Ini Penjelasan Profesor dari Brawijaya Malang Terkait Resapan Air
Pemerintah Kota Kupang agar ketersediaan air bersih memadai sehingga bisa memenuhi berbagai kebutuhan warga.
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
Ini Penjelasan Profesor dari Brawijaya Malang Terkait Resapan Air
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Ketersediaan air bersih di Kota Kupang masih menjadi sorotan. Berbagai upaya tengah dijalankan oleh Pemerintah Kota Kupang agar ketersediaan air bersih memadai sehingga bisa memenuhi berbagai kebutuhan warga.
Salah satu upaya jangka panjang yang tengah dijalankan oleh Pemkot Kupang saat ini yakni menanam ribuan pohon disejumlah lokasi dan meminta warga membuat resapan air. Warga juga diimbau menanam pohon, satu KK satu pohon.
Prof. Dr. Ir. Lily Montarcih Limantara M. Sc, Dosen dari Universitas Brawijaya Malang, diwawancarai POS-KUPANG.COM, usai memberi kuliah umum tentang 'Penerapan Hodrologi Bagi Pengelolaan Sumber Daya Air' di Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang (PNK), mengatakan, menanam pohon dan membuat resapan air penting untuk kehidupan manusia.
Dia katakan, menanam pohon dan membuat sumur resapan bisa mengendalikan banjir, melindungi dan memperbaiki konservasi air tanah. Menurutnya fungsi utamanya yakni menyerap air dan menampung air hujan lalu meresapkannya ke dalam tanah.
Dia jelaskan, pembagunan bendungan bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi minimnya ketersedian air, namun harus didahului dengan kajian yang tepat.
"Harus dilakukan penataan air atau water balancenya, kita tidak hanya bangun kita harus tau sumber airnya, berapa potensi yang bisa kita manfaatkan dan untuk apa, lalu bagaimana kita mengatur pembagian airnya," jelas profesor Lyli.
Menurutnya dengan menanam pohon lebih banyak lagi, maka penyerapan air ke dalam tanah. "Kalau banyak air terserap ke dalam bisa konsumsi air tanah dan tentu bisa dimanfaatkan," ungkapnya.
Sementara itu, Sutirto ST, MT, dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang (PNK) diwawancarai terpisah menjelaskan, topografi di wilayah Provinsi NTT cukup kompleks, ditambah dengan perubahan cuaca yang tak menentu.
Sutirto juga menyoroti daerah aliran sungai (DAS) Dendeng di Kota Kupang. Menurutnya, perlu dilakukan penataan dan konservasi di bagian hulu DAS Dendeng, tidak hanya memperbaiki infrastruktur di hilir. Konservasi dimaksud yakni civil teknis dan penghijauan.
Dia jelaskan, civil teknis, misalnya dengan memasang teras bambu, untuk mengendalikan banjir atau erosi. Selain itu, lanjutnya, perlu ditegaskan bahwa masyarakat tidak boleh membangun bangunan atau rumah di daerah konservasi atau DAS.
"Jadi jelas, mana daerah konservasi, kita tidak boleh bangun rumah, jalan atau bangunan lainnya, supaya limpasan air permukaan bisa diperkecil," kata dia.
Ia katakan, upaya yang dilakukan oleh Pemkot Kupang, tanam pohon dan buat sumur resapan merupakan, upaya untuk konservasi. Menurutnya hal lain yang perlu dibuat yakni membuat parit jebakan air di bagian hulu air.
"Kita buat parit searah kontur supaya kandungan air semakin banyak dan penduduk di hulu perlu membuat itu. Kita dengan musim hujan pendek, kita harus bisa membuat air itu meresap ke tanah," jelasnya.
Instruksi Wali Kota Kupang Tentang Gerakan Kupang Hijau
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kuliah-umum.jpg)