Ternak Babi Mati di TTS Sudah Mencapai 985 Ekor

Jumlah ternak babi mati di Kabupaten TTS diduga akibat serangan African Swine Fever ( ASF) sudah mencapai angka 985 ekor

Penulis: Dion Kota | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Suasana pertemuan antara komisi II DPRD TTS bersama Sekertaris Dinas Pertanian, Ari Ati di ruang kerja Kadis Peternakan Kabupaten TTS 

POS-KUPANG.COM | SOE - Jumlah ternak babi mati di Kabupaten TTS diduga akibat serangan African Swine Fever ( ASF) sudah mencapai angka 985 ekor. Jumlah ini baru diinput dari 9 kecamatan dan 35 desa di Kabupaten TTS.

Diperkirakan jumlah ini akan terus bertambah karena setiap harinya dinas peternakan menerima laporan kematian babi dari masyarakat.

Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten TTS, Ari Ati mengaku, hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan lab peternakan propinsi NTT guna memastikan penyebab kematian ternak babi di Kabupaten TTS.

Ketua KIP NTT Terima Buku dari Karo Humas dan Protokol Setda NTT

Untuk memastikan jika virus yang menyerang ternak babi adalah ASF, maka sampel harus dikirimkan lagi ke Medan untuk diperiksa.

" Kalau kita lihat kasus yang terjadi di Kupang, TTU, Belu dan Malaka yang sudah positif ASF, maka kuat dugaan kematian ternak babi di TTS juga disebabkan karena ASF. Namun untuk pastinya harus menunggu hasil pemeriksaan lab," ungkap Ari saat menerima kunjungan komisi II di ruang kerja kepala dinas peternakan, Senin (9/3/2020) siang.

Kadis Yohanes Sebut Kehadiran Bumdes Sangat Membantu Masyarakat

Terkait ketersediaan vaksin dan obat, Ari menjelaskan hingga saat ini vaksin ASF belum ditemukan.

Sedangkan untuk vaksin Hog Cholera jumlahnya hanya sekitar 20.000-an padahal jumlah ternak babi mencapai 200.000 lebih ekor.

Untuk ketersediaan obat, Ary mengatakan jumlahnya terus menipis. Bantuan obat dari Propinsi pun langsung habis terpakai.

" Kami sudah laporkan ke pak bupati terkait stok obat yang terus menipis. Dan beliu mengarahkan untuk membuat permohonan agar bisa menggunakan anggaran tanggap darurat untuk membeli tambahan obat," jelasnya.

Saat ini, dinas peternakan telah memberikan pengumuman melalui Radio Pemerintah Daerah (RPD) dan mimbar gereja untuk mewaspadai serangan Hog Cholera dan ASF.

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak membawa ternak babi maupun olahan daging babi dari kabupaten yang sudah positif ASF.

"Kuat dugaan masuknya virus ini disebab karena lalulintas ternak dari Kabupaten yang sudah positif ASF. Ini yang saat ini harus kita perketat pengawasan lalulintas ternak," pintanya.

Untuk diketahui, Kamis siang, komisi II yang dipimpin oleh ketua komisi II, Imanuel Olin, anggota komisi II, Marthen Bana, Dominggus Beukliu, Gaudentius Ninu dan Simon Bako melakukan sidak ke Dinas Peternakan. Komisi II meminta penjelasan terkait kasus kematian ternak babi di Kabupaten TTS dan langkah penanganannya. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Dion Kota)

Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved