Sabtu, 11 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 17 Agustus 2019, 'Mengingat Kasih Tuhan'

Renungan Harian Kristen Protestan Sabtu 17 Agustus 2019, 'Mengingat Kasih Tuhan'

Editor: Eflin Rote
dokumentasi pribadi
Pdt Dina Dethan Penpada MTh 

Renungan Harian Kristen Protesan

Sabtu, 17 Agustus 2019

Oleh  Pendeta Dina Dethan Penpada, MTh

--

“Memanggil kembali ingatan-ingatan tentang Kasih Setia Tuhan pada Masa Lalu”

Hari ini Daud mengundang kita untuk masuk ke dalam pergumulan beratnya melalui Mazmur 13, yaitu sebuah mazmur ratapan.

Daud yang dikenal gemar memuji Allah kali ini bukan dalam keadaan yang penuh iman dan bersuka datang kepada Allah, tetapi kali ini ia datang menyampaikan kekosongan hatinya, kepiluan hatinya, karena ia merasa seolah-olah Allah telah meninggalkannya dalam kesendirian.

Dalam ketakutan dan kegelapan yang paling kelam Daud mengatakan bahwa Allah telah melupakan dan menyembunyikan wajahNya. Daud berseru dalam pilu dan mengutarakan perasaannya yang terdalam. "Berapa lama lagi. TUHAN, Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"

Daud tidak berhenti pada ratapannya, ia memohon dengan gigih (ay. 4-5) "Pandanglah kiranya, dengarlah aku, ya TUHAN, Allahku!" Jika sebelumnya Daud merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya, sekarang ia memohon agar Allah memandang padanya.

Jika sebelumnya Daud merasa Allah melupakannya, kini ia memohon agar Allah menjawab dan mendengarnya.

Daud "berani" memohon kepada TUHAN sebab ia memandang TUHAN sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat-Nya Hal ini nyata ketika Daud untuk pertama kalinya dalam mazmur ini menyebut TUHAN sebagai, Allahku" (ay 4a) Di sini ia mengklaim bahwa Tuhan adalah Allahnya secara personal/pribadi Dengan demikian, Daud memiliki hakuntuk memanggil dengan keyakinan kokoh bahwa ia akan didengarkan.

Setelah memohon, "pandanglah,""jawablah," dengan keyakinan yang sama Daud memohon lagi,, "Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dalam kematian" (ay 4b) Mata yang redup melambangkan habisnya kekuatan memohon agar TUHAN membuat matanya bercahaya, Daud sedang memohon agar diberikan kekuatan baru dan kelepasan dari maut yang mengancamnya.

Jika di bagian pertama berulang kali Daud berseru, "Berapa lama lagi?" dalam bagian ini ia memohon dengan gigih. Hal ini tampak bukan hanya dari tiga kata seru, "Pandanglah bercahaya!" tetapi juga dari alasan Daud, "Supaya jangan musuhku berkata Aku telah mengalahkannya,' dan lawanku bersukacita atas kejatuhanku" (ay 5). Daud meletakkan bebannya pada Allah dan ia mengalami hatinya terangkat dari penjara ketakutan kepada pujian dan penyembahan.

Permohonan Daud menghasilkan kesegaran di tengah kesesakan (ay. 6) Daud dipojokkan oleh musuh-musuhnya, didera sakit- penyakit, dirundung maut, dan seolah-olahditinggalkan"Allah.

Tetapi tiba-tiba ia berbalik arah. Kesedihannya sirna seperti embun yang diterangi cahaya mentari. Matanya berseri-seri lagi, tangannya mengepal dengan kekuatan, mulutnya penuh dengan tertawa, dan lidahnya penuh dengan sorak-sorai, “Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersukacita di dalam keselamatan-Mu, aku hendak bernyanyi kepada TUHAN, karena la melimpahkan kebaikan padaku” (ay.9)Daudberdiri dan meminyaki rambutnya, mengenakan jubah rajanya dankembali dan mengambil alat- alat musiknya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved