News
Kabupaten Sumba Timur Masih Dilanda Kekeringan Ekstrem, Petani Catat Ternyata Ini Penyebabnya
Kekeringan di Sumba Timur terjadi karena ada low pressure atau tekanan udara rendah di wilayah utara Australia.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo
POS KUPANG, COM, WAINGAPU - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Umbu Mehang Kunda (UMK) Waingapu memperkirakan wilayah Sumba Timur mengalami panas alias tidak turun hujan antara dua hingga tiga hari ke depan.
Hal ini terjadi karena ada low pressure atau tekanan udara rendah di wilayah utara Australia.
Hal ini disampaikan forecaster (prakirawan) BMKG Stasiun Meteorologi UMK Waingapu, Yeni Margareth Thenu, kepada Pos Kupang, Selasa (28/1).
Yeni menyebut terdapat tiga titik tekanan udara yang rendah di wilayah utara Australia dan juga terdapat pusaran eddy atau tekanan udara yang rendah secara tertutup di Sulawesi.
"Massa udara atau uap air yang ada di atas Pulau Sumba ini tertarik ke tekanan udara yang rendah tersebut, akibatnya Sumba Timur ketiadaan hujan," terang Yeni.
Sesungguhnya, diakui Yeni, suhu udara di permukaan laut di perairan Sumba sudah cukup hangat, terkhusus di bagian selatan Sumba untuk menciptakan penguapan udara yang kemudian dapat membentuk awan terjadinya hujan.
Namun karena adanya penurunan tekanan udara yang rendah di wilayah Utara Australia dan wilayah perairan Sulawesi, awan yang terbentuk di udara Sumba Timur tertarik ke tiga titik udara yang rendah di perairan utara Australia dan Sulawesi. Dampaknya dalam tiga hari terakhir tidak ada hujan di wilayah Sumba Timur.
Kondisi ini, diakuinya, masih akan berlangsung dua hingga tiga hari ke depan. Namun tidak menutup kemungkinan akan terjadinya hujan lokal di sejumlah wilayah Sumba Timur, disebabkan adanya pelambatan udara saat angin membawa awan.
"Arah angin itu terkadang ada tikungannya juga. Jadi ibarat saat kita berkendara, sampai di tikungan pasti kita akan melambat. Jadi di situlah akan ada kemungkinan hujan lokal," jelas Yeni.
Kepala Stasiun Meteorologi UMK Waingapu, Elias Limahelu, menambahkan pergeseran curah hujan yang terjadi saat ini disebabkan adanya pemanasan global di dunia saat ini.
Karenanya selalu ada cuaca ekstrem, antara panas yang ekstrem atau hujan yang ekstrem dikarenakan adanya perubahan suhu udara di bumi yang dapat berubah kapan saja. "Data BMKG Indonesia tidak kita simpan sendiri, juga kita bagikan ke negara-negara lain," jelasnya.
Mengenai puncak musim hujan di Sumba Timur, Elias, mengatakan, sesuai data prakiraan, akan terjadi Februari hingga Maret mendatang. *