Debit Air Berkurang, Luasan Tanaman Padi Berkurang Di MT 2

Luasan area tanaman padi untuk musim tanam ke dua (April -September) berkurang lebih dari setengah luasan dibandingkan MT1.

Debit Air Berkurang, Luasan Tanaman Padi Berkurang Di MT 2
POS-KUPANG.COM/ DION KOTA
Kadis Pertanian Kabupaten TTS, Otniel Neonane 

Debit Air Berkurang, Luasan Tanaman Padi Berkurang Di MT 2

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | SoE- Luasan area tanaman padi untuk musim tanam ke dua (April -September) berkurang lebih dari setengah luasan dibandingkan MT1.

Hal ini menyusul menurunnya debit air Musim kemarau.

Dari potensi fungsional lahan basah seluas 2500 Ha, luas area yang ditanam pada MT 2 hanya seluas 750 Ha.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTS, Otniel Neonane kepada pos kupang.com, Sabtu (28/6/2019) di seputaran Kota Soe. Otniel mengatakan, pada MT 1 luas area tanaman padi mencapai 2.410 Ha dan saat ini sebagian besar sudah panen.

Puluhan Tahun Warga Puar Miteng Kabupaten Manggarai Timur Kesulitan Air Bersih

Namun untuk MT 2, luas area tanam harus berkurang karena debit air di bendung linamnutu dan kali Oelmina mulai menurun karena musim kemarau.

"Untuk MT2 luas area tanam di Linamnutu 400 Ha dan dataran Bena 350 Ha sehingga total 750 Ha. Tahun lalu pada saat MT 2 dari 400 Ha area sawah di dataran Bena ada 50 Ha lahan yang gagal panen karena kekurangan air. Oleh sebab itu tahun ini kita kurangi area tanamnya menjadi 350 Ha," ungkap Otniel.

Untuk lahan yang tidak bisa ditanami padi karena kekurangan air, Otniel menyarankan agar para petani menanam tanaman hortikultura, baik sayuran, kacang-kacangan maupun jagung.

"Kita sudah himbau kepada para petani yang lahannya hanya sedikit mendapatkan air bisa menanam tanaman hortikultura jika tetap bisa menghasilkan," ujarnya.

Dampak Kekurangan Air Bersih Akibat Musim Kemarau Belum Dirasakan

Ketika disinggung terkait jadwal tanam petani di TTS yang tidak mengikuti kelender tanam, Otniel tidak menampik hal tersebut. Molornya waktu tanam pada MT 2 akan memperbesar ancaman gagal panen pada MT2.

Pengolahan lahan yang terlambat baik pada MT 1 dan MT2 disebabkan karena ketersediaan alat pertanian khususnya traktor yang tidak memadai.

Idealnya, 1 traktor mengolah 5 Ha lahan, namun yang terjadi di TTS 1 traktor mengolah 10 Ha bahkan lebih.

"Jujur saja jumlah traktor kita jauh dari cukup. Untuk 2500 Ha lahan sawah, kita baru memiliki 182 traktor. Padahal idealnya kita harus memiliki 700 traktor," jelasnya. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved