Salam Pos Kupang

Quo Vadis Dunia Pendidikan NTT

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul Quo Vadis dunia pendidikan NTT

Quo Vadis Dunia Pendidikan NTT
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak isi Salam Pos Kupang berjudul Quo Vadis dunia pendidikan NTT

POS-KUPANG.COM - DALAM pekan-pekan belakangan kita dikejutkan dengan berita-berita kelam dunia pendidikan di NTT. Di Omesuri,Lembata, guru YT memaksa siswanya minum air kotor karena tidak bisa menghafal kosa kata bahasa Inggris. Tak terima, orang tua melaporkan oknum guru ke Polsek Omesuri.

Di Maumere, Sikka, sejumlah senior memaksa adik-adik kelasnya yang berjumlah 77 orang mencicipi feses gara-gara tidak mengakui sebagai pemilik kantong berisi feses yang diletakkan dalam lemari asrama. Yang paling baru, guru dianiaya siswa di Fatuleu, kabupaten Kupang gara-gara daftar hadir.

Dispenduk Ende Turun ke Kecamatan Urus Administrasi Warga

Jika kita menyimak kasus kasus di atas, umumnya terjadi suatu lingkaran kekerasan yang cenderung berulang. Bermula dari satu kejadian yang memicu tindak kekerasan dan tindak kekerasan tersebut menimbulkan tindak kekerasan yang baru. Dan lokus (tempat) terjadinya kekerasan berada di sekolah atau lingkungan yang berkaitan dengan sekolah.

Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan nasional, menekankan bahwa sistem pendidikan mengutamakan usaha untuk memerdekakan manusia dari aspek hidup batin seperti otonomi berpikir, bebas berpendapat dan berbeda pendapat, mengambil keputusan, kemerdekaan dalam bermartabat, dan mentalitas demokratik. Dengan demikian dalam diri anak didik bakal dihasilkan pribadi-pribadi yang merdeka, sehat fisik dan mental serta cerdas, menjadi warga yang berguna dan bertanggungjawab bagi kebahagian diri dan kesejahteraan masyarakat.

Siswa SMP Santa Ursula Ende Terapkan Salam Jepang Antisipasi Virus Corona

Untuk mewujudkan sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah, peran guru (pamong) sangat dibutuhkan. Tindakan dan perilaku para pamong dalam tugas pendidikan maupun pengajaran di sekolah hendaknya merujuk kepada ajaran kepemimpinan ing ngarso sung tulodo, ing madya mbangun karsa, dan tut wuri handayani. Dengan cara seperti ini, para pamong bukan sekedar berperan sebagai guru pengasuh mata pelajaran tetapi guru sebagai model bagi anak didik.

Interaksi pembelajaran bukan didasarkan pada apa yang diajar guru melainkan apa yang dilakukan dan diperbuat guru. Dengannya anak didik belajar langsung dari tindakan guru untuk membangun relasi dan komunikasi yang dilandasi oleh kasih. Pola interaksi dan relasi pembelajaran seperti ini membantu membangun kesadaran sosial anak didik akan pengalaman hidup yang langsung, unik, dan menyenangkan baik secara pribadi maupun secara sosial. Dengan kata lain, pendidikan berwatak bukan dibentuk dari pengetahuan yang diajarkan oleh mata pelajaran yang bersifat telling melainkan secara langsung dari tindakan dan perbuatan (showing) pamong, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Tujuan ideal pendidikan sebagaimana yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara, terasa menjadi utopia ketika berhadapan dengan berbagai kasus kekerasan dalam dunia pendidikan yang terjadi belakangan ini. Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?

Kebijakan pendidikan di negara kita cenderung berubah-ubah pada setiap rezim. Mungkin Indonesia adalah negara yang paling sering mengganti kurikulumnya. Celakanya, pergantian kurikulum yang selama ini juga tidak pernah dievaluasi secara menyeluruh. Tuntutan kurukulum yang memusingkan membuat guru dan siswa seolah-olah berada dalam pusaran gelombang yang ujung-ujungnya bermuara pada lingkaran kekerasan yang terus terjadi.

Pada akhirnya urusan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan sekolah semata tetapi menyangkut semua kebijakan positif yang membuat dunia pendidikan dengan semua komponennya menemukan kembali gairahnya untuk menciptakan manusia yang humanis, pribadi-pribadi yang merdeka, sehat fisik dan mental serta cerdas, menjadi warga yang berguna dan bertanggungjawab bagi kebahagian diri dan kesejahteraan masyarakat.*

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved