Stiven dan Natalia Ajak Kaum Milenial Lestarikan Alam
Dua siswa, Stiven dan Natalia merupakan peserta kegiatan ekoliterasi dari SMPN 1 Bajawa
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | MBAY -- Dua siswa, Stiven dan Natalia merupakan peserta kegiatan ekoliterasi dari SMPN 1 Bajawa.
Kedua mengaku sangat senang mengikuti kegiatan di alam bebas tepatnya di puncak bukit Nangge Mba'a, di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada.
Stiven mengatakan sangat senang bisa turun langsung ke alam. Kegiatan ini sebagai bentuk menanamkan nilai cinta pada alam kepada generasi muda yang nota bene pemilik masa depan.
• Barang Bukti Ini Jadi Petunjuk Temuan Mayat Pria di Pinggir Parit
"Saya mengajak kaum milenial agar mencintai alam dan memberi dukungan pada semua pihak yang dengan gigih menjaga dan melestarikan alam, meski sulit karena menghadapi dengan kebiasaan merusak, seperti budaya membakar hutan yang sering melanda wilayah ini," ujar Stiven ketika menghubungi POS-KUPANG.COM, Senin (2/9/2019).
Sementara siswa lainnya, Natalia mengatakan sebagai generasi penerus, kami tidak ingin kehilangan masa depan yang disebabkan kejahatan merusak alam.
• Sialan! Ngebut Mau Padamkan Kebakaran, Eh Mobil Damkar Terbalik, Simak Kisahnya
Karena, tegas Natalia menganalogikan, kehilangan masa depan tidak sama dengan kehilangan dalam pemilihan umum atau pun rugi dalam pasar saham.
Tetapi, lanjut Natalia dalam suara lantang, kehilangan masa depan itu berpengaruh pada hancurnya alam yang berarti hancurnya atau hilangnya kehidupan dan keutuhan ciptaan.
Itu sebabnya, Natalia mengajak para milenial agar terus mengangkat isu ini dan mengingatkan banyak orang, agar terus menbuhkkan budaya cinta alam.
"Dan kepada para pelaku kejahatan terhadap alam, atas nama kaum milenial pemilik masa depan, saya menyerukan dengan tegas agar stop sudah membakar hutan dengan tujuan murahan sesaat dan menolak perilaku kejahatan terhadap alam," papar Natalia.
Natalia juga minta perhatian kepada pemerintah agar serius menangani persoalan lingkungan dan berupaya mencegah upaya merusak alam termasuk dalam balutan investasi. Selain itu menindak para perusak alam yang terus semaunya mengeksploitasi alam.
"Perilaku masyarakat yang membakar hutan terutama untuk tujuan kesenangan sesaat melalui berburu, harus dihentikan. Karena bencana akibat ulah manusia telah menyebabkan rusaknya ekosistim dan punahnya spesies kehidupan di wilayah Wolomeze," papar Natalia. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)