Pupus Harapan OGDJ di Sikka Tempati Rumah Bebas Pasung

Ibarat bertepuk sebelah tangan. Biara St.Kamilus Maumere di Pulau Flores mengebu-gebu mendirikan rumah bebas pasung bagi pasien

Pupus Harapan OGDJ di Sikka Tempati Rumah Bebas Pasung
POS-KUPANG.COM/Seminari St. Kamilus-Maumere
Rektor Seminari St.Kamilus, Romo Andi, MI, mengunjungi Yohanes di Baomekot, Kecamatan Hewkoloang, Senin (16/12/2019).

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Ibarat bertepuk sebelah tangan. Biara St.Kamilus Maumere di Pulau Flores mengebu-gebu mendirikan rumah bebas pasung bagi pasien, orang dengan gangguan jiwa ( OGDJ) di Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka.

Ditargetkan sebelum perayaan natal, 25 Desember 2019, bangunan harus selesai ditempati Yohanes, penderita OGDJ, hampir 20-an tahun dipasung.

Namun harapan Yan, sapaan Yohanes terkubur selamanya. Saudara kandung Yan menolak dibangun rumah bebas pasung berdampingan dengan rumah warisan ayahnya yang telah tiada beberapa tahun silam.

Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Kupang Gelar Natal Bersama, Ini Temanya

"Kami mengucapkan terimakasih kepada saudara sekalian yang menaruh perhatian kepada pasien kami, Yan. Kami ingin menyampaikan bahwa harapan anda dan kami untuk membebaskannya harus sirna di tahun 2019 ini," tulis Rektor Seminari St. Kamilus-Maumere,Romo Andi, MI kepada pos-kupang.com,Kamis (19/12/2019) pagi di Maumere.

Batalnya pembangunan rumah bebas pasung, tulis Romo Andi, ditolak sudara kandung Yohanes. Ia tidak suka rumah bebas pasung ini dibangun di samping rumah orangtuanya. Ia memaksa agar rumah tersebut dibangun di samping rumahnya.

Selamatkan Pasien Sakit di Rumah Sakit Leona, Lima Anggota Kodim Donorkan Darahnya

Padahal, dia tidak pernah mengurus Yohanes selama ini. Yohanes diurus ibu kandungnya, Maria Buko (83) dan keponakan Yohanes. Mereka yang minta agar rumah itu dibangun di rumah mamanya, lokasi Yohanes dipasung.

"Kami telusuri kemarin, isu yang berkembang si kakak ini telah diserahkan tugas oleh ayahnya sebelum meninggal untuk menggantikan ayah mereka. Meski dia tidak menjalankan tanggungjawab itu untuk mengurus adiknya yang sakit dan mamanya yang sudah tua. Ketika ada bantuan untuk Yohanes, dia memaksa harus melalui dia, karena dia merasa sebagai pengganti ayah," ujar Romo Andi.

Romo Andi, mengakui mama Maria Buko tidak bisa berdaya karena sudah tua. Mereka menghendaki rumah bebas pasung dibangun disamping rumah induk, namun ada ancaman dari saudara kandung Yohanes akan terjadi perpecahan dan pertumpahan darah dalam keluarga.

"Hanya air mata kekecewaan yang ada di mata mama Mario Buko dan keponakan Yohanes," pungkas Romo Andi. (laporan reporter pos-kupang.com, eginius mo'a).

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved