Gigitan Hewan Rabies di Manggarai Timur, Sudah 2.401 Kasus, 13 Orang Meninggal Dunia

Gigitan Hewan Rabies di Manggarai Timur, Sudah 2.401 Kasus, 13 Orang Meninggal Dunia

Gigitan Hewan Rabies di Manggarai Timur, Sudah 2.401 Kasus, 13 Orang Meninggal Dunia
POS-KUPANG.COM/Aris Ninu
Kadis Kesehatan Matim, dr. Surip Tintin 

Gigitan Hewan Rabies di Manggarai Timur, Sudah 2.401 Kasus, 13 Orang Meninggal Dunia

POS-KUPANG.COM | BORONG - Dalam 10 tahun terakhir sejak tahun 2009 hingga 2019 ada 2.401 kasus akibat gigitan hewan penular rabies, terjadi di Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Dari jumlah itu ada 13 orang telah meninggal dunia usai terkena gigitan.

Kadis Kesehatan Matim, dr. Surip Tintin yang ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (5/8/2019) siang, menjelaskan, kasus gigitan hewan rabies setiap tahun terus meningkat dan sejak tahun 2009.

BREAKING NEWS: Calon Mahasiswa PNK Kupang NTT Jatuh dari Lantai 3 Gedung Teknik Mesin Meninggal

"Sesuai data ada 2.401 kasus akibat gigitan hewan penular rabies. Korban meninggal dunia terakhir pada tahun 2018 sebanyak satu orang dan tahun 2019 periode Januari hingga Juni sebanyak 400 kasus," kata Kadis Tintin.

Dia mengungkapkan, Matim dan pulau Flores umumnya merupakan daerah endemik rabies maka itu untuk pengendalian zoonosis lebih difokuskan pada upaya menanggulangi penyakit Rabies.

Gara-gara Mati Lampu Listrik PLN di Jawa dan Bali, Polri Lakukan Investigasi

"Pemerintah tentu berkewajiban untuk menjada dan melindung agar masyarakat tidak ancaman penyakit zoonosis. Rabies adalah penyakit hewan menular yang akut bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia ) dan sulit diberantas. Sekali muncul gejala klinis penyakit rabies pada penderita baik pada hewan maupun manusia selalu diakhiri dengan kematian. Bahaya rabies ini akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas, rasa takut serta keresahan masyarakat pada umumnya," ujar Kadis Tintin.

Ia mengatakan, ke depan perlu ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk memberantasnya.

"Kegiatan eliminasi pernah dilaksanakan mulai tahun 2009 sampai tahun 2013 dengan jumlah anjing yang dieliminasi sebanyak 5.550 ekor sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang kegiatan eliminasi dihentikan dan hanya dilaksanakan melalui vaksinasi masal setiap tahun. Pertumbuhan populasi hewan penular Rabies di Kabupaten Matim Timur kurang terkendali ditambah dengan pola pemeliharaan yang kurang tertib merupakan potensi yang besar bagi penyebaran penyakit Rabies," paparnya.

Dia mengatakan, ada masalah dalam upaya penanggulangan rabies di antara lain, kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan Rabies masih rendah dan pola pemeliharaan HPR yang kurang tertib serta kasus gigitan HPR tersangka Rabies cukup tinggi sementara persediaan VAR terbatas. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COK, Aris Ninu)

Penulis: Aris Ninu
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved