Berita Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk! Siapa Tahu Karyamu Ada di Sini

Puisi Pos Kupang Minggu Ini: Puisi-Puisi Itho Halley, Puisi Petrus Nandi.

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk! Siapa Tahu Karyamu Ada di Sini
pos kupang
Cerpen Aku dan Rinduku 

Puisi-Puisi Itho Halley
Wanita Kemarin Siang
(Pesan buat Magdalena)

Magdalena
Air mata wanita di kamarku yang belum sempat kurapikan dengan doa pagi
adalah air mata dari ceruk mata wanita yang kujumpai kemarin siang
air matanya mengalir membasahi tubuhku yang katanya lupa didoakan pada pagi yang malang
diantara malam yang sudah disetubuhi dan mimpi yang tidak sempat lagi jadi bunga tidur

Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir di TTS Berprofesi Sebagai Tukang Ojek

Magdalena
Sebuah pesan yang kutulis untukmu dari perjumpaanku dengan wanita kemarin siang,
Buat kamu tidak lekas cemburu:
Kemarin wanita dan air matanya menemuiku di kamar yang belum sempat kurapikan
Dengan doa pagi dan saat ketika jendela kacaku sudah kuletakan wajahmu
karena ingin kusudahi ritual lama menatap kaca jendela
Air mata wanitanya menggenang di kepalaku
sampai-sampai mendung seketika dan menghujani ingatan-ingatanku.
Di kamarku aku ingat bahwa ceritanya sampai hari tadi belum sempat kurapikan tempat tidurku
Dengan doa pagi dan lupa kurapalkan doa yang sudah kujanjikan buat wanita dan air matanya
Yang kujumpai kemarin siang
(Mikhael, 07/10/19)

Begini Hasil Visum Terhadap Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir di TTS

Melati Kopi

1//
Veronicae
Di meja belajar melati yang mekar
Luruh seketika
Saat kuletakan secangkr kopi butanmu
2//
Vereonicae
Kamu yang memberi melati dan secangkir kopi untuk ku bukan?
Malang,
ternyata melatimu adalah pagi yang menipu setelah perjumpaan
Dan pekat kopinya adalah malam yang menjelma belati
(Nenuk, 05/04/19)

Begini Hasil Visum Terhadap Jenazah Dona Nenoliu Korban Tewas Disambar Petir di TTS

Puisi Petrus Nandi
Sehabis Hujan

Engkau masih di situ juga, rupanya. Duduk merenung setelah lama
mewanti bilangan butir hujan yang merobek dedaunan hutan dan
bersikeras menanti kembalinya sekepul debu yang luntur dari
permukaan jalan itu. Ada yang tak ingin kaulupa dengan tega:
Sebuah senja yang lampau, selepas gerimis kecil,
saat hujan tak sempat melawat.
Di sanalah takdir merengkuh segala yang kaucinta dan menyisakan
bagimu suatu kesendirian yang paling abadi.
Awan memang tak pernah kehilangan kiat. Selalu ada cara dia
merawat ingatan itu, sebelum kau benar-benar lupa.
Dikirimnya selaksa titik air yang menyapa atap rumah, maka bangkitlah
sepenggal kisah yang tak termakan jalinan waktu, dibawanya
bayang rupa senja itu dan kau pun lelap dalam kisahnya. Kau benar-benar terlelap.
Kini ia kembali hidup, dan mulailah ia memperdayaimu.
Digerakkannya tanganmu tuk menggapai dan membolak-balikkan album yang telah lama kau simpan di sebuah ruang tamu, di mana wajah ayahanda mengisi seluruh lembarannya, hingga basah oleh air yang bersumber dari bola matamu.
Dan, mata mana pula yang tak merelakan genangan airnya mengalir bila hati sudah terlampau risau dan gunda?
Hujan telah berhenti bercerita. Yang tertinggal hanyalah genangan air di muka rumah. Pada permukaannya ada anak-anak desa sedang tertawa ria sambil mengagumi warna-warni pelangi yang dilukis bukit pada kolong awan yang tebal. Kaubisikkan sepenggal pinta pada awan agar lekas dikembalikannya hujan malam nanti, biar kau
kembali terlelap dalam kisahnya, dan menangis. Dan menangis.
(Puncak Scalabrini, September 2019).

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved