Warga TTS Tewas Disambar Petir

Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir Dimakamkan Esok, Didahului Ritual Adat

Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir dimakamkan esok, didahului ritual adat

Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir Dimakamkan Esok, Didahului Ritual Adat
Istimewa POS-KUPANG.COM
Sarci Tanu sedang memeluk jenazah anaknya yang tewas disambar petir, Senin (2/12/2019) siang. 

Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir dimakamkan esok, didahului ritual adat

POS-KUPANG.COM | SOE - Mikael Nenoliu, ayah Dona Nenoliu (22), korban meninggal akibat disambar petir sudah merelakan kepergian anaknya. Dirinya mengikhlaskan kepergian anak pertama dari enam bersaudara tersebut.

Direncanakan esok, Selasa (3/12/2019) jenazah korban akan langsung di makamkan di halaman rumah korban di Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan.

BREAKING NEWS: Hendak Menerima Telepon Dibawah Pohon Asam, Dona Tewas Disambar Petir

"Besok rencana mau langsung kubur pak. Nanti kubur di halaman rumah saja pak," ungkapnya lewat sambungan telepon, Senin (2/12/2019) sore.

Sebelum pemakaman, lanjut Mikael, akan didahulu dengan ritual adat untuk mendoakan arwah korban.

"Besok nanti acara adat baru kubur pak," ujarnya.

Untuk diketahui, korban merupakan anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan suami istri, Mikael Nenoliu dan Sarci Tanu. Korban diketahui belum menikah.

Komisi I DPRD TTS Minta BKD Panggil Kadis Pariwisata, Terkait ASN dan Tenaga Kontrak

Untuk diketahui, Niat Dona Nenoliu pria lajang berusia 22 tahun untuk menerima telepon di bawah pohon asam justru berujung petaka. Dona tewas seketika tersambar petir, Senin (2/12/2019) siang saat tengah menerima telepon di bawah pohon asam.

Ayah korban, Mikael Nenoliu yang dihubungi pos kupang.com melalui sambungan telepon seluler, Senin (2/12/2019) membenarkan kejadian yang menimpah anak pertamanya tersebut.

Diceritakannya, Koran bersama ibu dan kedua adiknya dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Panite menuju rumahnya di Desa Mio usai berobat.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba hujan mulai turun sehingga korban bersama sang ibu dan kedua adiknya memilih berteduh sejenak di salah satu rumah kosong.

Saat berteduh, muncul panggilan telepon masuk di handphone milik korban. Korban pun langsung menyebar ke sebelah jalan tepatnya di bawah pohon asam guna mengangkat telepon.

Bebelum beberapa saat korban tiba di bawah pohon asam, tiba-tiba petir turun dan langsung menyambar tubuh korban. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved