Jumat, 8 Mei 2026

Harga Tak Menentu, Petani Kelapa Sikka Enggan Olah Kopra

Tanaman kelapa dahulu menjadi primadona tanaman perdagangan petani di Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

Tayang:
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Warga Kampung Wajong Aur, Desa Koting B, Kabupaten Sikka, Senin (30/9/2019) menjempur kelapa dijadikan kopra. 

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Tanaman kelapa dahulu menjadi primadona tanaman perdagangan petani di Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

Namun hampir 10 tahun belakangan, kelapa bukan lagi menjadi tanaman primadona. Harga kopra yang tidak menentu membuat petani malas mengolah kelapa menjadi kopra. Petani cendrung menjual buah gelondongan Rp 1.000/buah.

Terlibat Pertengkaran, Pengawal Pribadi Raja Salman Tewas Ditembak

"Harga tidak menentu sama sekali. Saat ini harga berkisar Rp 3.000-Rp 4.000/Kg. Tahun-tahun lalu harga bisa sampai Rp 7.000-Rp 8.000/Kg," kata warga Desa Koting B, Kecamatan Koting, Yupensius Yanuarius, kepada pos-kupang.com, Senin (30/9/2019).

Ia menuturkan, harga kopra yang tidak menentu bila dihitung dengan ongkos pengolahan dan pemetikan maka hasil yang diperoleh akan habis diongkos.

DPRD NTT Kembali Jadwalkan Pelantikan Pimpinan Definitif

Menurut Yupensius, rencana pengolahan minyak kelapa yang akan dikerjakan KSP Kopdit Obor Mas Maumera diharapkan bisa mengatasi harga kopra yang tidak tentu.

"Sekarang, kelapa jatuh-jatuh di tanah juga jarang orang pilih dan dibiarkan begitu saja," ujar Yupensius. (laporan reporter pos-kupang.com, eginius mo'a)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved