Saksi Sebut Fransiskus Mella Tak Punya Tanah di Wilayah Konbaki Bendungan Temef

Saksi sebut Fransiskus Mella tak punya tanah di wilayah Desa Konbaki Bendungan Temef

POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Suasana sidang lanjutan ganti rugi lahan pembangunan bendungan Temef, Selasa (18/2/2020). 

Saksi sebut Fransiskus Mella tak punya tanah di wilayah Desa Konbaki Bendungan Temef

POS-KUPANG.COM | SOE - Sidang gugatan ganti rugi lahan Bendungan Temef kembali bergulir, Selasa (18/2/2020) siang di Pengadilan Negeri SoE. Sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak tergugat nampak juga dihadiri mantan Wakil Gubernur NTT, Beni Litelnoni.

Pihak tergugat menghadirkan tiga orang saksi, yaitu Aminadap Teflopo, Gidion Tefnai dan Erasmus Faot. Saksi Aminadap Teflopo dan Gidon Tefnai kompak menyebut jika tanah Desa Konbaki yang terkena dampak pembangunan Bendungan Temef bukan merupakan tanah milik Fransiskus Mella, melainkan merupakan tanah milik Teflopo-Tefnai.

Pemimpin Idaman Rakyat

Bahkan saksi Aminadap menyebut jika tidak ada jengkel pun tanah di Konbaki yang merupakan tanah milik Mella.

"Tanah Konbaki itu milik leluhur kami Teflopo-Tefnai, bukan tanah Mella. Oleh sebab itu, kalau ganti tugi lahan Desa Konbaki jatuh ke tangan Mella kami tidak terima karena hingga hari ini Mella tidak ada tanah di Konbaki.  Bahkan keturunan Mella tidak ada yang tinggal di Konbaki," ungkap kedua dihadapan majelis hakim yang diketuai Wempi Duka, SH, Hakim Anggota 1, Putu Dima Indra, dan
Hakim Anggota 2, Putu Agung Putra Baharata.

Try Out Ujian Kompetensi Diploma III Kebidanan Unika Santu Paulus Ruteng Dipantau Pengawas Pusat

Keduanya juga menjelaskan, sejak dulu hingga proses sosialisasi terkait rencana pembangunan bendungan Temef tidak pernah ada orang termasuk keluarga Mella yang menghugat tanah mereka.

Namun pasca sosialisasi berakhir, barulah terdengar adanya gugatan ganti rugi lahan dari Fransiskus Mella.

"Itu tanah ( Desa Konbaki) merupakan tanah leluhur kami Teflopo dan Tefnai yang diwariskan kepada kami. Selama kami tinggal di situ tidak pernah ada orang yang mengklaim kalau tanah itu tanah mereka, termaksud dari keluarga Mella. Namun habis sosialisasi dan pengukuran lahan itu baru kami dengar kalau Mella ada gugat lahan Bendungan Temef katanya milik mereka," ujar keduanya.

Untuk diketahui, Aminadap Teflopo memiliki empat bidang lahan yang terkena dampak pembangunan Bendungan Temef. Kempat lahan tersebut terdiri dari dua lahan kering dan dua lahan basah. Sedangkan Gidion Tefnai yang juga merupakan kepala dusun 3 memiliki 12 bidang tanah, 5 bidang merupakan lahan basah dan 7 merupakan lahan kering.

Di atas lahan tersebut saat ini tumbuh tanaman umur panjang seperti asam, pinang, mangga dan beberapa tanaman produktif lainnya.

Diberitakan sebelumnya, Fransiskus Lodowik Mella menggugat ganti rugi tanah seluas 312 Ha di Desa Konbaki, Kecamatan Polen yang masuk dalam lahan pembangunan Bendungan Temef.

Tak tanggung-tanggung, Fransiskus Mella menggugat biaya ganti rugi lahan kepada pemerintah sebanyak Rp 312 miliar atau per meternya dihargai dengan Rp 100.000.

Dalam gugutannya tersebut Mella didampingi kuasa hukum dari firma ABP dan paralegal LKBH Fakultas Hukum Undana. Ada empat pihak yang digugat oleh penggugat yaitu, Gubernur NTT, Kementerian PUPR, Bupati TTS dan Nindya Karya. Saat ini sidang perdata gugatan ganti rugi lahan tersebut masuk dalam tahap mediasi. (Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Dion Kota)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved