksi dan 1 meninggal

Australia: 39 terinfeksi (5 kasus baru) dan 1 meninggal

Malaysia: 36 terinfeksi (7 kasus baru)

Kanada: 33 terinfeksi (6 kasus baru)

Norwegia: 33 terinfeksi (8 kasus baru)

Irak: 32 terinfeksi (6 kasus baru)

Swedia: 30 terinfeksi (15 kasus baru)

Uni Emirat Arab: 27 terinfeksi (6 kasus baru)

Austria: 24 terinfeksi (6 kasus baru)

Belanda: 24 terinfeksi (6 kasus baru)

Vietnam: 16 terinfeksi

Islandia: 14 terinfeksi (5 kasus baru)

Belgia: 13 terinfeksi (5 kasus baru)

Lebanon: 13 terinfeksi (3 kasus baru)

Israel: 12 terinfeksi

Oman: 12 terinfeksi (6 kasus baru)

San Marino: 10 terinfeksi (2 kasus baru) dan 1 meninggal

Makau: 10 terinfeksi

Denmark: 10 terinfeksi (6 kasus baru)

Kroasia: 9 terinfeksi (1 kasus baru)

Algeria: 8 terinfeksi (3 kasus baru)

Qatar: 8 terinfeksi (1 kasus baru)

Ekuador: 7 terinfeksi

Finlandia: 7 terinfeksi

Yunani: 7 terinfeksi

India: 6 terinfeksi

Meksiko: 6 terinfeksi

Republik Ceko: 5 terinfeksi (1 kasus baru)

Pakistan: 5 terinfeksi (1 kasus baru)

Portugal: 4 terinfeksi (2 kasus baru)

Romania: 4 terinfeksi (1 kasus baru)

Filipina: 3 terinfeksi dan 1 meninggal

Azerbaijan: 3 terinfeksi

Georgia: 3 terinfeksi

Rusia: 3 terinfeksi

Saint Barthelemy: 3 terinfeksi (kasus baru)

Brasil: 2 terinfeksi

Estonia: 2 terinfeksi (1 kasus baru)

Indonesia: 2 terinfeksi

Irlandia: 2 terinfeksi (1 kasus baru)

Mesir: 2 terinfeksi

Selandia Baru: 2 terinfeksi (1 kasus baru)

Senegal: 2 terinfeksi (1 kasus baru)

Afganistan: 1 terinfeksi

Andorra: 1 terinfeksi

Arab Saudi: 1 terinfeksi

Argentina: 1 terinfeksi (kasus baru)

Armenia: 1 terinfeksi

Belarus: 1 terinfeksi

Chili: 1 terinfeksi (kasus baru)

Republik Dominika: 1 terinfeksi

Latvia: 1 terinfeksi

Lithuania: 1 terinfeksi

Luksemburg: 1 terinfeksi

Liechtenstein: 1 terinfeksi (kasus baru)

Makedonia Utara: 1 terinfeksi

Monako: 1 terinfeksi

Moroko: 1 terinfeksi

Nepal: 1 terinfeksi

Nigeria: 1 terinfeksi

Sri Lanka: 1 terinfeksi

Kamboja: 1 terinfeksi

Tunisia: 1 terinfeksi

Ukraina: 1 terinfeksi (kasus baru)

Yordania: 1 terinfeksi

* Kondisi Baru Wuhan

Belum juga beres mengatasi wabah virus corona atau Covid-19, kota Wuhan China hadapi masalah baru: menumpuknya limbah masker di berbagai tempat, termasuk dibuang begitu saja ke laut. 

Padahal masker-masker tersebut diduga kuat tidak steril karena sudah dipakai penggunanya dengan berbagai kondisi kesehatannya.  

Di tengah merebaknya virus corona yang sudah mencapai berbagai tempat di belahan dunia, pihak berwenang China saat ini menghadapi masalah yang tak kalah memusingkan akibat virus tersebut.

Permasalahan itu yakni terkait limbah dari barang sekali pakai yang digunakan sebagai pengaman dari virus corona.

Barang-barang tersebut terutama adalah masker sekali pakai yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk melindungi diri mereka dari penularan.

Di Wuhan saja, sebagai kota yang dianggap sebagai epicentrum virus, seorang pejabat di Zona pengembangan Ekonomi mengatakan bahwa mereka mengumpulkan sekitar 200 kg hingga 300 kg masker yang dibuang setiap hari dari 200 tempat sampah yang disiapkan.

Kota itu, telah memasang tempat sampah khusus untuk pembuangan masker di daerah perumahan, di jalan-jalan dan di tempat umum lainnya.

Melansir dari SCMP, walaupun sulit untuk mendapatkan angka pasti jumlah masker yang dibuang.

Akan tetapi, Otoritas Lingkungan dan Kesehatan memperkirakan  volume limbah medis di Wuhan secara keseluruhan meningkat empat kali lebih besar menjadi lebih dari 200 ton sehari pada minggu lalu.

Produsen masker China sendiri memproduksi sekitar 116 juta per hari saat permintaan masker bedah melonjak di berbagai negara.

Menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, agen perencanaan ekonomi China, Produksi tersebut mengalami 12 kali lipat lonjakan selama sebulan terakhir seiring meningkatnya jumlah kasus.

* Kemampuan pengolahan limbah

Para pakar lingkungan menyoroti kemampuan pengolahan limbah medis China yang dianggap tidak memadai.

 Otoritas Lingkungan dan Kesehatan mengatakan masker maupun alat pelindung lain terutama barang yang dipakai oleh tenaga medis dan orang yang terinfeksi virus, harus diperlakukan sebagai limbah klinis dan disterilkan sebelum dibakar pada suhu tinggi dengan alat khusus.

Sementara jumlah insinerator yag dimiliki China untuk pengolahan limbah medis tak dipublikasikan.

Akan tetapi para ahli mengatakan sebagian besar tetap tak berubah selama dekade terkahir.

Yang menjadi kekhawatiran adalah kenyataan bahwa sebagian besar fasilitas untuk mengatasi limbah medis yang dibangun pada masa wabah SARS 17 tahun lalu saat ini mendekati akhir masa operasinya.

China sendiri dikenal sebagai pencemar dan penghasil sampah terbesar di dunia dengan 2 juta ton limbah medis pada 2018.

Akan tetapi belum mengeluarkan standar terkait pengendalian pencemaran khusus untuk limbah klinis.

Menurut Southern Metropolis Daily sebagaimana dikutip SCMP, Wuhan menghasilkan lebih dari 200 ton limbah medis pada 24 Februari, naik dari 109 ton pada lima hari sebelumnya.

Menurut Ketua Pejabat di Kementerian Lingkungan, angka tersebut jauh melebihi 50 ton sehari yang bisa ditangani oleh fasilitas pembuangan limbah medis khusus kota.

Eric Liu, seorang spesialis limbah beracun di kantor Greenpeace Beijing mengatakan China memiliki kekurangan besar dalam fasilitas pembuangan limbah.

Khususnya yang mampu menangani limbah klinis.

Menurut Liu, pembuangan masker bisa dikategorikan menjadi tiga.

Masker dari orang yang positif terinfeksi seharusnya dibuang di fasilitas pembakaran khusus

Kedua, masker yang digunakan orang sehat bisa diatasi dengan cara yang sama dengan mengatasi limbah rumah tangga yang dibakar di tungku industri.

Akan tetapi tantangannya adalah limbah yang digunakan oleh orang-orang yang ditempatkan di bawah karantina rumah atau orang lain dengan gejala ringan.

"Ada area abu-abu di atas masker bekas semacam ini, yang tidak berada di bawah yurisdiksi institusi medis tetapi harus diperlakukan sesuai dengan standar untuk limbah medis." imbuhnya.

* Limbah medis keliling

Permasalahan limbah medis tengah diupayakan diatasi.

China bergegas melakukan pembangunan pabrik pengolah limbah di dekat tiga rumah sakit darurat.

Selain itu, China juga membangun 17 fasilitas penyimpanan sementara untuk limbah medis dengan kapasitas gabungan lebih dari 1.000 ton.

Pihak berwenang juga memindahkan sebagian sampah yang diproduksi di Wuhan ke kota-kota tetangga untuk pembakaran,

Selain itu juga tengah dilakukan upaya meminta bantuan dari perusahaan-perusahaan pengolahan limbah di seluruh negeri.

China Shipping Group dan sebuah perusahaan di Anhui mengerahkan sejumlah kabin insinerasi limbah medis keliling Wuhan pada bulan lalu.

"Pembuangan limbah medis adalah bagian utama dari perang melawan wabah, yang merupakan seruan bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan fasilitas baru dan meneliti teknologi pengolahan limbah," kata Du Huanzheng, Direktur Institut Ekonomi Daur Ulang di Universitas Tongji di Shanghai.

Saat ini pembakaran menjadi cara yang disukai untuk mengatasi limbah medis di China, sementara negara-negara industri lain menghapus insinerator karena masalah kesehatan dan lingkungan.

Sementara itu, upaya penggunaan masker secara efektif juga dilakukan oleh penduduk Wuhan di mana mereka dilarang meninggalkan rumah mereka tanpa izin.

"Kami tidak memiliki kemewahan untuk mengganti masker kami setiap hari sehingga kami telah belajar untuk menjaga konsumsi kami seminimal mungkin," kata penduduk setempat, Chen Hao.

Akan tetapi dia mengaku tak khawatir dengan hal tersebut. Menurutnya banyak pula orang di sekitarnya yang melakukan hal yang sama

"Saya bukan satu-satunya yang mencoba menggunakan masker selama mungkin dan mungkin sebagai hasilnya, saya tidak melihat banyak topeng dibuang di tempat sampah yang ditunjuk di perkebunan saya," kata dia.

Chen mengatakan dia biasanya mengikuti instruksi para ahli untuk memotong masker bekasnya menjadi bentuk potongan-potongan sebelum membuangnya untuk menghindari masker-masker tersebut dijual kembali.

(Kompas.com/ Nur Rohmi Aida)

Sumber: BolaStylo.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved