Proyek Air Di Nuabosi Terkendala Warga

Proyek air di Nuabosi,senilai Rp 4,7 Miliar terkendala oleh warga yang memiliki lahan yang tidak memberikan sumber mata airnya

Proyek Air Di Nuabosi Terkendala Warga
POS KUPANG/ROMOALDUS PIUS
Anggota DPRD Ende, Stefanus Bidhi 

Proyek Air Di Nuabosi Terkendala Warga

POS-KUPANG.COM|ENDE--Proyek air di Nuabosi, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende senilai Rp 4,7 Miliar terkendala oleh warga yang memiliki lahan yang tidak memberikan sumber mata airnya untuk diambil.

Kepala Dinas (Kadis) PU Kabupaten Ende, Ir.Frans Lewang mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com, Jumat (18/10/2019) ketika dikonfirmasi mengenai kendala proyek air di Nuabosi, Kecamatan Ende.

Frans mengatakan bahwa semua sarana terkait dengan proyek air tersebut sudah selesai baik itu pipa dan bak namun demikian air tidak bisa disalurkan karena ada warga yang tidak mengijinkan sumber mata airnya diambil.

Pihaknya akan terus melakukan pendekatan kepada warga agar mengijinkan sumbe mata airnya bisa diambil untuk disalurkan kepada warga lainnya.

Untuk diketaui proyek air di Nuabosi,Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, yang bersumber dari APBD Kabupaten Ende Tahun Anggaran 2017 lalu gagal diselesaikan akibatnya hingga kini masyarakat di daerah itu belum menikmati air bersih dari pelaksanaan proyek air minum itu.

Anggota DPRD Kabupaten Ende, Stefanus Bidi mengatakan hal itu kepada Pos Kupang.Com,Rabu (9/10/2019) di Ende.

Stefanus mengatakan bahwa pada tahun 2017 lalu ada proyek air minum bersih untuk desa-desa di dataran Nuabosi dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Ende sebesar Rp 4,7 Miliar.

Namun demikian proyek air minum dengan sasaran untuk Desa Ndetundora 1 dan Ndetundora 2 serta Ndetundora 3 dan Desa Randotonda serta Desa Embeteru yang semuanya di Kecamatan Ende gagal diselesaikan yang menyebabkan masyarakat di 5 desa tersebut tidak bisa menikmati air minum bersih hingga kini.

“Kami tidak apa masalahnya sehingga proyek itu gagal diselesaikan karena yang terlihat bahwa semua sarana pendukung yang terkait dengan air bersih seperti pipa dan juga bak air sudah ada namun demikian airnya tak kunjung keluar,” kata Stefanus.

Stefanus mengatakan bahwa sesuai dengan informasi yang dia dapatkan bahwa air tidak bisa keluar karena ada kesalahan tehknis perencanaan.

Oleh karena itu pihaknya mengharapkan kepada konsultan pengawas untuk bertanggungjawab karena dianggap tidak melakukan kajian secara benar.

“Wilayah Nuabosi berada di ketinggian semestinya bisa dikaji secara mendalam agar air bisa keluar jangan memaksakan diri yang justru merugikan masyarakat,”kata Stefanus.

Menurut Stefanus dengan besaran dana sebesar Rp 4,7 Miliar tentu akan lebih bermenfaat kalau dipergunakan untuk memasang pompa air guna menyedot air yang berada di dekat daerah Nuabosi dibandingkan harus mengambil air dari sumber mata air jauh yang justru menjadi mubasir seperti saat ini.

“Di Daerah Nuabosi ada sumber mata air yang letaknya memang berada jauh dibawah permukiman warga dan apabila di tempat tersebut dipasang pompa air tentu airnya bisa keluar apalagi dengan dana yang cukup besar sehingga bisa dibangun berbagai sarana pendukung moderen agar air bisa kelaur ,” kata Stefanus.

Trauma Kerusuhan Wamena, Adelheid Pilih Pulang Kampung

Pilkada NTT - Pemkab Manggarai dan Malaka Belum Setuju Dana untuk Bawaslu

Namun yang terjadi ujar Stefanus sumber air diambil dari tempat yang cukup jauh dari Nuabosi yang mengakibatkan air tidak keluar hingga kini.(Laporan Reporter Pos Kupang.com, Romualdus Pius)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved