Ditolak dan Diusir, Suka-Duka Yohanes Menangani Orang Gangguan Jiwa di Kecamatan Nita, Sikka

Ditolak dan diusir, suka-duka Yohanes menangani orang gangguan jiwa di Kecamatan Nita, Sikka

Ditolak dan Diusir, Suka-Duka Yohanes Menangani Orang Gangguan Jiwa di Kecamatan Nita, Sikka
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Pengelola program kesehatan jiwa Puskesmas Nita, Yohanes Don Bosco, menyampaikan materi dalam diskusi OGDJ, Sabtu (2/11/2019) di Aula St. Camilus Social Center, Kampung Misir, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Pulau Flores. 

Ditolak dan diusir, suka-duka Yohanes menangani orang gangguan jiwa di Kecamatan Nita, Sikka

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Suka duka dialami pengelola program kesehatan jiwa yang menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa ( ODGJ ) di Puskesmas Nita, 10 Km arah barat Kota Maumere, Pulau Flores. Saat ini terdata total 88 ODGJ di NIta, 69 tidak dipasung, delapan orang dilepas karena telah sehat dan tiga orang belum dilepas.

"Pernah ada pater dari Kamilian (Biara Kamilian) diusir. Awalnya juga kami ditolak, tapi lama-kelamaan mereka terima. Kami merasakan ada sesuatu. Hati yang bahagia, ketika saudara atau pasien bisa sembuh," kisah Yohanes Don Bosco, pengelola program kesehatan jiwa Puskesmas Nita, dalam diskusi bertajuk `Aku Juga Ingin Sehat,' Sabtu (2/11/2019) di Aula St. Camilus Social Center, Kampung Misir, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kota Maumere.

Formasi CPNS 2019 Kota Kupang Terbanyak untuk Tenaga Pendidikan

Os, sapan Yohanes Don Bosco mengakui gampang-gampang susah mengurus ODGJ Ia memuji Kamilian menjadi jejering yang hebat.

Dua tahun mengurus ODGJ , kata Os, sekeras-kerasnya ODGJ , dia tidak boleh dipasung. Dianjurkan dengan rumah aman, sebab kalau dipasung, mereka semakin stres. "Saya harapkan, kita pengelola jangan bosan-bosan," imbuh Os.

Datang ke KPK, Ini Jawaban Kapolri Idham Azis Saat Ditanya soal Kasus Novel Baswedan

Os menekankan, kunci menangani ODGJ pada keluarga yang harus menerima sanak keluarga ODGJ apa adanya. Sakit (ODGJ ) sama juga seperti yang lain. Dukungan sanak keluarga akan menentukan ODGJ mendapat kesembuhan.

"Paling urtama keluarga. Kita jangan malu. Masalah kami temui selama ini keluarga sangat tertutup dengan sanak anggota keluarga menderita ODGJ," ujar Os.

Os mengaku bahagia, dua tahun mengelola program ini telah ada hasil mengembirakan. Ia menyebut mantan ODGJ , Petrus Silvester asal Desa Tebuk, Kecamatan Nita selama 12 tahun dipasung.

"Enam bulan kami berikan obat-obat dari Puskesmas, Petrus sambuh. Petrus sadar, saya temanya waktu di SMPN Nita, padah saya juga sudah lupa-lupa" ucap Os. Petrus hadir dalam pertemuan hanya senyum-senyum.

Os mencontohkan mantan ODGJ , Nance yang menjadi lektor bacaan kedua perayaan misa sebelum diskusi hari sabtu. Nance menjadi contoh penanganan dan pendampingan ODGJ melalui rumah aman difasilitasi Biara St.Kamilian.

"Seperti Petrus, setelah kami berikan pengobatan tiga bulan pertama, kami lepas. Waktu lepas pertama, mungkin dia belum pulih, dia sendiri minta kepada saya pasung lagi. Dia mampu kenali sakitnya. Dia kenali waktu-waktu tertentu dia sakit. Namun saat ini dia sudah lepas," kata Os.

Penanganan ODGJ , diakui Os, mesti melibatkan semua elemen masyarakat. Ia mencontohkan Desa Nitakloang, Kecamatan Nita menjadi desa siaga sakit jiwa.

"Semua aparat desa dan tokoh-tokihnya berperan aktif untuk menangani ODGJ ," ucap Os. (laporan reporter pos-kupang. com, eginius mo'a).

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved