Gelar Konser di Kupang Jodie Disambut OMK dan Umat St. Fransiskus Xaverius Naimata
Jodie yang saat itu tampil mengenakan dress hijau lumut terlihat riang bercengkerama dan berselfie ria dengan OMK dan umat.
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
Gelar Konser di Kupang Jodie Disambut OMK dan Umat St. Fransiskus Xaverius Naimata
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Bianca Jodie Maurinne, jebolan Indonesia Idol 2018 tiba di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Minggu (10/11/2019).
Jodie tiba di Bandara El Tari Kupang, sekitar pukul 12.00 Wita, langsung disambut meriah oleh Orang Muda Katolik (OMK) dan sejumlah umat Stasi St. Fransiskus Xaverius.
Dalam kesempatan itu Jodie dikalungi sebuah selendang motif daerah NTT yakni dari daerah Manggarai.
Jodie yang saat itu tampil mengenakan dress hijau lumut terlihat riang bercengkerama dan berselfie ria dengan OMK dan umat.
Kepada POS-KUPANG.COM, Jodie mengatakan, ia hadir di Kota Kupang untuk menggelar konser di Hotel Cahaya Bapa, depan Gereja St. Yoseph Naikoten, Senin (11/11/2019) pukul 19.00 Wita.
"Ada sekitar tujuh lagu yang akan saya bawakan. Saya sangat bahagia bisa hadir di Kota Kupang. Orang-orangnya ramah dan Ceria," katanya.
Jodie katakan, jadwalnya manggungnya cukup padat namun ia sangat berkeinginan menggelar konser di Kota Kupang, mengingat konser tersebut dalam rangka galang dana untuk pembangunan Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang.
"Ini konser untuk galang dana pembangunan Gereja tentu saya sangat bersyukur, ini kesempatan yang baik bagi saya untuk melayani sesama dan Tuhan," ujar gadis kelahiran 30 Maret 1996 itu.
Usai diwawancarai POS-KUPANG.COM, Jodie pun kembali larut dalam keceriaan bersama OMK dan umat St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang.
Domikus Ancis, selaku panitia konser kepada POS-KUPANG.COM, katakan, umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang bersyukur Jodie bisa hadir untuk menggelar konser penggalangan dana tersebut.
"Tentu ini momen yang baik. Ini konser untuk gereja, bukan untuk bisnis. Jadi kami sangat berbahagia Jodie bisa hadir untuk membantu dan mendukung proses pembangunan Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang," kata Domikus.
Menurutnya, proses pembangunan Gereja tersebut, sudah di tahap akhir yakni finishing dan membutuhkan dana yang cukup besar.
Lanjutnya, Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang akan diresmikan oleh Mgr. Petrus Turang, Uskup Keuskupan Agung Kupang pada 14 Desember 2019.
Sementara itu, Apolonia Matilda Diu, salah satu umat Stasi St. Fransiskus Xaverius, berharap konser tersebut dapat berjalan lancar dan aman.
Menurutnya, segala persiapan menjelang konser sudah dipersiapkan dengan matang. Ia katakan, besok pagi atau siang sebelum konser, Jodie akan berkunjung ke Kantor Pos Kupang.
Kisah Unik Berdirinya Lahirnya Stasi Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata
Perjalanan iman umat dan pembagunan di stasi ini terbilang unik. Pasalnya penggagas lahirnya gereja tersebut bukan orang Katolik. Pertumbuhannya pun perlahan namun pasti.
Domikus yang ditemui POS-KUPANG.COM di Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata, beberapa waktu lalu mengisahkan tonggak lahirnya Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata dimulai pada tahun 1947.
Dikisahnkanya, ada seorang pedagang kayu bernama, Barnabas Bois (Almarhum) Nabas, sapaan akrab Barnabas bersama keluarga menetap di Naimata. Sebagai pedagang kayu Barnabas punya banyak kenalan termasuk kalangan tokoh agama, tidak terkecuali para tokoh agama Katolik yakni Pastor, biarawan-biarawati.
Suatu hari Barnabas bertemu dengan seorang Pastor yang berasal dari Belanda di Keuskupan Agung Kupang. Barnabas tertarik melihat sebuah Rosario yang dikenakan oleh Pastor itu. Tanpa ragu Barnabas meminta Rosario tersebut dan Pastor memberikan dengan senang hati.
Pengalaman kecil itu mengubah hidup Barnabas. Ia lebih intens berkomunikasi dengan para Pastor untuk belajar ajaran agama Katolik. Tidak sampai di situ, Ia pun lalu mengajar keluarganya dan orang-orang di sekitarnya di Naimata.
"Berkat ketekunannya dalam mengajar dan berdoa, Barnabas mendapat karunia menyembuhkan orang sakit. Pengalaman itu semakin membuat Bernabas yakin bahwa dia sedang berjalan di jalan yang benar untuk mencapai keselamatan," kata Domikus.
Bersama umat setempat Barnabas berjuang mendirikan gereja, yang kemudian diberi nama Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang. Awalnya gereja ini hanya disusun dari batu-batu tanpa semen dan beratap daun lontar, namun semangat umat untuk melaksanakan doa dan mengikuti perayaan Misa tidak surut.
Cerita tentang Nabas pun turun-temurun diwariskan kepada umat Stasi Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata. Nabas dikenal sebagai seorang yang giat mengajar ajaran agama Katolik, tokoh masyarakat dan penyembuh orang sakit.
Perjalanan Nabas membina iman umat tidak selalu mulus, banyak tantangan. Bahkan, kata Dominikus Nabas pernah diancam bunuh. "Jadi kalau dia mau mengajar biasanya ada keluarga yang mengawal beliau. Ada banyak tantangan yang ia hadapi namun ia tetap teguh," kata Domikus.
Umat Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata Saat Ini
Tonggak sejarah bertumbuhnya iman umat dan berdirinya Gereja St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang bukan cerita usang tanpa makna.
"Sampai saat ini kita akan sulit memahami bagaimana peristiwa kecil yang dialami oleh Barnabas membawa dampak yang luar biasa bagi pertumbuhan iman umat. Di situlah kita mengimani bahwa Allah sungguh berkarya," ungkap Dominikus.
Dominikus sendiri sulit membayangkan, bagaimana seorang pedagang kayu tanpa latar belakang pendidikan cukup, apalagi soal agama, mampu mengajar dan membuat Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata Kupang bertumbuh.
• Renungan Harian Kristen Minggu 10 November 2019 Bersih Adalah Pujian Terbesar Bagi Tuhan
• SMA Frateran Ndao Juara Lomba Pidato BINDO SMA/SMK Se-NTT
Sebagai umat Katolik Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata, Domikus berkeyakinan semangat Barnabas ada dalam diri umat Katolik di Naimata, sehingga sampai hari ini Stasi ini tetap kokoh.
Dikatakannya, jumlah umat Stasi Naimata mencapai 400 Kepala Keluarga (KK). Mereka datang dari berbagai latar belakang suku, budaya dan bahasa yang berbeda-beda.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)