Rayakan HUT, Simak Kiprah 25 Tahun Rozali Hussein Bangun Yayasan Tanaoba Lais Manekat

Rayakan HUT, Simak Kiprah 25 Tahun Rozali Hussein Bangun Yayasan Tanaoba Lais Manekat

Rayakan HUT, Simak Kiprah 25 Tahun Rozali Hussein Bangun Yayasan Tanaoba Lais Manekat
POS-KUPANG.COM/Yeni Rachmawati
Uniting World Volunteer, David Mileham, Manager Utama KSP TLM, Zelsy Pah, Indonesia and Community Development Director, Simon Lynch dan Direktur Eksekutif Yayasan TLM, Rozali Hussein, pose bersama, Rabu (4/12/2019). 

"Yang pertama kali saya bangun dengan anak-anak yaitu komitmen. Bila komitmen kuat maka rintangan bukan masalah. Sudah ditekankan bahwa kita harus memikirkan orang lain, karena bila kita memikirkan orang lain maka Tuhan akan memikirkan kita. Sebab visi kita mau berkembang jadi semua staf punya komitmen mau berkembang dan tidak cepat puas," tuturnya.

Ia mengambil contoh KSP TLM mungkin menjadi KSP yang pertama yang membuka cabang di luar kota Kupang yaitu di Ruteng.
Karena dirinya ingin mengajarkan anak-anak bahwa harus melihat dunia yang lain .

Setelah staf terbiasa beroperasional di luar maka dibukalah cabang di Bali. Hal ini untuk membiasakan staf. Kemudian pada tahun 1997 atau 1998 semua kepala divisi dikirim ke Filipina untuk belajar.

"Itu biaya cukup besar, orang belum berpikir kita sudah berpikir itu. Tujuannya cuma satu, staf yang sudah punya komitmen mau berkembang maka harus dibekali. Sekarang anak-anak sudah berpikir untuk mau berkembang dimana saya memberi kepada mereka bagaimana anak-anak NTT berpikir tidak seperti anak-anak NTT. Anak-anak TLM harus nekad dengan melaksanakan segala pekerjaan. Kita bisa melakukan sesuatu kalau diberkati, tidak melakukan sesuatu kalau tidak diberkati dan untuk mendapat berkat maka relasi dengan Tuhan harus diperbaiki. Aplikasinya seperti itu," kata Rozali.

Sebetulnya, lanjutnya, mendirikan usaha ini memiliki dua tujuan yang penting yaitu melayani kebutuhan masyarakat yang tidak melayani orang lain dan mencari keuntungan. Sampai saat ini masih banyak orang-orang yang belum terlayani. Contohnya sekarang masih banyak orang mencari perumahan, tapi unit usaha belum bergerak di bidang itu.

Contoh lainnya, di NTT banyak bicara terkait produksi, jarang sekali tentang marketing padahal kalau pengentasan kemiskinan seharusnya ada nilai ekonomi.

Misalnya meningkatkan produksi bawang tidak membuat petani kaya, tetapi bila sudah dijual menghasilkan uang barulah mengurangi kemiskinan.

Jadi koperasi akan berkembang untuk menjawabi apa yang dibutuhkan masyarakat dan belum disentuh oleh koperasi.

"Dulu kita pernah membantu menjual rumput laut di Rote karena waktu itu ada monopoli. Kita bantu modal dan menanam rumput laut setelah datang pembelinya kami keluar dari situ," katanya.

Sampai saat ini sudah sekira 25 tahun berkiprah di Yayasan TLm ia percaya dengan semua staf yang ada.

Halaman
1234
Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved