Kepala Desa Pantae Bernadus Usfinit Diadukan ke Kejari TTU

pelaksanaanya tidak sesuai dengan RAB, serta upah bagi para pekerja yang sampai dengan saat ini belum dibayar semuanya.

Kepala Desa Pantae Bernadus Usfinit Diadukan ke Kejari TTU
POS KUPANG/THOMAS MBENU NULANGI
Dua orang warga Desa Pantae saat bertemu dengan Kasi Intel Mario Situmeang di ruangan Intel Kejari TTU, Kamis (17/10/2019). 

Kepala Desa Pantae Bernadus Usfinit Diadukan ke Kejari TTU

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU--Dua orang warga dari Desa Pantae, Kecamatan Biboki Selatan mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Timor Tengah Utara (TTU) pada, Kamis (17/10/2019) pagi.

Kedua warga tersebut datang ke Kantor Kejari Kabupaten TTU untuk mengecek tindak lanjut dari surat pengaduan tentang pengelolaan dana desa yang diserahkan oleh keduanya ke Kejari TTU beberapa waktu lalu.

Mereka mengadukan mengenai pengelolaan dana desa di desa itu dari tahun 2016 sampai tahun 2019 yang diduga syarat dengan praktik korupsi yang dilakukan oleh kepala Desa Pantae, Bernardus Usfinit.

Setelah tiba di Kantor Kejari TTU, kedua warga itu diterima langsung oleh Kasie Intel Kejari TTU, Mario Situmeang. Mereka lalu berdialog terkait dengan pengelolaan dana desa tersebut.

Salah seorang perwakilan warga Desa Pantae, Hilarius Maumabe mengatakan, banyak sekali dugaan praktik penyalagunaan pengelolaan dana desa di Desa Pantae.

Menurut Hilarius, sedikitnya ada enam poin yang dinilai tidak jelas pemanfaatan dana desanya seperti penyertaan modal ke Bumdes yang sampai saat ini tidak diketahui kegunaannya.

"Dananya cukup besar, tapi saya tidak tau pemanfaatannya untuk apa saja," ujarnya.

Hilarius mengungkapkan, kedua terkait pembangunan bedah rumah tidak layak huni sebanyak 15 unit dengan anggaran sebesar Rp. 22 juta lebih. Menurutnya, sampai saat ini proyek bedah rumah tidak layak huni tersebut belum selesai.

"Kemudian ada pengadaan ternak babi juga menggunakan dana desa. Kandang sudah kami buat, tapi babi sampai hari ini belum ada. Anakan babi itu nanti dibagikan kepada lima kelompok penerima di desa itu," jelasnya.

Selain itu, tambah Hilarius, ada proyek peningkatan jalan, dimana antara pelaksanaanya tidak sesuai dengan RAB, serta upah bagi para pekerja yang sampai dengan saat ini belum dibayar semuanya.

"Lalu ada juga pengerjaan embung yang kami nilai tidak sesuai dengan RAB karena embung itu bentuknya seperti kolam," terangnya.

Hilarius menambahkan, terkait dengan proyek reboisasi, dimana proyek tersebut setelah dilakukan penanaman anakan jambu, maka harus dilanjutkan dengan pengerjaan pagar.

"Tapi kenyataannya tidak dilanjutkan dengan pengerjaan pagar sehingga kami menilai bahwa proyek itu tidak tuntas. Kawat duri nya sudah ada tapi belum dikerjakan pagarnya," ujarnya.

Syahrini Lakukan Kesalahan Ini Reino Barack Panik, Sampai Mertuanya Tak Nafsu Makan!

Persebaya Mainkan Hansamu Yama dan Otavio Dutra, Robert Alberts Yakin pada Pemain Persib Bandung

Atas beberapa poin pengaduan tersebut, ungkap Hilarius, dirinya berharap pihak Kejari TTU dapat melakukan penyelidikan sehingga bisa diselesaikan secepatnya kasus tersebut. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved