Innalillahi! Kabar Duka Datang dari Indro Warkop DKI, Pendiri Warkop Meninggal Dunia Kamis Pagi
Innalillahi! Kabar Duka Datang dari Indro Warkop DKI, Pendiri Warkop Meninggal Dunia Kamis Pagi
Penulis: Bebet I Hidayat | Editor: Bebet I Hidayat
Tiga pokok tuntutan mahasiswa dalam aksi itu; pertama, pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional.
Aksi kedatangan Tanaka kemudian meluas di beberapa tempat lainnya di Jakarta. Ironinya, terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan. Mobil dan motor buatan Negeri Sakura itu, dibakar massa. Asap mengepul di segala penjuru. Peristiwa itu, akhirnya dikenal dengan ‘Malari 74’, kependekan dari Malapetaka Lima Belas Januari 1974.
Saat berlangsung unjuk rasa anti Tanaka, Wahjoe Sardono alias Dono berada di antara kerumunan massa di kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat. Dengan membawa kamera, ia berupaya mendekati podium. Dono meraih mikrofon, lantas menyorongkannya kepada Rektor UI Prof. Mahar Mardjono untuk berorasi di hadapan massa.
Dono tidak hanya ikut aksi demo. Ia juga sibuk memotret semua peristiwa aksi. Banyak wartawan yang sudah mengenalnya sebagai pelawak di Radio Prambors. Kepada salah satu media di Jakarta, Dono mengatakan dengan berkelakar,”Tadinya saya punya niat untuk ikut demonstrasi yang dibayar.” “Saya kan terkenal. Jadi kalau demonstrasi bisa cepet ngumpulin banyak orang. Kan, lagi krisis, wajar kalau orang nyari duit,” kelakar Dono kepada wartawan.
Usai peristiwa Malari 1974, Warkop Prambors tetap mengudara dengan guyonan lucunya. Tahun 1976, barulah Indro bergabung. Ia sudah mengenal empat anggota Warkop Prambors. Maklum, rumahnya dekat dengan studio. Jika ada yang siaran sendiri, ia yang menemaninya. Saat itu, Indro masih kelas 3 di SMA 4 Jakarta.
Kasino yang mengajak Indro untuk mulai permanen di acaranya. Saat itu, sedang ada pertandingan softball. Indro menjadi pemain sekaligus tukang soraknya. “Ndro, nanti malam elu mulai permanen. Mau nggak?” tanya Kasino seusainya.
Indro langsung menerima ajakannya. Tak hanya di acara itu, Indro mulai diajak show Warkop.
Formasi acara obrolan di warung kopi menjadi lima orang. Kasino, Nanu, Rudy Badil, Dono, dan Indro.
Tak ayal, acara ini kian ramai. Masing-masing punya perannya sendiri. Kasino kadang berganti nama menjadi Acing dan Acong dengan logat China. Nanu menjadi Poltak yang beraksen Batak. Rudy Badil berganti nama menjadi Mr James dan Bang Kholil.
“Gue berperan sebagai Mastowi, Ubai dan Ashori dengan aksen Purbalingga. Sedangkan Dono sebagai Mas Slamet,” kata Indro.
“Pokoknya, semua isi obrolan bebas banget. Tentang apa aja,” kata Indro. Nama kelompok mereka disebut dengan julukan Warkop Prambors.
Pentas kali pertama tahun bulan September 1976, saat pesta perpisahan SMP 9 Jakarta di Hotel Indonesia. Hasilnya dikatakan belum berhasil.
Tak lama kemudian, Warkop diundang di acara IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka bertemu dengan Mus Mualim, seorang pemain musik ‘Indonesia Lima’. Mus berencana membuat acara untuk tahun baru 1977 di TVRI.
Warkop ditawarin untuk nyanyi bareng oleh Mus Mualim. Nama acaranya Terminal Musikal, tempat anak muda yang mangkal di TVRI .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/indro-warkop-dki.jpg)