Karantina Pertanian Ende Sertifkasi Sarang Walet Senilai Rp 1 Miliar, Ini Tujuannya

20 kg sample sarang burung walet ( SBW) asal Kabupaten Lembata telah diekspor ke Brunei Darussalam dan Thailand pada, K

Penulis: Romualdus Pius | Editor: Ferry Ndoen
zoom-inlihat foto Karantina Pertanian Ende Sertifkasi Sarang Walet Senilai Rp 1 Miliar, Ini Tujuannya
istimewa
PERIKSA/Petugas karantina Ende Wilayah Kerja Lembata, Philippus Haru Memeriksa Sarung Burung Walet Sebelum Dikirim Ke Jakarta.

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM,ENDE--Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Ende di Wilayah Kerja Lembata mencatat hingga September 2019 sebanyak 0,095 ton sarang burung walet dengan nilai ekonomi Rp. 1 miliar telah disertifikasi untuk dilalulintaskan antarpulau kemudian diekspor ke sejumlah negara.

Demikian iniformasi yang diterima Pos Kupang.Com dari staf pada Kantor Karantina Pertanian Ende, Usep Usman Nasrulloh, Minggu (22/9/2019) di Ende.

Usep mengatakan 20 kg sample sarang burung walet ( SBW) asal Kabupaten Lembata telah diekspor ke Brunei Darussalam dan Thailand pada, Kamis (19/9/2019).

Mengutip apa yang dikatakan Kepala Karantina Pertanian Ende, Yulius Umbu Hunggar saat melepas 20 kg sample ekspor SBW asal Lembata ke Brunei Darussalam dan Thailand di Ende, Kamis (19/9/2019) menyatakakan setelah dilakukan sertifikasi maka produk pertanian yang juga dikenal dengan sebutan "liur emas" ini telah dijamin kesehatan dan keamanannya sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Menurutnya, kualitas sarang burung walet dari Pulau Lembata ini sangat baik dan banyak digemari, pasalnya langsung diambil dari gua.

"Karena langsung dari alam, kekhasannya ini yang dicari para konsumen pasar dunia," ujarnya.
Namun, SBW yang berasal dari rumah walet juga dapat diterima paska peninjauan oleh pembeli dari Tiongkok.
"Ini peluang juga, kita dorong peningkatan produksi SBW artifisial ini, agar mampu tembus pasar yang lebih luas.Hambatan telah kami petakan dan kami terus koordinasi untuk mencarikan solusinya," kata Yulius sebagaimana dikutip Asep Usman Nasrolloh.

Pelatih Maung Bakal Awasi Dua Pemain Lawan saat Persib Bandung vs Persipura Jayapura, Ini Pemain?

"Kami berharap dengan potensi yang ada serta menarik bagi investor, kedepan ekspor SBW asal Lembata dapat langsung dikirim ke negara tujuan ekspor,”ujarnya.

SBW yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk kesehatan dan kecantikan. SBW yang memiliki nama latin Collocalia vestita ini biasanya dari Lembata dikirim ke Jakarta dan Surabaya dalam bentuk mentah. Selanjutnya diolah agar dapat memenuhi persyaratan ekspor,ujar Asep.

Asep mengatakan saat digelar diskusi kelompok terpumpun atau Focus Group Discussion bertajuk Percepatan Investasi Pertanian oleh Badan Karantina Pertanian di Jakarta (18/9/2019), industri SBW di Ende telah menarik calon investor dari dalam negeri.

Investor langsung dihadirkan untuk mendapat arahan langsung baik dari Kepala Badan Karantina Pertanian, para narasumber dari BKPM dan Kadin juga dari para pelaku usaha SBW yang tergabung dalam beberapa organisasi.
Petugas Karantina Pertanian Ende di Wliker Lembata, Phillpus Maru menyatakan harga jual di tingkat petani sebesar Rp 10 juta per kilogram bahkan lebih untuk kualitas yang baik.

Di Lembata, juga terdapat satu dusun dengan sebutan dusun walet, SBW dijadikan usaha sampingan oleh seluruh penduduk di desa,ujar Philippus sebagaimana diungkapkan oleh Asep. (rom)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved