Minggu, 26 April 2026

Mengenal Tatong, Alat Musik Dawai Khas Suku Kedang Lembata

Mengenal Tatong, Alat Musik Dawai Khas Suku Kedang di Kabupaten Lembata

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Musisi Tatong, Fransiskus Lema sedang memainkan alat musik khas Suku Kedang dalam sebuah acara adat di Desa Benihading II, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Selasa (25/6/2019). 

Mengenal Tatong, Alat Musik Dawai Khas Suku Kedang di Kabupaten Lembata

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Masyarakat Suku Kedang Kabupaten Lembata memiliki alat musik tradisional yang diwariskan turun temurun sejak dahulu kala. Alat musik itu bernama Tatong dan sampai hari ini masih sering dimainkan dari generasi ke generasi.

Di beberapa pentas seni dan festival budaya tingkat kabupaten, Tatong sudah sering dimainkan oleh para musisi dari Kedang.

Lihat Banyak Rumah Masyarakat Tidak Layak Huni, Dandim Alor tak Bisa Menahan Air Mata

Pada tahun 2016, Andreas Dewa, salah satu seniman yang giat memperkenalkan Tatong, bahkan pernah memainkan alat ini dalam sebuah festival seni dan budaya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Dalam sebuah acara adat di Desa Benihading II, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Selasa (25/6/2019), Pos Kupang menyaksikan langsung bagaimana Tatong dimainkan mengiringi tarian 'titi jagung' yang dibawakan beberapa orang penari putri.

Ratusan Hektar Lahan Garam Tidur di Tanjung Darat, Sikka

Diiringi pukulan gendang, bunyi Tatong terdengar unik dan khas meski dia hanya terdiri dari empat senar.

Dawai atau senar Tatong merupakan irisan dari badan bambu. Untuk membagi bunyi nada, sepotong kayu dijadikan pemisah semacam fret pada alat musik gitar.

Tatong dimainkan dengan cara dipetik. Bisa dipetik dengan jari tetapi bisa juga dengan bantuan pick yang terbuat dari bambu.

Fransiskus Lema berkata alat musik berusia ratusan tahun ini sering dimainkan di wilayah Kedang. Tatong sudah ada sejak nenek moyang orang Kedang yang menempati Gunung Uyelewun.

Sebagai upaya pelestarian, Tatong juga diajarkan di sekolah-sekolah di Kedang. Katanya, anak-anak di Kedang juga pandai bermain Tatong.

Eman Ubuq selaku masyarakat adat menceritakan pada zaman dulu, alat musik ini dimainkan untuk memuja dewa Wula Loyo (dewa matahari).

Eman melanjutkan alat musik ini lebih tua dari alat musik Sasando dari Pulau Rote dan sudah ada sebelum masyarakat Kedang mengenal gong dan gendang. Kehadiran alat musik gong dan gendang sempat menggerus Tatong dan beberapa alat musik tradisional asli Kedang seperti edang, peku, dan nureng (seruling).

Pasalnya, gong dan gendang yang dibawa masuk bersamaan dengan masuknya penjajah sekitar tahun 1700-an dianggap oleh orang Kedang sebagai barang mewah dan berharga.

"Gong dijadikan belis (mahar). Gong jadi bagian dari belis sampai sekarang," kata Eman.

Dalam kebudayaan Kedang, ada istilah
'edang tatong lia nama' yang secara harafiah berarti memainkan edang tatong untuk bertandak dan menari.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved