Briptu Heidar Disandera KKB Papua 7 Jam dan Gugur Ditembak di Organ Vital, Simak Kronologi

Briptu Heidar, anggota polisi gugur disandera KKB di Puncak Papua, sempat dihajar hingga ditemukan sejumlah luka tembakan di bagian vital.

Briptu Heidar Disandera KKB Papua 7 Jam dan Gugur Ditembak di Organ Vital, Simak Kronologi
FAcebook/Deffrian
Briptu Heidar 

1. Aparat TNI dan Polri masih berjaga - jaga di TKP, dan sebagian anggota TNI dan Polri masih melaksanakan pengejaran.

2. Kerugian, 1 personil anggota Satgas Nemangkawi Polda Papua Briptu Haidar meninggal dunia

3. Langkah - langkah yang di ambil,

a. Dari pihak pemerintah Bapak Sekda sudah berusaha untuk berkoordinasi dengan kelompok KKSB agar kembali ke NKRI.

b. Dari pihak pemerintah sudah mengutus orang untuk masuk kedalam dan berkoordinasi agar supaya kelompok ini menyerahkan diri.

C. Dari pihak aparat baik TNI dan Polri sudah sepakat untuk lebih berhati - hati dan apabila ada pertemuan kembali dari anggota dengan kelompok KKSB harus berkoordinasi dengan semua aparat yang ada di Ilaga.

Bupati Kabupaten Puncak telah berkoordinasi dengan Pihak Pelaku serta meminta agar anggota tersebut tidak di Eksekusi.

Penjelasan Kabid Humas Papua: Dipanggil Teman Warga Setempat

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal, memaparkan, kejadian tersebut bermula pada Senin (12/8/2019) pukul 11.00 WIT.

Briptu Heidar dan Bripka Alfonso Wakum sedang melaksanakan tugas penyelidikan di wilayah Kabupaten Puncak dengan mengendarai sepeda motor.

Saat melintas di Kampung Usir, Briptu Heidar dipanggil oleh temannya yang merupakan warga setempat, sehingga Bripka Alfonso memberhentikan kendaraannya.

Selanjutnya, Briptu Heidar menghampiri temanya tersebut sedangkan Bripka Alfonso menunggu di atas motor.

Pada saat Briptu Heidar mengobrol dengan temannya tersebut, tiba-tiba sekolompok orang datang dan langsung menyeret Briptu Heidar ke semak-semak.

Setelah kejadian tersebut, Bripka Alfonso langsung kembali dengan sepeda motor dan melaporkan peristiwa tersebut ke pos polisi di Kago, Kabupaten Puncak.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Pol Rudolf Rodja membenarkan jenazah Briptu Heidar sudah ditemukan.

Ia mengungkapkan, jenazah Briptu Heidar kini dievakuasi ke Puskesmas Ilaga.

“Benar, (Briptu Heidar) sudah meninggal,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Rodja, Senin (12/8/2019) petang.

Briptu Heidar, anggota Polri yang gugur diserang KKB, Senin (12/8/2019) di di Kampung Usir, dekat Kampung Mudidok, Kabupaten Puncak, Papua. Foto mendiang 6 Agustus 2019.
Briptu Heidar, anggota Polri yang gugur diserang KKB, Senin (12/8/2019) di di Kampung Usir, dekat Kampung Mudidok, Kabupaten Puncak, Papua. Foto mendiang 6 Agustus 2019. (FACEBOOK/Deffrian)

Penjualan Amunisi ke KKB

Aktivitas KKB di Papua memang sudah kerap meresahkan sejumlah pihak, terutama TNI dan Polri. Kelompok separatis ini kerap menyerang anggota TNI dan Polri.

Namun, di tengah upaya TNI dan Polri memberantas jaringan KKB Organisasi Papua Merdeka (OPM), ada saja oknum TNI yang mencoreng perjuangan tersebut.

Tiga oknum itu, Pratu DAT, Pratu M, dan Pratu O ternyata bekerja sama dengan OPM, di mana ketiganya memasok ratusan amunisi kepada KKB.

Dandim 1710/ Mimika Letkol Pio L Nainggolan memastikan bila amunisi yang dijual Pratu DAT kepada jaringan KKB OPM bukan berasal di gudang amunisi Kodim Mimika.

Pratu DAT saat digiring ke Mobil Tahanan milik Pomdam XVII/Cenderawasih.
Pratu DAT saat digiring ke Mobil Tahanan milik Pomdam XVII/Cenderawasih. (Istimewa)

Meski demikian, Pio tidak mengetahui sumber amunisi itu berasal dari mana, sebab saat ini kasus yang melibatkan Pratu DAT sudah ditangani Pomdam XVII/Cenderawasih.

"Saya yakin amunisi tersebut bukan dari Kodim Mimika," kata Pio, Sabtu (10/8/2019).

Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto, melalui rilis, Selasa (6/08/2019) mengatakan, tindakan Pratu DAT ini telah membuat citra negatif bagi institusi TNI AD, khususnya Kodam XVII/Cenderawasih.

Proses hukum terhadap tersangka dipastikannya akan berjalan, tidak hanya dari sisi hukum militer, tetapi hukum pidana umum.

"Kami akan melakukan tindakan tegas terhadap yang bersangkutan, sesuai UU Darurat No 12 Tahun 51, Pratu DAT dapat dikenai sanksi hukuman maksimal hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun," kata dia.

Pratu DAT, sambung Eko, juga terancam dipecat dari keanggotaan sebagai prajurit TNI AD.

Riwayat Pratu DAT

Menurut Pio, berdasarkan hasil pengecekan riwayat Pratu DAT selama bertugas di Kodim Mimika, DAT tidak pernah terlibat dalam latihan menembak senjata ringan.

Kemudian di daftar distribusi amunisi, DAT tidak pernah menerima.

DAT sendiri baru bertugas di staff TU Kodim Mimika selama 1 tahun 11 bulan.

"Saya tidak bisa melakukan pendalaman lebih jauh karena anggota ini lari di mana statusnya saat itu tidak hadir tanpa izin," ujar Pio.

Pratu DAT akhirnya berhasil ditangkap di Sorong, Papua Barat, pada 4 Agustus 2019, setelah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) selama 2 minggu.

Proses penangkapan tersangka DAT dimulai sejak pukul 02.15 WIT.

Saat itu, tim Gabungan melaksanakan pengendapan dan pengintaian terhadap DPO di sebuah rumah Jalan Jenderal A Yani KM 8 Melati Raya Kompleks, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong.

Setelah menerima informasi dari sumber tertutup, pukul 08.02 WIT, DPO ditangkap ketika sedang mengikuti acara kedukaan.

Dari hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan di Makodim 1802/Sorong, diperoleh keterangan bahwa DAT pada 24 Juli 2019 menggunakan kapal perintis dari Kabupaten Mimika menuju Kabupaten Dobo dan selanjutnya menginap selama 2 hari di Kompleks Kerangpante.

Kemudian, pada 29 Juli 2019, Pratu DAT menggunakan KM Tidar dari Dobo menuju ke Kota Sorong dan tiba pada 1 Agustus 2019.

Selama berada di Sorong, Pratu DAT menginap di beberapa tempat secara berpindah-pindah.

Pratu DAT menginap selama 1 malam di Arteri, kemudian pukul 23.00 WIT berpindah ke rumah rekannya Neken, sampai akhirnya Pratu DAT ditangkap dan diamankan pada pukul 08.02 WIT.

Selain Pratu DAT, dua oknum prajurit TNI Pratu O dan Pratu M juga sudah menjadi tersangka kasus tersebut. 

Ketiganya menjual ratusan amunisi kepada warga yang diamankan oleh Satgas Nemangkawi di Jalan Cenderawasih Depan Diana Shooping Center, Kabupaten Mimika, Juli lalu.(*)

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Kronologis Briptu Heidar Disandera KKB Papua 7 Jam dan Gugur Ditembak, Ternyata Ia Dijebak!, https://bangka.tribunnews.com/2019/08/13/kronologis-briptuheidar-disandera-kkb-papua-7-jam-dan-gugur-ditembak-ternyata-ia-dijebak?page=all.

Editor: teddymalaka

Editor: Agustinus Sape
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved