Dari Kocek, Ester Danai Operasional PAUD Inklusi di Maumere Sikka

Dari Kocek, Dwi Angelina Ester Santoso Danai Operasional PAUD Inklusi di Maumere Sikka

Dari Kocek, Ester Danai Operasional PAUD Inklusi di Maumere Sikka
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Murid PAUD Profisio Mof di Kelurahan Kota Uneng,Kecamatan Alok, Kota Maumere, Pulau Flores, Kamis (5/12/2019). 

Dari Kocek, Dwi Angelina Ester Santoso Danai Operasional PAUD Inklusi di Maumere Sikka

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Cita-cita Dwi Angelina Ester Santoso, mendirikan PAUD Inklusi di wilayah domisilinya di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, akhirnya terwujud.

PAUD Profisio Mof dibangun September 2019 berada dibawah Yayasan Profisio Mof menjawabi kebutuhan pendidikan anak-anak normal dan berkebutuhan khusus.

Harian Pagi Pos Kupang Raih Juara 1 Media Terbaik

Empat bulan beroperasi, PAUD mendidik 21 anak, empat anak berkebutuhan khusus dan lima anak menjalani rehabilitasi ketergantungan gadget diasuh empat orang guru.

"Kami merasa terpanggil mendirikan PAUD untuk anak berkebutuhan khusus dan bagi anak-anak di lingkungan sekitar yayasan kami berada," kata Kepala Sekolah PAUD Profisio Mof, Dwi Angelina Ester Santoso, Kamis (5/12/2019) di Maumere.

Dua Menteri Sri Mulyani dan Erick Thohir Paparkan Kronologi Penyelundupan Harley Davidson

Pendirian dua ruangan kelas PAUD dilakukan dengan berbagai keterbatasan. Kesulitan biaya, satu ruang kelas belum diatap. Ester berharap ada orang tergerak membantu pembangunan ruang kelas ini.

"Biaya operasional sekolah dari gaji saya dan suami. Anak-anak juga tidak membayar iuran, pakaian seragam didapat gratis," ungkap Ester.

Ester mengatakan, anak autis belum bisa diterima di PAUD. Mereka harus memiliki ruang sendiri dan setiap anak harus dididik satu orang guru.

PAUD Inklusi ini memprioritaskan anak-anak berkebutuhan khusus dan ringan dengan range intelegensinya 70-80. PAUD inklusi atau gabungan antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal.

PAUD inklusi pertama di Maumere ini juga menerima anak-anak yang terlambat belajar, anak berkebutuhan khusus yang memiliki kategori masih mampu dididik dan belajar bersama anak-anak normal lainnya.

"Ada orang tua yang tidak mau anaknya masuk Sekolah Luar Biasa (SLB). Kita juga merehabilitasi anak yang maniak gadget atau telepon genggam sebanyak lima orang. Pada saat masuk sekolah pertama kesulitan karena lebih suka sendiri dan bermain dengan telepon genggam," jelasnya.

Namun, setelah dididik, anak-anak ini mengalami perubahan perilaku. Malah ada anak yang suka makan tanah, tapi sekarang sudah baik tapi emosinya yang masih meledak-ledak. (laporan reporter pos-kupang.com, eginius mo'a).

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved