Ini Puisi Ketua Majelis Sinode GMIT yang Dibacakan di Depan Ahok BTP

Ini Puisi Ketua Majelis Sinode GMIT Mery Kolimon yang Dibacakan di Depan Ahok BTP

Ini Puisi Ketua Majelis Sinode GMIT yang Dibacakan di Depan Ahok BTP
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Ahok, ketua DPD Partai PDIP NTT Emi Nomleni, Ansi Lema menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum Talk Show di Kantor DPD PDIP NTT, Selasa (13/8/2019) 

Ini Puisi Ketua Majelis Sinode GMIT Mery Kolimon yang Dibacakan di Depan Ahok BTP

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Ketua Majelis Sinode ( MS) GMIT , Pdt. Dr. Mery Kolimon, S.Th membaca sebuah puisi di depan Basuki Tjahja Purnama ( BTP) alias Ahok.

Puisi ini dibacakan Pdt. Mery saat berdialog dengan Ahok di Hotel Naka, Selasa (13/8/2019).

Pantauan POS-KUPANG.COM, sekitar pukul 14.30 wita dialog berlangsung kurang lebih dua jam.

Begini Reaksi dan Tanggapan Ahok BTP Saat Diminta Jadi Gubernur NTT

Saat diberi kesempatan, Pdt. Mery menyampaikan beberapa hal terkait masalah yang dialami Ahok.

Sebelum mengakhiri pernyataan, Pdt. Mery membacakan sebuah puisi.
Begini bunyi puisi itu
Puisi itu berjudul Selamat Datang Kembali Pak Ahok.
Lalu mereka bertanya padaku seperti apa kita mesti memaknai bebasmu
kembali?
Ini jawabku:
Kami menyukuri 24 Januari 2019 saat dirimu kembali menghirup udara
merdeka di negeri yang kita sebut Indonesia, rumah kebhinekaan yang kita bangun dan jaga bersama agar makin lestari makin bersatu, adil dan beradab.
Matahari masih akan bersinar
Kau masih akan jadi berkat bagi banyak orang
Dengan talenta yang Tuhan berikan bagimu.
Negeri ini bersyukur memilikimu, teguh pada prinsip, melayani publik dengan keberpihakan yang jelas pada hak-hak masyarakat.
Di sana kau pernah berdiri, memberi sebuah inspirasi gemilang tentang bagaimana seharusnya menjadi pejabat public.
Menjadi gubernur di ibu kota republic ini,
Walau tak panjang, kau ukir karyamu dengan tinta emas.
Kau beri inspirasi bagi kami semua orang Kristen di negeri ini.
Kita bisa memberi terbaik bagi bangsa ini
Dengan karakter, dengan integritas.
Jatuhmu memberi kami pelajaran: belajar mengartikulasikan lebih baik bahasa kita di ruang public lintas agama.
Para pejabat public jaga ucapan, kelola emosi, melangkah dengan pertimbangan.
Ada ketidakadilan di proses hukummu, itu kami rasa
Tapi pada akhirnya kita semua harus tunduk pada hukum sebagai panglima (rule
of law).
Lalu banyak yang ribut
Kenapa bercerai
kenapa menikah (terlalu cepat) lagi?
Bagiku, semua rumah tangga punya beban masing-masing.
Siapakah kami untuk merasa punya hak mengambil batu dan melemparmu?
Beta hanya bisa berdoa
Kiranya suara hatimu tetap jernih agar mampu mendengar suara Tuhan dalam di
kalbu
Saat banyak bisikan kau dengar, saat gaduh kau hadapi.
Kiranya kau dapat juga energi untuk berpulih, Hok.
2 tahun di penjara, proses sampai terpenjara
adalah proses-proses traumatis yang melukaimu dan keluargamu.
Harga itu terlalu mahal
dan itu harus kau dan keluargamu tempuh dengan segala resikonya
Kiranya kami tak terlalu gampang mengambil batu untuk melemparmu.
Ku kirim doa dari hiruk pikuk bangsa hari ini
Dengan harapan demokrasi akan tetap kuat di negeri kita
Anak-anak muda dan semua yang berkehendak baik
Tetap menjaga optimisme untuk Indonesia yang lebih baik. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved