Ini Penjelasan Dinas PUPR Nagekeo Soal Laporan Masyarakat Woloede
Warga Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo melakukan protes terhadap kontraktor pekerjaan jalan menggunakan rabat beton
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
Ini Penjelasan Dinas PUPR Nagekeo Soal Laporan Masyarakat Woloede
POS-KUPANG.COM | MBAY -- Warga Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo melakukan protes terhadap kontraktor pekerjaan jalan menggunakan rabat beton pada ruas jalan Sawu –Mulakoli Kabupaten Nagekeo.
Mereka melakukan protes karena diduga ada kejanggalan dalam proses pengerjaan jalan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Nagekeo, Primus Nuwa, ST mengaku pihaknya sudah mendengarkan informasi dan laporan masyarakat tersebut.
Primus mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan PPK supaya ditindaklanjuti.
"Saya sudah komunikasi dengan PPK nya untuk tindak lanjut laporan masyarakat," ujar Primus, ketika dikonfirmasi POS-KUPANG.COM, Kamis (19/9/2019).
Kirim Surat Aduan kepada Bupati dan DPRD Nagekeo
Sebelumnya, beberapa warga dari Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo melakukan protes terhadap kontraktor pekerjaan jalan menggunakan rabat beton pada ruas jalan Sawu –Mulakoli Kabupaten Nagekeo.
Protes terhadap kontraktor tersebut disampaikan lewat surat aduan kepada Bupati dan DPRD Nagekeo dan release pers yang diberikan kepada sejumlah wartawan di Mbay, Rabu (18/9/2019) setelah satu hari sebelumnya telah memberikan pengeluhan ke DPRD serta wakil Bupati Nagekeo.
Menurut penjelasan warga ruas jalan yang dikerjakan oleh oleh CV. Tisan dengan konsultan pengawas C.V Rancang Indah, sepanjang 754 meter dengan nilai kontrak sebesar Rp.848.705.729,33, terdapat kejanggalan.
"Pada saat peragaan tanggal 3 september 2019 yang dihadiri oleh kontraktor, dinas PU dan konsultan pengawas, komposisi bahan campuran, pembangunan terdiri dari satu bagian semen, 3 bagian kerikil 2/3 dan 3 pasir, namun kenyataannya bahan campuran tersebut sudah dicampur di tempat lain dengan eksavator dan dibawah ke lokasi pekerjaan, bukan dicampur di lokasi kegiatan, secara kasat mata tidak berkualitas campuranya, ini ada apa, padahal tempatnya luas dan memungkinkan untuk proses pencampuran," ungkap Hubertus Bule.
Warga lain Yosep Mola juga menduga ada konspirasi soal proyek pekerjaan jalan ini, pasalnya pada dokumen penawaran yang tercantum dalam data LPSE Nagekeo, dukungan perlatan seperti Vibro, Greder, Truk Tangki Air, tidak terlihat dalam pekerjaan mulai dilakukan.
"Padahal kami tahu tanah di daerah kami ini sangat labil, kalau tanpa dukungan alat untuk pengerasan lebih dahulu dasarnya maka otomatis pekerjaan itu tidak bertahan lama, kontraktor bilang berdasarkan Contract Change Order (CCO), menurut kami baru mulai kerja langsung CCO, maka ada perencanaan yang salah," papar Yosep.
Menurut Yosep warga harus mengawasi pekerjaan jalan di sekitar desa mereka karena sudah pernah terjadi pekerjaan- pekerjaan rabat beton yang tak dawasi dengan baik oleh warga maka akan dikerjakan dengan kualitas buruk.
Selain itu menurut Yosep warga sudah kesal karena puluhan tahun sejak Indonesia merdeka jalan menuju desa mereka tak diperhatikan secara baik padahal daerah mereka di bawah kaki gunung Ebulobo dengan komoditi unggulan seperti cengkeh dan pala serta tanaman peerkebunan lainnya.