Hadok: Tinju Tradisional Lembata yang Harus Dilestarikan Generasi Muda
Di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata ada tradisi tinju tradisional yang oleh masyarakat setempat disebut Hadok.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata ada tradisi tinju tradisional yang oleh masyarakat setempat disebut Hadok. Tinju adat ini cukup terkenal di daratan Lembata. Di luar tanah asalnya, Hadok sering disuguhkan sebagai sebuah atraksi budaya.
Seperti pada perhelatan Festival 3 Gunung misalnya. Bahkan, pada saat promosi festival tahunan ini di Jakarta pada 5 Mei 2018, Hadok turut ditampilkan di sana.
Tokoh adat Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Petrus Ata Tukan, menuturkan tinju tradisional ini biasa dimainkan pada saat syukur panen kebun yang ada hubungannya dengan rumah adat.
• Undana Akan Mewisuda 1.012 Lulusan, Simak Lulusan Termuda dan 10 Orang Lulus dengan Predikat Pujian
"Jadi kalau padi itu saatnya untuk panen, nanti ada acara pendahuluan, kegiatan ini sebagai tanda syukur," kata Petrus di sela-sela acara NTT Fashion Carnaval di Pantai Harnus, Kamis (29/8/2019) sore.
Lebih lanjut Petrus menambahkan selain masyarakat Desa Atakore, Hadok juga sering dimainkan di Desa Lerek, Atawolo, Lamanuna, Waiwejak, Awulolong dan Lewogroma, dan kampung-kampung di timur Atadei. "Tidak semua Atadei. Di bagian Kalikasa tidak ada."
Sejak masyarakat percaya ada leluhur yang lebih tinggi yang menentukan hasil panen, tanda syukur itu dinyatakan dengan permainan Hadok. Masyarakat petani percaya ada Karya Ilahi yang memberikan mereka hasil panen secara cuma-cuma. Jadi perayaan Hadok ini erat kaitannya syukur pada Sang Khalik.
• Pernyataan Panglima TNI Tentang Penanganan Kasus Papua
Sampai sekarang, Hadok masih dipertontonkan di wilayah Atadei dalam atraksi-atraksi. Namun, kata Petrus Hadok yang seharusnya ada pada saat pembukaan kebun-kebun besar dan rumah adat baru mulai melenceng dari aslinya. Musababnya adalah biaya membukan kebun besar dan rumah adat itu cukup mahal.
"Itu yang buat orang enggan."
Hadok punya aturan mainnya sendiri. Dua individu yang bertinju hanya boleh memukul ke arah wajah musuh, dilarang saling memeluk, tidak bisa menggunakan kaki, menggigit lawan dan memukul dari atas kepala. Sasarannya hanya bagian wajah saja.
"Ada kubu timur dan barat, lalu orang saling meminta saja. Dengan cara pergi menyentuh dia, dan kalau dia balik dan setuju lalu mulai saja," sebutnya.
Selama duel, ada pelerai yang bertugas memperhatikan para petinju. Sedangkan masyarakat lainnya melantunkan syair-syair lagu penyemangat bagi para petinju.
Selain sebagai sebuah atraksi, Hadok yang ditampilkan dalam Festival 3 Gunung ini bisa semakin memasyarakatkan Hadok di kalangan anak muda. Dia akui Hadok mulai ditinggalkan sehingga harapannya atraksi sejenis bisa memacu semangat anak muda Atadei melestarikan Hadok. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/hadok-tinju-tradisional-lembata-yang-harus-dilestarikan-generasi-muda.jpg)