Cegah Masuknya Virus African Swine Fever, Maxs U E Sanam Tawarkan Solusi

Cegah masuknya Virus African Swine Fever, Maxs U E Sanam Tawarkan Solusi

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA
Plt. Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang/Ketua PDHI Cabang NTT, Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. 

Cegah masuknya Virus African Swine Fever, Maxs U E Sanam Tawarkan Solusi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Timor Leste negara tetangga Indonesia, tengah dilanda virus African Swine Fever (ASF). Lembaga Kesehatan Hewan Dunia (OIE) sudah mengonfirmasi virus ASF di Timor Leste.

Sampel darah dari 400 ekor ternak babi yang terinfeksi dan 400 lainnya yang telah mati, dari hasil tes Lab Kesehatan Hewan Australia, ditemukan 41% positif kena ASF.

Rofinus Fanggidae, Pengguna Pertama Fuso Fighter di NTT

Virus tersebut menjadi ancaman bagi Indonesia, negara tetangga, terlebih Provinsi NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Plt. Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc, diwawancarai POS-KUPANG.COM, Rabu (2/10/2019) menjelaskan, ASF merupakan salah satu penyakit dalam bentuk virus.

Dijelaskannya virus ini menyebar begitu cepat dalam populasi ternak babi dan sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian (mortalitas) mencapai 100%. Lebih parah lagi, belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit ASF ini.

Hanya 97 ASN di Ende yang Memiliki Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa

Lanjutnya, virus ASF (African Swine Fever) merupakan virus dengan tipe DNA, eksklusif menyerang hewan jenis babi (liar maupun domestik/piaraan).

"Babi yang sakit mengeluarkan virus ASF dari berbagai lubang tubuh (mulut, hidung, anus) dan darah. Virus sangat tahan terhadap lingkungan. Virus di dalam tinja bisa bertahan hingga dua minggu," jelas Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) cabang NTT ini.

Ia mengatakan penularan penyakit ini bisa terjadi melalui kontak dengan hewan sakit atau pun kontak dengan benda-benda yang tercemar virus, termasuk melalui makanan.

Terkait pencegahan masuknya virus ASF tersebut ke NTT, kata Maxs Sanam, yang perlu dilakukan Pemda NTT yakni memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama masyarakat perbatasan Indonesia dengan Timor Leste agar tidak membawa masuk babi, maupun produk-produknya (daging baik segar maupun awetan) ke dalam wilayah peternakannya.

Lanjutnya, perlu berkoordinasi dengan Kementan via instansi teknisnya (Balai Karantina Pertanian/Hewan) untuk mencegah pemasukan atau pelintasan hewan babi dan produk-produknya masuk ke dalam wilayah NTT.

Selain itu, perlu dilakukan surveilance untuk mendeteksi keberadaan dini virus ASF di daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Dikatakannya, penyakit ASF hanya menyerang hewan babi, tidak menyerang hewan lainndan tidak juga menyerang manusia.

"Virus atau penyakit ini sejauh ini ditemukan di negara-negara Afrika Barat, dan sebagian kecil negara di Eropa (Italia). Beberapa negara pernah mengalami wabah namun sudah berhasil dieradikasi (diberantas) penyakitnya. Indonesia belum pernah dilaporkan ada," jelasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved