Undana Kupang Gelar Konferensi Internasional Bahas Perubahan Iklim di NTT
Lembaga Undana Kupang Gelar Konferensi Internasional Bahas Perubahan Iklim di NTT
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
Lembaga Undana Kupang Gelar Konferensi Internasional Bahas Perubahan Iklim di NTT
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Universitas Nusa Cendana Kupang ( Undana Kupang) menggelar konferensi internasional untuk membahas perubahan iklim di dunia khusunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Konferensi tersebut mengusung tema "Plant Biosecurity and Biodiversity In Dryland Areas In a Time of Climate Change" (keamanan dan keanekaragaman hayati tanaman di wilayah lahan kering saat perubahan iklim) itu digelar di Hotel Swiss Bellin Kristal, Senin (18/11/2019).
• Kericuhan Perusahaan Mutiara, Bupati Lembata Panggil PT Cendana Indopearls dan Kades Babokerong
Kegiatan tersebut menghadirkan sebanyak yakni pembicara utama yakni Prof. Enny Sudarmonowati, Prof. Andre Drenth, Dr. Arnaud Costa, Eng Lucio Marcel Gomes dan Prof. Barry Pogson.
Rektor Undana, Prof.Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D saat membuka forum tersebut mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap para pembicara utama yang hadir pada saat itu.
• Perempuan dengan Keterbelakangan Mental Tewas Terkubur di Pekarangan Rumah, Ini Penjelasan Polisi
Prof. Fredrik menyebut, Undana dengan beberapa universitas di dua negara, Australia dan Timor Leste memiliki kegiatan rountable meeting, yang telah dilaksanakan 4 tahun silam.
Dalam pertemuan itu, ungkap Prof. Fred, masing-masing universitas telah menetapkan pusat keunggulan atau Centre of Excellence (CoE). Undana sendiri telah memilih lahan kering kepulauan sebagai CoE.
Ditetapkan CoE karena kondisi NTT yang pada umumnya merupakan daerah kepulauan dengan lahan kering. Ia berharap CoE bisa berkontribusi bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim di lahan kering kepulauan.
"Seminar internasional ini diharapkan mampu menghasilkan pemikiran dan solusi alternative guna mengasi masalah lahan kering kepulauan," katanya.
Prof. Barry Pogson, Pengajar di Australian Natonal Universiti dan CRC Center for Excellence Australia, dalam paparannya menegaskan kembali bahwa saat ini plante bumi sedang mengalami perubahan iklim yang sangat parah.
"Perubahan perubahan iklim menghasilkan lebih dari sekedar perubahan suhu yang mengubah panjang waktu musim dan intensitas bulan," ujarnya.
Dikatakan ada begitu banyak bahaya perubahan iklim bagi manusia, diantaranya perubahan cuaca, perubahan perkembangan tananaman, pertumbuhan tanaman, dan perubahan keanekaragaman hayati.
Perubahan-perubahan itu, menurutnya, akan lebih berpengaruh pada hasil panen. Dan itu memiliki efek buruk yang banyak terhadap beragam tanaman. Selain itu, perubahan keanekaragaman hayati juga dapat memunculkan penyakit baru terhadap hewan maupun tumbuhan.
"Untuk tanaman kopi, pada tahun 2100 nanti, lebih dari 50 persen lahan yang digunakan untuk menanam kopi tidak akan lagi subur. Karena itu, perlu keberlanjutan lahan dan hasil pertanian yang lebih baik," ungkapnya.
Prof. Enny Sudarmonowati dari LIPI dalam penjelasannya menyebut biosekuriti penting untuk mencegah berkurangnya populasi spesies lokal akibat hama, penyakit, atau spesies asing invasif dari luar wilayahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/undana-kupang-gelar-konferensi-internasional-bahas-perubahan-iklim-di-ntt.jpg)