Rafael Levis Pengamat Pertanian Undana Sebut Ulat Grayak Bencana Petani NTT

Leta Rafael Levis pengamat pertanian Undana Kupang sebut ulat grayak bencana petani NTT

POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Leta Rafael Levis Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di Kantor DPD Perwakilan Provinsi NTT, Selasa (7/1/2020). 

Leta Rafael Levis pengamat pertanian Undana Kupang sebut ulat grayak bencana petani NTT

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Dr. Leta Rafael Levis pengamat pertanian dari Universitas Nusa Cendana ( Undana) Kupang menyebut ulat grayak bencana bagi para petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Hal itu disampaikan Levis kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (5/2/2020) menanggapi maraknya ulat grayak yang akhir-akhir ini meresahkan petani di sejumlah di Provinsi NTT.

Pemerintah Australia Ingin 5.000 Orang Indonesia Kerja Sambil Libur di Australia, NTT Prioritas

Dia jelaskan ulat Grayak atau Grayak Jagung FAW (fall army worm) adalah serangan hama paling dasyat saat ini menyerang jagung di NTT.

"Ini sebagai akibat dari perubahan iklim global yg menyebabkan curah hujan tidak menentu serta berakibat munculnya berbagai hama seperti ulat grayak," kata Levis.

Ini Kronologi Sebenarnya Kasus Guru Siksa Murid Minum Air Kotor di Lembata

Dia katakan, karena serangan grayak meluas maka tindakan tidak bersifat partial tetapi harus secara bersama-sama dari berbagai stakeholder untuk mengatasinya. Bahkan, menurutnya, di beberapa daerah dilibatkan juga anak sekolah.

"Sebenarnya ulat ini bisa diseprot dengan pestisida jenis Proclaim 5SG. Akan tetapi penggunaan saat ini harus mendapat rekomendasi dari kementrian pertanian," jelasnya.

Lanjutnya, proses penggunaan untuk mendapatkan rekomendasi penggunaan peptisida pasti lama. "Bisa butuh waktu 1 bulan padahal di lapangan ulat ini terus berkembang," kata dia.

Kendala lain, ujar Levi, persediaan Proclaim 5SG ini masih sangat terbatas padahal areal serangan luas dan masif.

"Contoh, kabupaten Flores Timur saja dilaporkan dan membutuhkan pestisida untuk luas tanaman jagung seluas 4.500 hektar. Belum lagi kabupaten lain. Jadi inilah menurut analisa saya beberapa waktu yang lalu bahwa peluang gagal panen tanaman jagung di NTT sangat besar jika curah hujan tidak menentu," ungkapnya.

Levi menyarankan, untuk mengatasi ulat grayak ini maka Dinas Pertanian harus melibatkan BPBD sebab serangan ulat yang bersifat masif ini seharusnya dipandang sebagai bencana bagi para petani. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved