Salam Pos Kupang

Penanggulangan Terpadu Ulat Grayak

Mari membaca dan simak Salam Pos Kupang berjudul penanggulangan terpadu ulat grayak

Penanggulangan Terpadu Ulat Grayak
ISTIMEWA
Hama ulat grayak menyerang tanaman jagung 

Mari membaca dan simak Salam Pos Kupang berjudul penanggulangan terpadu ulat grayak

POS-KUPANG.COM - DI tengah kekhawatiran gagal tanam akibat minimnya curah hujan di NTT, terjadi serangan hama ulat grayak. Dari laporan wartawan Pos Kupang, ulat grayak menyerang tanaman jagung di Flores Timur, Nagekeo dan Sumba Timur.

Serangan ulat grayak di Flores Timur bahkan sudah ditetapkan bupati setempat sebagai kejadian luar biasa (KLB). Dilaporkan bahwa hama tersebut mulai menyerang tanaman jagung petani sejak awal Januari 2020.

Anda Wajib Tahu, 4 Manfaat Air Rebusan Terung dan Lemon

Hingga akhir Januari 2020, jumlah tanaman jagung yang rusak diserang ulat grayak, menurut data dari Humas Setda Flores Timur mencapai 4.481 ha. Aparat Dinas Pertanian setempat sudah berusaha melakukan pengendalian dengan melakukan penyemprotan obat pengendali tanaman, namun hanya mencapai 1.500 ha.

Ulat grayak yang menyerang tanaman jagung di Flores Timur dan daerah-daerah lainnya merupakan ulat grayak jenis baru. Karena itu, tentu saja membutuhkan penanganan dengan cara baru dan spesifik. Kita harapkan Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian di daerah-daerah berusaha menemukan cara terbaik sehingga serangan ulat ini bisa dikendalikan dan dihentikan.

Jangan Makan Buah Nangka Saat Dalam 6 Kondisi Seperti Ini

Namun, menghadapi serangan hama apalagi sampai pada tingkat KLB tidak cukup dengan kerja keras jajaran kementerian/dinas pertanian, melainkan harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh.

Terpadu artinya kita menerapkan berbagai cara penanggulangan mulai dengan cara paling sederhana dan alamiah hingga penggunaan insektisida atau pestisida. Terpadu juga artinya melibatkan semua stakeholder atau instansi, untuk secara bersama-sama dan serempak melakukan penanggulangan.

Dalam kondisi seperti ini hendaknya tidak ada sikap menonton bahkan mempersalahkan instansi terkait atau para petani. Kita fokus pada penanggulangan agar serangan hama ini tidak terus meluas dan merusak semakin banyak tanaman petani.

Minimalisir sikap birokratis yang menghambat. Dibutuhkan inisiatif dan tindakan cepat dan cerdas. Efektifkan penggunaan media komunikasi untuk memperlancar informasi dan koordinasi. Dukungan bahkan desakan dari legislatif sangat diperlukan saat ini agar upaya penanggulangan berjalan lancar.

Semua kita tentu tidak pernah menginginkan bencana seperti ini, apalagi para petani yang menggantungkan sebagian besar hidupnya pada hasil pertanian. Namun, dari penjelasan para pakar kita tahu bahwa bencana penyakit seperti ini antara lain juga disebabkan cuaca yang tidak menentu. Lebih-lebih karena pada musim tanam tahun ini curah hujan sangat minim yang memicu berkembangnya berbagai jenis hama tanaman.

Ya, kita harus sadari bahwa pertanian kita masih bergantung sepenuhnya pada kondisi alam. Kalau curah hujan cukup dan bebas hama, maka para petani boleh berharap untuk mendapat hasil yang memadai. Tetapi kalau curah hujan rendah diikuti serangan hama, maka pupuslah harapan petani.

Tidak gampang memang jadi petani. Tetapi coba bayangkan kita hidup tanpa petani. Mustahil. Karena itu, kita harus memberikan perhatian besar kepada petani dan pertanian. Jauhkan tindakan-tindakan yang berdampak buruk bagi pertanian.

Berpikir dan bertindaklah sebagai suatu ekosistem. Jagalah keseimbangan ekosistem dengan tidak merusak alam. Sebaliknya, kita harus punya andil dalam membagun ekosistem yang seimbang dengan melestarikan alam.

Akhirnya. marilah kita bersama-sama bergandengan tangan menanggulangi hama ulat grayak yang sedang menyerang tanaman petani. Keberhasilan menangani hama ini akan menentukan sukses tidaknya usaha pertanian tahun ini. Tetapi kalau gagal, maka sudah pasti kita berada di ambang gagal panen yang membawa kita kepada krisis pangan tahun ini. Tentu kita tidak harapkan.*

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved