Akibat Cuaca yang Ekstrim Produksi Petani Bisa Turun 60 Persen
Ancaman rawan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah di depan mata, menyusul pergeseran waktu tanam para petani yang hampir sebulan
Penulis: Paul Burin | Editor: Hermina Pello
POS-KUPANG.COM | NAIBONAT - Ancaman rawan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah di depan mata, menyusul pergeseran waktu tanam para petani yang hampir sebulan dibanding musim tanam tahun sebelumnya.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTT mengestimasi produksi pertanian pada kali ini bisa menurun pada kisaran 50 sampai 60 persen.
Biasanya dalam kondisi normal, waktu tanam pada lahan kering umumnya jatuh antara akhir November sampai tengah Desember.
Tapi, sekarang jatuh pada awal sampai tengah Januari 2020. Pergereseran waktu tanam ini sebagai konsekuensi dari gangguan curah hujan di musim ini.
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTT, Dr. Procula Rudlof Matitaputy mengatakan hal ini ketika ditemui Pos Kupang di kantornya di Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, berjarak 33 kilometer timur dari Kupang, Ibukota Provinsi NTT, Senin (20/1/2020).
Didampingi Kepala Seksi Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP), Dr. Tony Basuki; Koordinator Program dan Evaluasi, Dr. Bernard deRosari, dan Ketua Kelompok Peneliti Bidang Budidaya Pertanian, Dr. Evert Y. Hosang, Procula mengatakan, kondisi ini boleh dibilang ekstrim.
• Hanya Bulan Ini, Beli Vivo S1Pro Dapat Cashback Rp300 Ribu
• Kementan Awasi Distribusi Pupuk Dengan Prinsip 6T
Risikonya kata Rudy, demikian panggilan akrabnya, bisa mengganggu penurunan produksi pangan khususnya jagung bahkan bisa menjurus pada puso.
Dari data dan informasi yang teramati kata Rudy, pada 70 desa di tujuh kabupaten di Timor dan Sumba menunjukkan bahwa baru 26 desa atau 37 % yang tertanam pada posisi 29 Desember 2019.
Bahkan kata dia, ada empat kabupaten, yaitu Malaka, Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS) yang belum tertanam saat itu.
Namun, Rudy mengatakan, dalam awal Januari 2020, hujan cenderung mulai merata, sehingga petani-petani berlomba untuk menyelesaikan penanaman. Mereka memrioritaskan penananaman jagung di lahannya.
Posisi pada 17 Januari 2020, kata dia, terkumpul data dan informasi pada wilayah yang sama, ternyata hampir 100 % desa dari 70 desa telah tertanam, walaupun belum semua lahan tertanam.
Apa makna dari informasi teknis ini, Rudy mengatakan punya dua kemungkinan implikasi. Pertama, akan terjadi penurunan produksi 50 sampai 60 persen dari biasanya. Kedua, bisa terjadi puso atau gagal panen.
• REI NTT Imbau Masyarakat Waspada Perumahan Bodong Berkedok Syariah
Menurut Rudy, jika terjadi akhir musim hujan seperti musim sebelumnya, yang biasanya jatuh pada akhir Maret atau awal April, dengan waktu tanam awal Januari sampai tengah Januari, maka berpeluang tanaman jagung yang mulai masuk fase pembungaan mengalami stres hingga menjadi kering.
Pada kluster ini, kemungkinan yang terjadi adalah penurunan produksi seperti tersebut di atas. Selanjutnya, jika waktu tanam jatuh pada akhir Januari, maka kemungkinan yang terjadi adalah gagal panen karena sebelum pembungaan sudah terjadi kekeringan.
Dua kemungkinan ini kata dia, bisa terjadi sekalipun curah hujan bulan Februari normal. Rudy menawarkan jalan keluar, yakni Pemerintah Provinsi NTT dan kabupaten, harus memulai saat ini menganalisis ketahanan pangan sebagai bentuk antisipasi menghadapi sinyal ini.