Breaking News

Ketua APINDO NTT, Freddy Ongkosaputra: Dua Sektor Ini Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Kata Ketua APINDO NTT, Freddy Ongkosaputra: dua sektor ini tingkatkan Pertumbuhan ekonomi

Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Petrus Piter
Ketua PHRI NTT, Freddy Ongkosaputra sedang memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurus PHRI Sumba Barat Daya di hotel Sinar Tambolaka, Sumba Barat Daya, Jumat (28/6/2019) 

Kata Ketua APINDO NTT, Freddy Ongkosaputra: dua sektor ini tingkatkan Pertumbuhan ekonomi

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Menurut Ketua APINDO NTT, Freddy Ongkosaputra, pertumbuhan ekonomi harus dibangkitkan melalui sektor pertanian dan peternakan. Selama ini tidak ada karena masyarakat NTT menjadi konsumen.

Freddy kepada wartawan di Kupang mengatakan yang harus ditingkatakan adalah pertanian dan peernakan karena tidak ada sumber lainnya. Industri tidak ada, apa yang mau dikirim.

Alumni SMP Negeri 2 Kupang Bantu Sumur Bor di TTS

Kata Freddy kalau mau dibilang hubungan NTT Timor Leste, NTT tidak ada prodak, prodaknya Jawa Timur.

Orang mengirim dari Jatim ke Tiles lebih murah dibandingkan dari NTT ke Timor Leste. Dari Jawa Timur kirim ke Timor Leste bebas PPN, sedangkan barang datang ke NTT kena PPN 10 persen.

Penyerang Penyidik KPK Novel Baswedan Ditangkap, dari Janggal, Prihatin Sampai Ucapan Selamat

"Bagaimana bisa mengirim ke Timor Leste? Inilah masalah yang tidak diketahui orang-orang. Takutnya dari Timor Leste yang berdagang dengan NTT karena bebas ppn. Kalau pintu gerbang terbuka suatu saat bisa beras dan gula dari Timor Leste," tuturnya.

Ia mengatakan yang harus didorong ialah pertanian dan peternakan. Buah-buahan saja masih masuk dari Jawa. Dengan meningkatkan pertanian maka didapatkan limbah pertanian yang sebagai sumber pangan bagi peternakan.

"Omong kosong kalau peternakan kita beli makanan pabrik. Jadi dikatakan ekonomi NTT tumbuh darimana? kita semua konsumen. Perdagangan harus diatasi dengan peraturan menteri, apakah boleh daerah bebas PPN? ini jadi masalah," ujarnya.

Sedangkan untuk menata pariwisata NTT, menurutnya harus mengambil manajemen ahli pariwisata dari Singapura. Pariwisata harus diatur karena tidak semua orang mengerti pariwisata.

Contohnya semua daerah membuat festival apakah festival tersebut memberi manfaat bagi tempat wisata ataukah hanya membuang dana?. Apakah tempat wisata tersebut terpelihara dan sudah siap?

Menurutnya tidak semua tempat-tempat wisata yang dipikirkan oleh Pemda itu bisa dijual. Maka itu perlu pakar luar negeri untuk melihat tempat wisata yang bisa dijual.

Pemerintah, lanjutnya, harus membuat kalender event satu tahun sebelumnya. "Kita harus disiplin membuat sesuatu yang sesuai keinginan luar negeri. Jadi kedisplinan itu belum ada dan itu tanda kegagalan dari pariwisata. Kita kaya tapi tidak ada yang mau mengurus.

Padahal leader suatu daerah menentukan pertumbuhan suatu daerah. Karena jumlah yang mau datang ke NTT banyak tapi ongkosnya mahal, biaya transportasi terlalu tinggi.

"Contohnya mau Labuan Bajo ke Kelimutu taxinya mahal. Kenapa Pemda tidak bisa mengatur bus untuk perjalanan wisata," ujarnya.

Oleh karena itu Pemerintah harus mendorong sektor pertanian dan peternakan di NTT. (Laporan Reporter Pos-Kupang.Com, Yeni Rahmawati)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved