Jumat, 17 April 2026

Luar Biasa Intimidasi Diterima 900 Pekerja Migran Asal NTT di Kutai Timur

Miris menyaksikan nasib 900-an pekerja migran asal Propinsi NTT di perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Wahana Tritunggal

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Rosalina Woso
Silvester Nong Manis untuk pos-kupang.com.
Ratusan pekerja migran dan anak-anak asal Propinsi NTT di penampungan Aula Kantor Camat Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. 

Luar Biasa   Intimidasi Diterima 900  Pekerja Migran  Asal  NTT di  Kutai Timur

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--Miris menyaksikan  nasib  900-an pekerja  migran  asal Propinsi  NTT di perusahaan  perkebunan  kelapa  sawit PT  Wahana  Tritunggal  Cemerlang  (WTC)  dan PT  Inovasi.

Pekerja terbanyak di  PT  WTC sejumlah 612  orang dan di P Inovasi sekitar  200-300-an  orang.

Manajemen  perusahaan  memanfaatkan  para preman  dan  komunitas adat setempat memaksa para pekerja  keluar  dari  kamp penampungan pekerja  hari  Minggu  (15/9/2019).

“Hari Minggu itu datanglah   segerombolan orang  yang mengaku sebagai  kepala suku   dari komunitas adat setempat   mengultimatum para pekerja  keluar  dari  camp,”  kata    Silvester  Nong Manis, S.H, dari  Lembaga  Bantuan  Hukum  (LBH) Varitas,  mengubungi  pos-kupang.com,Rabu  (18/9/2019) pagi  dari  Kutai  Timur.

Silvester menjelaskan, pekerja migran  dominan asal  Kabupaten  Manggarai, Sikka, Adonara  (Flores   Timur), Kupang dan Ende, saat itu  diberik waktu  3x24  jam harus   tinggalkan camp pekerja.

‘Kami  berusaha mediasi dengan  bantuan  tokoh-tokoh  asal NTT dengan  warga setempat, tetapi  tidak  bisa. Dari  pada terjadi  akibat lebih  buruk,  hari Minggu  (15/9/2019),   kami tinggalkan  kamp,” kisah  Silvester yang tiba di  lokasi  hari  Jumat  (13/9/2019).

Ratusan  pekerja  migran bersama anak-anak, bayi, balita  dan   ibu  hamil tinggalkan camp  dan  menginap  di  Aula  Kantor Camat Karangan,  Kabupaten Kutai  Timur.

Kondisi  pekerja migran, dilukiskan Silvester, menyedihkan terutama bayi, balita dan  ibu  hamil. Camat Karangan merelakan  aula  kantor  camat, namun ia tak  mampu  membiayai kehidupan  para pekerja migran selama di penampungan.     

“Untuk makan  dan minum, mereka patungan  dari  beras satu  dua kilogram. Mereka  cari air  sendiri  lalu masak dan makan  bersama-sama,” kisah Silvester.

Sampai  hari keempat  di  tempat penampungan sementara,  kata Silvester, para  pekejran  migran  masih memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka   belum  minta bantuan  akomodasi  ke pihak manapun.

“Saya   sudah  bicara  dengan pak  Camat Karangan supaya  kasih  kami  waktu sekitar  satu  minggu  lagi,”  kata  Silvester.

Feri Amsari Nilai Presiden dan DPR Tak Pedulikan Masukan Publik soal Revisi UU KPK

Upacara Serah Terima Pataka, Kapolda NTT Irjen Hamidin Apresiasi Kamtibmas NTT

Ia  mengkhawatirkan kondisi kesehatan pekerja  migran  terutama anak-anak, bayi, balita  dan ibu  hamil.  Cepat atau lambat, kata   Silvester, kehidupan di  penampungan  yang  sangat minim  fasilitas  untuk   tinggal,   mereka terserang penyakit.  Silvester  berencana menyurati  para bupati dan  Gubernur NTT  menyampaikan kondisi  pekerja migran ini.  (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Euginius Mo’a

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved