Rabu, 6 Mei 2026

BREAKING NEWS : Remaja 12 Tahun Ini Tewas Usai Digigit Anjing Rabies

beberapa hari di RSUD Ben Mboy, Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Namun keluarga AP memutuskan membawa pulang AP ke rumah.

Tayang:
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.com/Dok. DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KAB. DOMPU
Petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu sedang melakukan vaksinasi pada anjing peliharaan warga. 

BREAKING NEWS : Remaja  Manggarai  Timur  Tewas Dimangsa Rabies

POS-KUPANG.COM|MAUMERE - Kematian digigit  anjing  rabies kembali  menimpa  warga   Kabupaten Manggarai Timur, Pulau  Flores.  Remaja pria, FL (12) tahun  akhirnya  meninggal  dunia, Selasa (3/9/2019) sekitar  pukul 07.55 Wita.

Sekretaris Komite  Rabies Flores-Lembata,  dr.Asep  Purnama, Sp.D,    kepada  pos-kupang.com, mengatakan, korban  sempat dirawat  beberapa  hari  di RSUD Ben Mboy,  Kota  Ruteng,  Kabupaten Manggarai. Namun  keluarga AP memutuskan membawa  pulang AP ke rumah.

“Secara  medis sangat sulit menolong penderita rabies yang sudah muncul gejala khas rabies, aerophobia (takut udara) dan hydrophobia (takut air) seperti pada kasus AP ini,” tulis Asep Purnama.

BREAKING NEWS : Usai Masa Jabatan, Jefri Un Banunaek Langsung Dibawa ke Kejati NTT

Pasaran Pisang Malaka Tembus Pasar Daratan Timor

Kaki Lumpuh Alat Vital Digigit Anjing Rabies hingga Nyaris Habis

Kisah Pilu Remaja 19 Tahun Asal NTT! Kaki Lumpuh Alat Vital Digigit Anjing Rabies hingga Nyaris Habis.

Seorang remaja berusia 19 tahun diterkam anjing rabies yang semakin ganas di Nagekeo, NTT.

Setelah beberapa hari lalu, seekor anjing dengan ganas menggigit hidung seorang kakek di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, kali ini kembali anjing dengan brutal menggigit buah zakar seorang pria dewasa berusia 19 tahun yang beralamat di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Korban tidak mampu memberi perlawanan kepada anjing, karena mengalami lumpuh di kedua kakinya.

Keterangan dihimpun POS-KUPANG.COM, Jumat (23/9/2019) menyebutkan seluruh buah zakarnya terkoyak hebat.

Orangtua korban sudah membawa pemuda lajang tersebut ke rabies center untuk mendapatkan penanganan maksimal.

Lukanya dicuci dengan air mengalir dan sabun, diberi Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR).

Nampaknya perlu dilakukan pembedahan lebih lanjut terkait lukanya yg cukup besar.

Sekretaris Komite Rabies Flores-Lembata, dr Asep Purnama, Spd, menegaskan kasus gigitan ini menjadi contoh kasus bahwa anjing peliharaan sendiri secara tiba-tiba menggigit sang pemilik.

"Jangan pernah membiarkan anjing anda tidak di-vaksin rabies. Karena anjing yang tidak divaksin rabies sama dengan teroris, sewaktu-waktu akan menebar ancaman kematian," imbau Asep Purnama.

Pria Maumere Digigit Anjing Peliharaan Ternyata Positif Rabies

Inilah akibatnya menolak anjing peliharaan disuntik Vaksin Anti Rabies (VAR).

Pria di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, digigit anjing rabies, Senin (19/8/2019).

Pemeriksaan Balai Besar Veteriner Bali (BBVet) di Denpasar, Kamis (22/8/2019) menyimpulkan gigitan anjing tersebut positif rabies.

Informasi dihimpun pos-kupang.com, Jumat (23/8/2019) menegaskan pemilik anjing ini beberapa waktu lalu pernah melarang vaksinator memvaksin anjingnya.

"Kalau anjing tidak divaksin, anjing tidak mempunyai kekebalan terhadap virus rabies dan ketika digigit anjing rabies, maka virus rabies berkembang biak di dalam tubuh anjing yang tidak divaksin itu. Ketika muncul gejala rabies, anjing akan beringas dan menggigit siapa saja termasuk tuan sendiri," ujar Sekretaris Komite Rabies Flores-Lembata, dr Asep Purnama SPd kepada POS-KUPANG.COM, Jumat (23/8/2019).

Jika anjing tidak divaksin rabies, kata Asep Purnama, anjing di daerah endemis rabies sangat berisiko tertular rabies akan menebar ancaman kematian kepada siapa saja, termasuk kepada pemiliknya.

"Pemerintah sudah peduli menyiapkan vaksin rabies secara gratis. Siapkan anjing kita masing-masing. Kita sambut dan dukung vaksinator anjing. Pekerjaan mereka sangat berisiko tinggi digigit anjing saat melakukan tugasnya," imbau Asep Purnama. (laporan wartawan pos-kupang.com, eginius mo'a)

Gigitan Hewan Rabies di Manggarai Timur, Sudah 2.401 Kasus, 13 Orang Meninggal Dunia

POS-KUPANG.COM | BORONG - Dalam 10 tahun terakhir sejak tahun 2009 hingga 2019 ada 2.401 kasus akibat gigitan hewan penular rabies, terjadi di Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Dari jumlah itu ada 13 orang telah meninggal dunia usai terkena gigitan.

Kadis Kesehatan Matim, dr. Surip Tintin yang ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (5/8/2019) siang, menjelaskan, kasus gigitan hewan rabies setiap tahun terus meningkat dan sejak tahun 2009.

"Sesuai data ada 2.401 kasus akibat gigitan hewan penular rabies. Korban meninggal dunia terakhir pada tahun 2018 sebanyak satu orang dan tahun 2019 periode Januari hingga Juni sebanyak 400 kasus," kata Kadis Tintin.

Dia mengungkapkan, Matim dan pulau Flores umumnya merupakan daerah endemik rabies maka itu untuk pengendalian zoonosis lebih difokuskan pada upaya menanggulangi penyakit Rabies.

"Pemerintah tentu berkewajiban untuk menjada dan melindung agar masyarakat tidak ancaman penyakit zoonosis. Rabies adalah penyakit hewan menular yang akut bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia ) dan sulit diberantas. Sekali muncul gejala klinis penyakit rabies pada penderita baik pada hewan maupun manusia selalu diakhiri dengan kematian. Bahaya rabies ini akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas, rasa takut serta keresahan masyarakat pada umumnya," ujar Kadis Tintin.

Ia mengatakan, ke depan perlu ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk memberantasnya.

"Kegiatan eliminasi pernah dilaksanakan mulai tahun 2009 sampai tahun 2013 dengan jumlah anjing yang dieliminasi sebanyak 5.550 ekor sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang kegiatan eliminasi dihentikan dan hanya dilaksanakan melalui vaksinasi masal setiap tahun. Pertumbuhan populasi hewan penular Rabies di Kabupaten Matim Timur kurang terkendali ditambah dengan pola pemeliharaan yang kurang tertib merupakan potensi yang besar bagi penyebaran penyakit Rabies," paparnya.

Dia mengatakan, ada masalah dalam upaya penanggulangan rabies di antara lain, kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan Rabies masih rendah dan pola pemeliharaan HPR yang kurang tertib serta kasus gigitan HPR tersangka Rabies cukup tinggi sementara persediaan VAR terbatas. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COK, Aris Ninu)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved