BMKG Selaku Siap Mendukung Ketahanan Pangan di NTT dengan Sekolah Lapang Iklim

Lembaga BMKG Selaku Siap mendukung Ketahanan Pangan di NTT dengan Sekolah Lapang Iklim

BMKG Selaku Siap Mendukung Ketahanan Pangan di NTT dengan Sekolah Lapang Iklim
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Suasana sekolah lapang iklim yang dilaksanakan oleh BMKG Stasiun Kelas II Kupang di Hotel Ima Kota Kupang, Kamis (23/5/2019). 

Lembaga BMKG Selaku Siap mendukung Ketahanan Pangan di NTT dengan Sekolah Lapang Iklim

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Badan Metereologi dan Geofisika ( BMKG) Klimatologi Kelas II Kupang siap mendukung program ketahanan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI).

Hal itu dikatakan oleh Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Apolonaris Geru saat memberikan sambutan dalam SLI-Sosialisasi Agroklimatologi Provinsi NTT di Kupang, di Hotel Ima Kota Kupang, Kamis (23/5/2019).

Bupati Ngada: Banyak Program Pemda Ngada Dibawah Paket Mulus yang Masih Berjalan

"Kami senantiasa mendukung upaya Ketahanan Pangan di NTT. Selain memberikan informasi Iklim cepat, tepat dan akurat kepada para petani untuk menanam, kami juga melaksanakan SLI," ungkapnya.

SLI tersebut, kata Apolonaris, menghadirkan sejumlah penyuluh pertanian dan petani dari berbagai Kabupaten di NTT. "Usai mengikuti sekolah ini, mereka diharapkan bisa mendampingi masyarakat memahami informasi iklim yang dikeluarkan oleh BMKG," ungkapnya.

Dua Berkas Tersangka Kasus Korupsi Landscape Kantor Bupati TTS Dilimpahkan ke Kejaksaan

Ia mengatakan informasi iklim yang dikeluarkan BMKG kadang sulit dipahami oleh masyarakat karena sangat ilmiah dan teknis. Untuk itu para penyuluh dan petani yang mengikuti SLI diharapkan bisa memberikan penjelasan dalam bahasa yang lebih sederhana kepada masyarakat.

"BMKG sudah memiliki alumni SLIantara 500-600 orang yang tersebar di seluruh NTT yang terdiri dari petugas Dinas Pertanian, PPL, babinsaTNI serta para petani dan mereka berpartisipasi memberikan informasi yang dikeluarkan BMKG sehingga bisa menyesuaikan waktu menanam," ungkapnya.

Sementara itu, Hery Tirto Djatmiko selaku Kepala Bidang Diseminasi Infomasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG mengatakan, sudah banyak negara luar yang mengadopsi SLI, sebagai salah satu upaya ketahanan pangan, salah satunya Timor Leste dan beberapa negara barat.

Ia menjelaskan, dalam skala nasional wilayah Nusa Tenggara Timur dipandang sebagai daerah yang kering. Namun di sisi lain, harus diakui ada sejumlah daerah di NTT yang menjadi lumbung pertanian.

"Saya kira informasi iklim BMKG harus dimanfaatkan secara baik. Kalau tidak yang tidak ada guna. Informasi iklim yang cepat dan akurat akan sangat membantu petani. Jadi saya harap yang sudah ikut SLI bisa tetapkan dan bagikan ilmu ke masyarakat," ungkapnya.

Migdon Abolla, selaku Pelaksana Tugas (PLt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mengapresiasi peran aktif BMKG dalam mendukung program ketahanan pangan di NTT seturut tugas dan fungsi mereka.

Ia berharap BMKG bisa terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pihak terkait agar masyarakat NTT khususnya petani bisa meningkatkan produktivitas pertanian. "Apa yang kita lakukan ini merupakan tugas mulia. Kita menjaga keberlanjutan hidup kita sendiri dan hidup orang lain, hidup kita bersama," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan kekwatirannya akan hama belalang yang mengancam Pulau Sumba."Saat ini hama belalang tersebar di 30 titik di Pulau Sumba. Kita tentu prihatin dan sampi saat ini kita belum mampu mengatasinya," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved