Begini Cara Jeff Bezos, Orang Terkaya di Dunia Mengubah Washington Post dari Rugi Jadi Untung

Begini Cara Jeff Bezos, Orang Terkaya di Dunia Mengubah Washington Post dari Rugi Jadi Untung

Begini Cara Jeff Bezos, Orang Terkaya di Dunia Mengubah Washington Post dari Rugi Jadi Untung
KOMPAS.com/SHUTTERSTOCK/Lev Radin
Pendiri dan CEO Amazon Jeff Bezos. 

Begini Cara Jeff Bezos, Orang Terkaya di Dunia Mengubah Washington Post dari Rugi Jadi Untung

POS-KUPANG.COM | NEW YORK - Bos Amazon, Jeff Bezos, membeli Washington Post pada tahun 2013 yang ketika itu dalam keadaan memprihatinkan. Hanya dalam waktu tiga tahun, tangan dingin orang terkaya di dunia ini berhasil membawa Washington Post mencetak keuntungan.

Tak hanya itu dia pun berhasil melipatgandakan traffic alias kunjungan ke situs media itu. Mantan pemilik Washington Post, Donald Graham mengatakan, perbedaan Bezos dengan CEO lainnya bukan karena bakatnya yang cepat menghasilkan, tetapi karakternya untuk berpikir dalam jangka panjang.

Seperti dikutip dari CNN, Minggu (18/8/2019), Graham bercerita bahwa dirinya merupakan konsumen Amazon saat sedang mencari pemilik baru Washington Post.

Lihat Baik-baik, Ini Isi Lengkap Rencana Aturan Blokir Ponsel Black Market Menurut Kominfo

"Saya pernah mendengar orang menuduh Jeff dan Amazon dengan banyak hal. Ada yang mengatakan saham Amazon terlalu mahal, Amazon akan bangkrut," kata Graham.

Setelah berbicara dengan Bezos, impresi pertamanya adalah betapa bagusnya kinerja Amazon.

Dia pun memuji karakter Bezos yang mempunyai pemikiran jangka panjang untuk kesuksesan Amazon. Setelah dua puluh empat tahun berdiri, valuasi Amazon mencapai hampir 900 miliar dollar AS.

Kemudian September 2018, Amazon untuk pertama kalinya menembus valuasi 1 triliun dollar AS. Hal ini mengikuti Apple sebagai perusahaan bernilai 1 triliun dollar AS.

KM Mina Sejati Dibajak Sesama ABK, Polisi Menduga Ada Masalah Internal

Bakat Bezos di bidang teknologi juga menarik bagi Graham. Menurut dia, salah satu kendala keluarganya untuk masa depan Washington Post adalah kurangnya pengetahuan terhadap teknologi.

"Kami tidak memiliki keterampilan teknologi dari para pakar teknologi," kata Graham.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved